Terbanyak di Medan, 126 Kasus Campak Tercatat di Sumut Sepanjang 2022
RIAUIN.COM - Provinsi Sumatera Utara (Sumut) melaporkan banyaknya kasus penyakit campak. Bahkan beberapa kabupaten/kota telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Selama 2022, tercatat total campak positif di Sumut mencapai 126 kasus.
"Campak atau disebut juga rubeola disebabkan oleh virus. Untuk tahun 2022 tercatat sebanyak 126 kasus. Tapi tahun 2023 datanya belum masuk," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, Alwi Mujahid kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (21/1).
Alwi menyebutkan Kota Medan paling tinggi ditemukan positif penyakit campak yakni mencapai 66 kasus. Kemudian, disusul Deliserdang 44 kasus dan Batubara 8 kasus. Berikutnya, Serdangbedagai, Langkat, dan Sibolga masing-masing 6 kasus.
Selanjutnyam Tebingtinggi 4 kasus positif. Tapanuli Tengah dan Kota Binjai masing-masing 3 kasus. Labuhanbatu Utara dan Simalungun masing-masing 2 kasus. Kemudian, Labuhanbatu, Nias, Samosir, Padanglawas, dan Kota Gunung Sitoli masing-masing 1 kasus.
"Untuk gejalanya ditandai dengan ruam kulit di seluruh tubuh dan gejala seperti flu, demam, batuk, sulit menelan. Penyakit ini paling sering terjadi pada anak-anak dan bisa berakibat fatal, " jelasnya.
Menurutnya seseorang rentan terkena penyakit campak bila belum mendapatkan vaksinasi campak. Campak merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus dari keluarga paramyxovirus.
"Meski angka kematiannya kecil, namun penyakit ini cepat menular. Penularan umumnya terjadi melalui percikan liur yang dikeluarkan orang yang terinfeksi saat ia bersin dan batuk," terangnya.
Alwi mengakui cakupan vaksinasi campak di Sumut memang rendah hanya 72 persen saja dari target 95 persen. Padahal campak hanya bisa dicegah dengan vaksin MR yakni kombinasi vaksin campak (measles) dan rubella.
"Makanya anak-anak harus diimunisasi vaksin MS. Karena imunisasinya tidak mencapai target makanya kasusnya tinggi. Padahal campak hanya bisa dicegah dengan vaksin. Tapi banyak orang tua enggan membawa anaknya vaksinasi, mereka enggak mau anaknya disuntik," ujar dia.
Selain itu, kata Alwi, beberapa kabupaten/kota di Sumut, juga malu menyatakan daerah mereka KLB campak. Padahal dengan adanya pernyataan KLB, maka ada penanganan khusus sehingga penyebaran campak bisa cepat diatasi.
"Kalau tidak mau menyatakan KLB, enggak ada fasilitas untuk itu. Jadi bisa terjadi penyebaran yang tidak diharapkan. Kita harap tiap daerah jangan enggan menyatakan KLB. Jangan malu mengakui itu padahal kasusnya ada. Kriteria KLB itu kalau ada minimal 2 kasus. Tapi pernyataan KLB dilakukan oleh pemerintah setempat, " bebernya. (*)
Berita Lainnya
Panen Perdana Lele, Bukti Program PLN Gerakkan Ekonomi Masyarakat Padang Pariaman
Kuasa Hukum Suhardiman Amby Tegaskan Tak Ada Praperadilan, Pilih Taat Proses KPK
Kurang dari Dua Jam, PLN Gerak Cepat Amankan Kelistrikan Lampung Pasca Kebakaran Lahan
PLN Jaga Keandalan Listrik Pulau Bintan Lewat Pemeliharaan Strategis di Gardu Induk Sribintan
KPK Buru Sisa Rp1 Miliar Uang Petani Sawit Kuansing, Asisten I Kembali Diperiksa
Perkuat Keandalan Listrik Riau, PLN Ganti CT 150 kV di GI Balai Pungut
Panen Perdana Lele, Bukti Program PLN Gerakkan Ekonomi Masyarakat Padang Pariaman
Kuasa Hukum Suhardiman Amby Tegaskan Tak Ada Praperadilan, Pilih Taat Proses KPK
Kurang dari Dua Jam, PLN Gerak Cepat Amankan Kelistrikan Lampung Pasca Kebakaran Lahan
PLN Jaga Keandalan Listrik Pulau Bintan Lewat Pemeliharaan Strategis di Gardu Induk Sribintan
KPK Buru Sisa Rp1 Miliar Uang Petani Sawit Kuansing, Asisten I Kembali Diperiksa
Perkuat Keandalan Listrik Riau, PLN Ganti CT 150 kV di GI Balai Pungut