PILIHAN
Wah! Pemadaman Karhutla di Pulau Rangsang Harus Tunggu Air Pasang
Riauin.com, Pekanbaru - Puluhan personil yang tergabung dalam tim darat satuan tugas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Riau mengandalkan air laut dalam melakukan pemadaman
"Malam ini 20-an personil kita bersama TNI, Polri dibantu masyarakat melakukan pemadaman dengan sumber air laut," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Meranti, Muhammad Edy Afrizal di Pekanbaru seperti dilansir dari antara, Sabtu (15/10/2016) malam.
Pemadaman yang memanfaatkan air laut baru dapat dilakukan pada malam hari karena kondisi air sedang naik. Sementara pada siang hari, hal itu tidak dapat dilakukan mengingat kondisi permukaan laut yang surut.
Dia menjelaskan, jarak antara bibir pantai dengan air laut pada saat surut mencapai 1,5 kilometer, sehingga pada siang hari hal itu tidak memungkinkan untuk dilakukan.
Saat malam tiba, permukaan air laut meninggi sehingga dengan mudah personil menyedot air menggunakan mesin untuk pemadaman lahan gambut yang diperkirakan mencapai 50 hektare itu.
Meskipun demikian, pemadaman melalui jalur darat diakuinya kurang maksimal. Alhasil, kebakaran gambut yang terjadi sejak Selasa lalu (11/10) terus meluas hingga ke tiga desa di kawasan Kecamatan Rangsang Pesisir, Pulau Rangsang tersebut.
"Akan tetapi kita terus berupaya maksimal, karena pemadaman juga dibantu dengan pengeboman air menggunakan helikopter," ujarnya.
Lebih jauh, Edy menggambarkan, saat ini cuaca di Meranti cukup panas dengan angin kencang, dengan hari tanpa hujan mencapai lebih dari satu bulan. Hal tersebut menyebabkan gambut di wilayah Meranti yang terdiri dari kepulauan di Timur Riau menjadi kering dan sangat mudah terbakar.
Namun begitu, ia menginformasikan pada Sabtu malam ini, hujan terpantau mulai turun di Meranti dan meluas hingga ke Pulau Rangsang. Dia berharap, hujan dapat membantu pemadaman kebakaran gambut yang terkenal sulit dikendalikan itu.
Foktor udara yang dilaporkan tim udara Satgas Karhutla Riau saat melakukan pemadaman siang tadi, terlihat asap tebal menyelimuti bagian pesisir Pulau Rangsang yang terletak di pinggir Selat Malaka itu. Wilayah tersebut terkesan menjadi lautan asap yang tentu saja dikhawatirkan dapat menimbulkan penyakit bagi warga setempat. (red)
"Malam ini 20-an personil kita bersama TNI, Polri dibantu masyarakat melakukan pemadaman dengan sumber air laut," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Meranti, Muhammad Edy Afrizal di Pekanbaru seperti dilansir dari antara, Sabtu (15/10/2016) malam.
Pemadaman yang memanfaatkan air laut baru dapat dilakukan pada malam hari karena kondisi air sedang naik. Sementara pada siang hari, hal itu tidak dapat dilakukan mengingat kondisi permukaan laut yang surut.
Dia menjelaskan, jarak antara bibir pantai dengan air laut pada saat surut mencapai 1,5 kilometer, sehingga pada siang hari hal itu tidak memungkinkan untuk dilakukan.
Saat malam tiba, permukaan air laut meninggi sehingga dengan mudah personil menyedot air menggunakan mesin untuk pemadaman lahan gambut yang diperkirakan mencapai 50 hektare itu.
Meskipun demikian, pemadaman melalui jalur darat diakuinya kurang maksimal. Alhasil, kebakaran gambut yang terjadi sejak Selasa lalu (11/10) terus meluas hingga ke tiga desa di kawasan Kecamatan Rangsang Pesisir, Pulau Rangsang tersebut.
"Akan tetapi kita terus berupaya maksimal, karena pemadaman juga dibantu dengan pengeboman air menggunakan helikopter," ujarnya.
Lebih jauh, Edy menggambarkan, saat ini cuaca di Meranti cukup panas dengan angin kencang, dengan hari tanpa hujan mencapai lebih dari satu bulan. Hal tersebut menyebabkan gambut di wilayah Meranti yang terdiri dari kepulauan di Timur Riau menjadi kering dan sangat mudah terbakar.
Namun begitu, ia menginformasikan pada Sabtu malam ini, hujan terpantau mulai turun di Meranti dan meluas hingga ke Pulau Rangsang. Dia berharap, hujan dapat membantu pemadaman kebakaran gambut yang terkenal sulit dikendalikan itu.
Foktor udara yang dilaporkan tim udara Satgas Karhutla Riau saat melakukan pemadaman siang tadi, terlihat asap tebal menyelimuti bagian pesisir Pulau Rangsang yang terletak di pinggir Selat Malaka itu. Wilayah tersebut terkesan menjadi lautan asap yang tentu saja dikhawatirkan dapat menimbulkan penyakit bagi warga setempat. (red)
Berita Lainnya
Arus Balik di Pelabuhan Selatpanjang Melonjak Dua Kali Lipat pada H+1 Lebaran
Perayaan Imlek di Meranti, Festival Perang Air Cian Cui Perkuat Pariwisata dan Keberagaman
Festival Perang Air Meranti Masuk Kalender KEN 2026, Digelar 17-22 Februari
Bantan Jadi Jalur Transit Narkoba? Nelayan dan Tokoh Masyarakat Serukan Aksi Tegas
Perempuan Melayu Kabupaten Meranti Gelar Halal Bihalal
Jelang Mudik Lebaran, Satpolairud Polres Meranti Cek Kelayakan Kapal Penumpang
Arus Balik di Pelabuhan Selatpanjang Melonjak Dua Kali Lipat pada H+1 Lebaran
Perayaan Imlek di Meranti, Festival Perang Air Cian Cui Perkuat Pariwisata dan Keberagaman
Festival Perang Air Meranti Masuk Kalender KEN 2026, Digelar 17-22 Februari
Bantan Jadi Jalur Transit Narkoba? Nelayan dan Tokoh Masyarakat Serukan Aksi Tegas
Perempuan Melayu Kabupaten Meranti Gelar Halal Bihalal
Jelang Mudik Lebaran, Satpolairud Polres Meranti Cek Kelayakan Kapal Penumpang