PILIHAN
Dedi Mulyadi Umrahkan Guru SD yang Membuatnya Tinggal Kelas
BANDUNG, Riauin.com -- Peran guru di sekolah dianggap sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seseorang. Hal ini dirasakan betul oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.
Menurut Dedi, posisinya saat ini tidak akan diperoleh tanpa pengorbanan gurunya. Salah satunya, di SD tempat Dedi pertama kali sekolah yakni SD Sukabakti, Desa Sukasari, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang. Namun, saat menginjak kelas I, ayah dua orang anak ini sempat dibuat kecewa oleh wali kelasnya karena tidak dinaikkan kelas.
"Namanya Bu Epon, guru yang tidak menaikkan saya waktu SD. Sekarang, saya umrahkan," ujar Dedi di Bandung, Selasa Malam (9/5).
Namun, menurut Dedi, Ia sempat tinggal kelas bukan karena kekurangannya dalam menguasai pelajaran. Tapi, saat itu usianya dianggap terlalu muda untuk naik ke kelas II.
"Setelah bapak saya memberitahu saya tidak naik kelas, saya menangis," ujar Dedi yang sekarang menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golongan Karya Provinsi Jawa Barat ini. Dedi mengatakan, sekarang Ia pun merasa bersyukur atas keputusan gurunya itu. "Karena kalau dulu saya dinaikkan (ke kelas II), kecerdasan saya akan berkurang," katanya.
Sebagai ucapan terima kasihnya atas jasa besar tersebut, kata Dedi, Ia akan memberangkatkan umrah gurunya itu pada 19 Mei mendatang. Epon akan diberangkatkan ke Tanah Suci bersama delapan guru lainnya yang dia temui di berbagai daerah. Seluruh guru lainnya itu berstatus honorer yang tidak mungkin diangkat menjadi PNS.
"Mereka enggak diangkat karena usianya melebihi ketentuan (pengangkatan jadi PNS) undang-undang," katanya. Dedi pun memastikan dirinya akan mendampingi mereka untuk beribadah umrah. "Yang lain nanti habis Lebaran," katanya. (rol)
Menurut Dedi, posisinya saat ini tidak akan diperoleh tanpa pengorbanan gurunya. Salah satunya, di SD tempat Dedi pertama kali sekolah yakni SD Sukabakti, Desa Sukasari, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang. Namun, saat menginjak kelas I, ayah dua orang anak ini sempat dibuat kecewa oleh wali kelasnya karena tidak dinaikkan kelas.
"Namanya Bu Epon, guru yang tidak menaikkan saya waktu SD. Sekarang, saya umrahkan," ujar Dedi di Bandung, Selasa Malam (9/5).
Namun, menurut Dedi, Ia sempat tinggal kelas bukan karena kekurangannya dalam menguasai pelajaran. Tapi, saat itu usianya dianggap terlalu muda untuk naik ke kelas II.
"Setelah bapak saya memberitahu saya tidak naik kelas, saya menangis," ujar Dedi yang sekarang menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golongan Karya Provinsi Jawa Barat ini. Dedi mengatakan, sekarang Ia pun merasa bersyukur atas keputusan gurunya itu. "Karena kalau dulu saya dinaikkan (ke kelas II), kecerdasan saya akan berkurang," katanya.
Sebagai ucapan terima kasihnya atas jasa besar tersebut, kata Dedi, Ia akan memberangkatkan umrah gurunya itu pada 19 Mei mendatang. Epon akan diberangkatkan ke Tanah Suci bersama delapan guru lainnya yang dia temui di berbagai daerah. Seluruh guru lainnya itu berstatus honorer yang tidak mungkin diangkat menjadi PNS.
"Mereka enggak diangkat karena usianya melebihi ketentuan (pengangkatan jadi PNS) undang-undang," katanya. Dedi pun memastikan dirinya akan mendampingi mereka untuk beribadah umrah. "Yang lain nanti habis Lebaran," katanya. (rol)
Berita Lainnya
Polda Riau dan BPTD Razia Truk Angkutan untuk Cegah Kerusakan Jalan
Geliat Sport Tourism di Riau, 15.000 Pelari Tiba di Pekanbaru
Bukan Soal Anggaran, Kericuhan di DPRD Riau Dipicu Salah Paham Internal Anggota
Kunjungan Wapres ke Rohil Jadi Momentum Perbaikan Sekolah dan Infrastruktur
Puluhan Titik Panas Kepung Riau di Tengah Ancaman Cuaca Ekstrem
Pemprov Riau Segera Temui Menhub Bahas Jembatan Selat Malaka
Polda Riau dan BPTD Razia Truk Angkutan untuk Cegah Kerusakan Jalan
Geliat Sport Tourism di Riau, 15.000 Pelari Tiba di Pekanbaru
Bukan Soal Anggaran, Kericuhan di DPRD Riau Dipicu Salah Paham Internal Anggota
Kunjungan Wapres ke Rohil Jadi Momentum Perbaikan Sekolah dan Infrastruktur
Puluhan Titik Panas Kepung Riau di Tengah Ancaman Cuaca Ekstrem
Pemprov Riau Segera Temui Menhub Bahas Jembatan Selat Malaka