Mengungkap Kisah di Balik Nama Tepian Narosa: Bukan Tokoh, Melainkan Batu Sakral di Teluk Kuantan
Pengerukan Tepian Narosa menghadapi pacu jalur tradisional Agustus 2025
RIAUIN. COM– Bagi masyarakat Kuantan Singingi, khususnya penggemar pacu jalur, nama Tepian Narosa sudah tak asing lagi di telinga. Gelanggang pacu jalur yang terletak di Teluk Kuantan ini kerap menjadi saksi bisu sengitnya persaingan perahu tradisional.
Namun, berbeda dengan nama-nama gelanggang di rayon lain di Kuansing yang seringkali mengabadikan nama tokoh atau pemilik tepian, nama Narosa ternyata memiliki kisah yang jauh lebih dalam, berakar dari bahasa dan kearifan lokal masyarakat setempat di masa lampau.
Sekilas, nama Narosa memang terdengar seperti nama seseorang. Akan tetapi, H. Syaifullah Aprianto, seorang tokoh masyarakat setempat, menjelaskan bahwa Narosa bukanlah representasi dari individu.
"Nama Narosa adalah sebuah tempat yang menyerupai bongkahan batu yang berada di tepian, tepatnya sekarang berada di depan Kantor Bawaslu," ungkap Syaifullah.
Lebih lanjut, Syaifullah menceritakan bahwa di masa lalu, tepian sungai tersebut dipenuhi oleh bongkahan batu besar yang oleh masyarakat setempat dinamakan karak. Batu-batu inilah yang menjadi titik fokus makna di balik Narosa.
"Habis mandi, kalau sudah tiba waktu shalat masyarakat menyempatkan diri shalat di atas batu itu. Itu namanya Narosa," jelasnya.
Dari pemaparan Syaifullah, terungkap bahwa Narosa adalah akronim atau penyebutan populer dari "Naik Rosa" atau "Naik ke atas batu". Batu-batu tersebut bukan sekadar bongkahan biasa, melainkan memiliki nilai spiritual dan fungsi praktis bagi masyarakat.
Setelah beraktivitas di sungai, terutama mandi, warga memanfaatkan batu-batu tersebut sebagai tempat bersuci dan mendirikan salat. Kesakralan dan fungsi inilah yang kemudian melekat erat pada tepian tersebut, sehingga secara turun-temurun dikenal dengan nama Narosa.
Sayangnya, bongkahan batu bersejarah yang menjadi cikal bakal nama Tepian Narosa kini sudah tidak ada lagi. Diduga, abrasi dan pengikisan alam menjadi penyebab punahnya "karak" yang dahulu menjadi penanda dan pusat aktivitas spiritual masyarakat di tepian tersebut. (hen)
Berita Lainnya
Mantan Anggota DPRD Kuansing Ingatkan Muklisin: Hindari Model 'Naga Bonar' dalam Pilih Pejabat
Plt Bupati Kuansing Mukhlisin Izinkan Kembali Sponsor Jalur
Waktu Menipis, Belanja Pegawai Kuansing Jinak di Atas 60 Persen Jelang UU HKPD 2027
LSM di Kuansing Ingatkan Plt Bupati Mukhlisin Waspadai Lingkaran ‘Penjilat’ Pasca-OTT KPK
Beda Gaya di Acara Pacu Jalur: Plt Bupati Mukhlisin Pilih Tampil Tradisional Tanpa Kacamata Hitam
Pemkab Kuansing Janjikan Hadiah Umrah untuk Kafilah Berprestasi di MTQ Nasional
Mantan Anggota DPRD Kuansing Ingatkan Muklisin: Hindari Model 'Naga Bonar' dalam Pilih Pejabat
Plt Bupati Kuansing Mukhlisin Izinkan Kembali Sponsor Jalur
Waktu Menipis, Belanja Pegawai Kuansing Jinak di Atas 60 Persen Jelang UU HKPD 2027
LSM di Kuansing Ingatkan Plt Bupati Mukhlisin Waspadai Lingkaran ‘Penjilat’ Pasca-OTT KPK
Beda Gaya di Acara Pacu Jalur: Plt Bupati Mukhlisin Pilih Tampil Tradisional Tanpa Kacamata Hitam
Pemkab Kuansing Janjikan Hadiah Umrah untuk Kafilah Berprestasi di MTQ Nasional