LETUSAN Gunung Anak Krakatau baru-baru ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa dampak suatu bencana tidak selalu terbatas pada kawasan di sekitar lokasi kejadian. Penyebaran abu gunung berapi dapat mengganggu penerbangan, memengaruhi aktivitas persekolahan, mobilitas masyarakat, dan berbagai aktivitas harian.
Bagi mereka yang tinggal berdekatan kawasan berisiko, ancamannya mungkin lebih langsung. Namun, bagi masyarakat di kawasan lain, dampaknya mungkin hadir dalam bentuk gangguan perjalanan, perubahan rutinitas harian, atau ketidakpastian terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa dalam menghadapi bencana, kesiapsiagaan bukan hanya berkaitan dengan apa yang terjadi di lokasi bencana. Hal ini juga melibatkan kemampuan masyarakat dan berbagai sektor untuk menyesuaikan diri ketika suatu risiko mulai berdampak pada kehidupan yang lebih luas.
Indonesia bukan negara yang asing dengan tantangan ini. Posisinya di Lingkaran Api Pasifik menjadikan aktivitas gunung berapi sebagai bagian dari realitas geografis negara tersebut. Pengalaman hidup bersama berbagai bentuk bencana juga telah membentuk masyarakat yang memiliki daya tahan dan semangat kebersamaan yang kuat.
Ketika Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitasnya, hal itu menjadi sebuah peringatan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh hanya dinilai berdasarkan apa yang dilakukan ketika keadaan darurat terjadi. Pertanyaan yang lebih penting adalah sejauh mana persiapan telah dibangun sebelum keadaan menjadi genting.
Risiko Tidak Mengenal Batas
Apabila terjadi letusan gunung berapi, perhatian sering terpusat pada kawasan yang berada paling dekat dengan sumber bahaya. Evakuasi penduduk, pemantauan aktivitas gunung berapi, dan penyediaan bantuan darurat memang menjadi prioritas.
Namun, risiko dapat melampaui batas kawasan tersebut. Abu gunung berapi yang dibawa oleh angin dapat memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang. Gangguan terhadap ruang udara pula dapat berdampak pada penerbangan dan pergerakan manusia. Sekolah mungkin perlu menyesuaikan metode pembelajaran, sementara beberapa sektor ekonomi dan pekerjaan juga menghadapi gangguan operasional.
Inilah yang menjadikan pengelolaan risiko bencana semakin kompleks. Suatu kejadian yang terjadi di satu lokasi dapat berdampak pada masyarakat yang berada jauh dari kawasan utama bencana.
Oleh karena itu, kesiapsiagaan juga tidak boleh hanya terpusat pada komunitas yang tinggal berdekatan gunung berapi. Sekolah, tempat kerja, fasilitas kesehatan, dan penyedia layanan penting juga perlu memahami bagaimana operasional mereka dapat dilanjutkan atau disesuaikan ketika terjadi gangguan.
Kesiapsiagaan Tidak Boleh Hanya Satu Formula
Mengelola risiko bencana di sebuah negara yang luas dan terdiri dari ribuan pulau memang memerlukan pendekatan yang mempertimbangkan kondisi setempat.
Setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda. Ada kawasan yang memiliki akses mudah ke fasilitas kesehatan dan layanan darurat, sementara kawasan lain mungkin menghadapi tantangan jarak, transportasi, dan akses terhadap sumber daya.
Demikian pula dengan risiko yang dihadapi oleh masyarakat. Komunitas yang tinggal berdekatan gunung berapi mungkin memerlukan sistem evakuasi yang jelas, sementara kawasan yang menerima dampak penyebaran abu mungkin lebih membutuhkan informasi mengenai kesehatan, keselamatan perjalanan, dan kesinambungan aktivitas harian.
Oleh karena itu, rencana mitigasi tidak selalu harus seragam untuk setiap kawasan.
Yang lebih penting adalah setiap rencana mempertimbangkan realitas masyarakat, sumber daya yang tersedia, dan risiko yang benar-benar dihadapi oleh komunitas setempat. Pendekatan yang sesuai untuk sebuah kota besar mungkin tidak selalu praktis bagi sebuah komunitas di kawasan yang lebih terpencil.
Persiapan Bukan Semata-mata Tentang Infrastruktur Mahal
Kesiapsiagaan sering dikaitkan dengan teknologi canggih, pusat operasi modern, dan berbagai fasilitas darurat. Semua ini memang penting. Namun, kemampuan menghadapi bencana tidak selalu bergantung pada sejauh mana suatu komunitas memiliki infrastruktur yang mahal.
Dalam banyak keadaan, langkah dasar yang direncanakan dan diuji dengan baik dapat memberikan perbedaan yang besar.
Masyarakat perlu mengetahui ke mana mereka harus pergi ketika terjadi keadaan darurat. Jalur evakuasi harus jelas dan mudah diakses. Fasilitas kesehatan harus memiliki perencanaan untuk melanjutkan layanan ketika terjadi gangguan. Sekolah dan tempat kerja pula perlu memahami kapan operasional perlu disesuaikan untuk melindungi keselamatan pelajar dan pekerja.
Yang lebih penting, rencana tersebut harus benar-benar dapat digunakan.
Sebuah fasilitas kecil yang memiliki prosedur darurat yang jelas dan selalu menjalankan latihan mungkin lebih siap dibandingkan sebuah organisasi yang memiliki rencana lengkap tetapi tidak pernah diuji.
Kesiapsiagaan bukan semata-mata bergantung pada apa yang dimiliki, tetapi sejauh mana sumber daya yang ada dapat digunakan secara efektif ketika diperlukan.
Komunitas Bukan Sekadar Penerima Bantuan
Dalam sebuah negara yang begitu luas, agensi darurat tidak mungkin berada di setiap kampung, pulau, atau komunitas pada setiap saat. Di sinilah kekuatan masyarakat menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan. Budaya gotong royong, hubungan komunitas yang erat, dan pengalaman hidup bersama risiko bencana merupakan aset yang sangat berharga. Namun, peran masyarakat tidak seharusnya hanya dilihat sebagai penerima bantuan ketika suatu bencana terjadi. Komunitas sendiri dapat menjadi bagian dari sistem mitigasi.
Pemimpin lokal, institusi pendidikan, organisasi komunitas, rumah ibadah, dan relawan dapat membantu menyampaikan informasi, mengidentifikasi kelompok yang membutuhkan bantuan, serta memastikan masyarakat memahami tindakan yang perlu diambil.
Pengetahuan masyarakat setempat juga memiliki nilai tersendiri. Mereka memahami kondisi lingkungan, kebutuhan komunitas, dan tantangan yang mungkin tidak selalu dapat dilihat dari perspektif luar. Apabila kekuatan komunitas digabungkan dengan keahlian ilmiah, teknologi, dan sistem pengelolaan bencana modern, kesiapsiagaan dapat menjadi lebih menyeluruh dan dekat dengan realitas masyarakat.
Jangan Tunggu Bencana untuk Menguji Rencana
Salah satu tantangan dalam pengelolaan bencana adalah memastikan rencana yang disediakan benar-benar berfungsi dalam keadaan sebenarnya. Rencana mungkin terlihat lengkap di atas kertas, tetapi keadaan darurat sering membawa situasi yang tidak terduga. Jalan mungkin tidak dapat digunakan, komunikasi mungkin terganggu, dan sumber daya manusia mungkin tidak mencukupi. Karena itu, latihan dan simulasi perlu menjadi bagian dari proses kesiapsiagaan.
Sekolah perlu mengetahui bagaimana melindungi pelajar. Tempat kerja perlu memiliki prosedur yang jelas untuk pekerja. Fasilitas kesehatan perlu memastikan layanan penting dapat terus berjalan. Masyarakat pula perlu memahami sumber informasi yang dapat dipercaya dan tindakan yang perlu dilakukan ketika instruksi darurat dikeluarkan.
Kesiapsiagaan bukan sesuatu yang dibangun ketika bencana sedang terjadi. Ia dibentuk melalui latihan, pengalaman, dan perbaikan yang dilakukan secara berkelanjutan. Namun, kesiapsiagaan tidak seharusnya juga mereda ketika keadaan kembali tenang. Dalam kehidupan yang selalu berhadapan dengan risiko bencana, periode paling penting untuk membuat persiapan bukan ketika keadaan darurat sedang terjadi, tetapi ketika semuanya terlihat kembali normal.
Dr Amalina Mohd Roze dan Prof Madya Ts Dr Muhamad Saufi Che Rusuli merupakan dosen di Pusat Pengajian Pengurusan Perniagaan, Universitas Utara Malaysia (UUM), Malaysia. Dr Amalina memiliki keahlian dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja, sedangkan Dr Muhamad Saufi memiliki kualifikasi profesional dalam pengelolaan bencana. Artikel ini merupakan pandangan penulis berdasarkan perspektif keselamatan dan kesehatan kerja serta pengelolaan bencana.