Kanal

Saat Netanyahu Pidato di Depan Kursi Kosong

 

Oleh: Hendrianto. 
Jumat: 26:09:2026.

KAMIS kemarin, ruang sidang Majelis Umum PBB di New York mendadak gerah. Padahal pendingin udara dinyalakan penuh.

Aksi saling sindir dan saling balik badan memang sudah jadi panggung harian di gedung itu.

Sebelumnya, saat Presiden Iran Masoud Pezeshkian naik ke podium, suasana sudah memanas.

Dalam pidatonya yang menohok, Pezeshkian menepis tuduhan sebagai teroris dan menegaskan bahwa Iran justru korban terorisme AS dan Israel.

Sambil mengangkat foto anak-anak korban serangan, ia menegaskan Iran tidak akan tunduk pada gertakan Donald Trump, meski tetap terbuka pada jalur diplomasi.

Mendengar sindiran keras itu, delegasi Amerika Serikat langsung berdiri dan melenggang keluar ruangan. Aksi walk out dibalas walk out.

Namun, drama sore berikutnya terasa beda skalanya. Pemicunya sederhana: nama Benjamin Netanyahu dipanggil pimpinan sidang.

Pentolan rezim zionis itu bersiap naik ke mimbar. Belum juga kakinya menapak tangga mimbar, riuh sudah pecah.

Para diplomat Indonesia yang duduk rapi di barisannya langsung berdiri. Kompak. Tanpa komando, mereka bergegas meninggalkan kursi. Langkahnya cepat, tegas, tanpa lirik kanan atau lirik kiri.

Bukan cuma Indonesia. Diplomat dari belasan negara lain ikut berdiri. Berbondong-bondong menuju pintu keluar.

Saking banyaknya yang kabur, pintu keluar sampai macet. Antrean walk out mengular. Ruangan bergemuruh. Pimpinan sidang sampai ketok-ketok palu berkali-kali.

"Harap tenang, harap tertib!" kira-kira begitu maksud ketukan palunya. Tapi mana peduli.

Melihat kursi-kursi di depannya mendadak melompong, Netanyahu mencoba tetap tengil. Ia melempar seloroh ke arah mik.

"Sebelum saya mulai, kalau masih ada pengecut moral yang belum keluar, tolong keluar sekarang," katanya.

Pengecut moral. Lelucon yang getir. Justru dunia tahu siapa yang sebenarnya sedang ketakutan.

Berdiri di depan deretan kursi kosong, Netanyahu lalu mengobral narasi pembelaan diri.

Dengan nada menantang, ia menolak mentah-mentah tuduhan genosida di Gaza dan menyebutnya sebagai kebohongan terbesar abad ini.

Ia membual bahwa menghancurkan fasilitas nuklir Iran adalah keputusan termudah dalam kariernya, seraya mengklaim bahwa banyak pemimpin dunia yang diam-diam berterima kasih pada Israel.

Ia juga mengecilkan aksi kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat dan bersumpah akan terus menggempur Gaza sampai habis. Sebuah pidato bernada keras, penuh pembelaan, tapi disampaikan di hadapan ruangan yang sepi.

Bayangkan, Netanyahu datang ke Amerika Serikat cuma buat pidato enam jam. Datang, pidato di depan kursi kosong, lalu pulang.

Tragisnya lagi, di New York ia bak anak hilang. Tidak ada agenda ketemu Presiden AS Donald Trump. Ketemu Menteri Luar Negeri Marco Rubio pun tidak. Benar-benar sendirian.

Dunia memang sudah muak. Di luar gedung PBB yang megah itu, realitasnya mengerikan.

Pembantaian di Gaza dan Tepi Barat tak kunjung reda. Janji gencatan senjata di Lebanon dikangkangi begitu saja.

Belum lagi statusnya sebagai buronan internasional, surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang terbit sejak 2024 lalu masih menggantung di atas kepalanya.

Di podium PBB, dia boleh saja sesumbar menyebut orang lain "pengecut". Tapi langkah kaki para diplomat Indonesia dan dunia yang berjalan melenggang keluar ruangan hari itu sudah bicara lebih lantang dari ribuan kata pidatonya: Anda tidak diterima di sini.

Palu sidang boleh saja diketok berkali-kali untuk menenangkan ruangan. Tapi untuk rasa kemanusiaan yang sudah teriris-iris, tidak ada palu yang bisa membungkamnya. (***)

(Penulis merupakan jjurnalis Riauin.com) 

Ikuti Terus Riauin

Berita Terkait

Berita Terpopuler