PILIHAN
Menanam 'Emas Hijau' di Tanah Nelayan Dabo Singkep
05 Juni 2026
Cek Kosong dan Dongkolnya Prabowo
04 Juni 2026
Ade Hartati : Jembatani Proses Relokasi Pemko dan Pedagang Harus Duduk Bersama
PEKANBARU, Riauin.com - Proses relokasi pedagang esk Plaza Sukaramai ke Sukaramai Trade Center (STC) yang berakhir ricuh antara pedagang dan pihak tim yustisi beberapa hari yang lalu menuai kritikan dari berbagai pihak, salah satunya anggota legislatif di DPRD Provinsi Riau dari Fraksi PAN, Ade Hartati.
Ade, menilai pesoalan antara pedagang dan pihak pengelola harus dicari penyelesaian. Dan pihak Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru bisa menjembatani keinginan pedagang dengan duduk bersama bermusyawarah.
"Seharusnya hal seperti ini tidak terjadi. Kita paham dengan kondisi pedagang yang mayoritasnya hanya berjualan untuk menyambung kehidupan mereka sehari-hari. Untuk itu, kita berharap pemeritah harusnya di pihak pedagang, dan bukan kepada segelintir orang yang jelas-jelas mengambil keuntungan. Sudah sepatutnya ini sebagai pembelajaran kedepan agar pasar direvitalisasi oleh pemerintah, dan bukan pihak ketiga," ungkap Ade Hartati, Jumat (28/2/2020).
Ketika disinggung adanya penertiban tahap dua yang berlangsung, hari ini, Ade meminta Pemerintah Kota bisa berdiskusi dan mencari solusi guna menghindari segala macam aksi dan tindakan kekerasan seperti kejadian sebelumnya.
"Jangan sampai bentrok, harus duduk bersama. Jangan benturkan aparat penegak hukum dengan pedagang, semuanya sama-sama mencari nafkah. Jangan coreng budaya Melayu kita dengan kekerasan," ucap Ade.
Dikatakannya, dirinya sudah menemui langsung para pedagang dan mendapatkan beberapa fakta yang sangat tidak elok, dan tidak berpihak kepada pedagang.
"Ada yang menyebut pengelola mewajibkan pedagang membayar 30 persen dimuka sebelum melakukan pelunasan. Namun setelah itu dilakukan, keluar syarat baru menjadi 100 persen untuk mendapatkan kunci. Pedagang diminta berhutang? gak masuk akal," katanya.
Ade juga menyebut, ada opsi atau permintaan dari pedagang yang selama ini menyewa di lokasi tersebut yang dinilai sangat rasional untuk saat ini bisa dipenuhi.
"Mereka minta ditunda hingga usai lebaran, saya rasa itu masuk akal. Disamping mereka bisa mencari pendapatan lebih saat jual beli menjelang hari besar dan tentunya ini bisa membayar salah satu syarat untuk menyewa," ucapnya.
Ade juga menyinggung pihak-pihak yang seolah pro dan lahir dari rakyat, namun menusuk dari belakang. Apalagi sampai menyebut relokasi secepatnya pedagang STC guna penataan Kota Pekanbaru.
"Jangan cerita penataan, itu sudah tidak relevan kita sampaikan hari ini. Pengerjaan proyek pasar itu sudah terlambat sekian tahun tapi pada diam, giliran penggusuran tepuk tangan," imbuhnya. (nol)
Ade, menilai pesoalan antara pedagang dan pihak pengelola harus dicari penyelesaian. Dan pihak Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru bisa menjembatani keinginan pedagang dengan duduk bersama bermusyawarah.
"Seharusnya hal seperti ini tidak terjadi. Kita paham dengan kondisi pedagang yang mayoritasnya hanya berjualan untuk menyambung kehidupan mereka sehari-hari. Untuk itu, kita berharap pemeritah harusnya di pihak pedagang, dan bukan kepada segelintir orang yang jelas-jelas mengambil keuntungan. Sudah sepatutnya ini sebagai pembelajaran kedepan agar pasar direvitalisasi oleh pemerintah, dan bukan pihak ketiga," ungkap Ade Hartati, Jumat (28/2/2020).
Ketika disinggung adanya penertiban tahap dua yang berlangsung, hari ini, Ade meminta Pemerintah Kota bisa berdiskusi dan mencari solusi guna menghindari segala macam aksi dan tindakan kekerasan seperti kejadian sebelumnya.
"Jangan sampai bentrok, harus duduk bersama. Jangan benturkan aparat penegak hukum dengan pedagang, semuanya sama-sama mencari nafkah. Jangan coreng budaya Melayu kita dengan kekerasan," ucap Ade.
Dikatakannya, dirinya sudah menemui langsung para pedagang dan mendapatkan beberapa fakta yang sangat tidak elok, dan tidak berpihak kepada pedagang.
"Ada yang menyebut pengelola mewajibkan pedagang membayar 30 persen dimuka sebelum melakukan pelunasan. Namun setelah itu dilakukan, keluar syarat baru menjadi 100 persen untuk mendapatkan kunci. Pedagang diminta berhutang? gak masuk akal," katanya.
Ade juga menyebut, ada opsi atau permintaan dari pedagang yang selama ini menyewa di lokasi tersebut yang dinilai sangat rasional untuk saat ini bisa dipenuhi.
"Mereka minta ditunda hingga usai lebaran, saya rasa itu masuk akal. Disamping mereka bisa mencari pendapatan lebih saat jual beli menjelang hari besar dan tentunya ini bisa membayar salah satu syarat untuk menyewa," ucapnya.
Ade juga menyinggung pihak-pihak yang seolah pro dan lahir dari rakyat, namun menusuk dari belakang. Apalagi sampai menyebut relokasi secepatnya pedagang STC guna penataan Kota Pekanbaru.
"Jangan cerita penataan, itu sudah tidak relevan kita sampaikan hari ini. Pengerjaan proyek pasar itu sudah terlambat sekian tahun tapi pada diam, giliran penggusuran tepuk tangan," imbuhnya. (nol)
Berita Lainnya
Pemko Pekanbaru Mulai Putus Massal Kabel Jaringan Ilegal
Proyek Saluran Bawah Tanah di Jalan Tuanku Tambusai Pekanbaru Ditargetkan Rampung Pekan Ini
Sepuluh Tim Medis Kawal Kepulangan Tiga Kloter Jemaah Haji di Bandara Pekanbaru
Nginap Semalam di Batam, Jemaah Haji Pekanbaru Diterbangkan Secara Bertahap Hari Ini
Satpol PP Pekanbaru Rancang Operasi Gabungan Tertibkan Trotoar HR Soebrantas
Heli Pengganti Tiba di Pekanbaru, Kesiagaan Udara Karhutla Tetap Terjaga
Pemko Pekanbaru Mulai Putus Massal Kabel Jaringan Ilegal
Proyek Saluran Bawah Tanah di Jalan Tuanku Tambusai Pekanbaru Ditargetkan Rampung Pekan Ini
Sepuluh Tim Medis Kawal Kepulangan Tiga Kloter Jemaah Haji di Bandara Pekanbaru
Nginap Semalam di Batam, Jemaah Haji Pekanbaru Diterbangkan Secara Bertahap Hari Ini
Satpol PP Pekanbaru Rancang Operasi Gabungan Tertibkan Trotoar HR Soebrantas
Heli Pengganti Tiba di Pekanbaru, Kesiagaan Udara Karhutla Tetap Terjaga