Oleh: Hendrianto.
Senin: 14:09:2026.
BULAN ini, mata para pengamat politik lokal tertuju ke satu titik: Musda Golkar Kuansing. Peristiwa politik yang sungguh menarik untuk terus dikawal.
Publik kini menantikan arah langkah beringin tua itu, apakah bakal menghadirkan nakhoda baru demi penyegaran atau tetap memilih bertahan dengan kepengurusan yang ada.
Kalaupun muncul nakhoda baru, arah anginnya jelas tak terbang jauh.
Di akar rumput hingga kedai kopi, nama Romi Alfisah Putra kini makin santer disebut. Sosok ini digadang-gadang siap memimpin Golkar Kuansing ke depan, menggeser posisi Dr. Adam.
Bagi khalayak Kuansing, deretan nama ini tentu bukan sosok asing. Baik Romi maupun Adam merupakan putra kandung dari Sukarmis.
Terjadi pergantian di struktur kepemimpinan, namun kendali beringin tua ini dipastikan tetap melingkar rapat di dalam trah yang sama.
Di atas meja warung kopi, para penikmat politik lokal sibuk mengukur jalan. Perhitungannya terbilang presisi.
Kala Golkar Kuansing menjatuhkan pilihan pada Romi Alfisah, peta jalan menuju pertarungan politik daerah 2031 mendatang otomatis langsung terbaca jelas. Romi diposisikan sebagai jagoan utama di gelanggang Pilkada.
Menariknya, publik pun mulai bisa membayangkan siapa calon lawan tanding tangguh yang siap berhadapan di gelanggang 2031 nanti.
Nama H. Mukhlisin kini langsung mencuat ke permukaan. Sebagai politisi Demokrat yang kini menjabat Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kuansing, Mukhlisin tentu memiliki panggung pertahanan dan modal politik petahana yang sangat kuat untuk kembali maju bertarungan di 2031 mendatang.
Pertarungan masa depan antara trah Sukarmis lewat Romi Alfisah melawan kekuatan politik H. Mukhlisin seolah sudah membayang dari sekarang.
Sementara itu, suara nyaring dari netizen Gen Z justru dorong Dr. Adam ke arah berbeda. Mereka meyakini Adam tak perlu lagi bertahan di gelanggang lokal.
Sebagai figur muda yang bertitel doktor di usia amat hijau dan teruji mengomandoi lembaga legislatif Kuansing, jam terbang politik Adam dinilai sudah lebih dari cukup.
Gen Z Kuansing mendorongnya maju melenggang ke Senayan sebagai representasi resmi suara kaum muda daerah di tingkat nasional.
Sebuah skenario pembagian peran yang rapi khas trah Sukarmis: satu menjaga benteng di daerah, satu lagi melebarkan sayap di panggung utama Jakarta.
Langkah ini bertumpu pada sejarah panjang. Di Kuansing, sosok Sukarmis telah melekat kuat sebagai ikon yang menyatu dengan Golkar. Kerja kerasnya membesarkan partai ini tercatat dalam sejarah politik lokal.
Puncak kesuksesan tersebut mencapai puncaknya pada era 2009–2014. Kala itu, Golkar Kuansing menguasai 9 kursi DPRD dan mengukuhkan diri sebagai kekuatan politik paling dominan.
Kini, masuknya nama Romi Alfisah Putra dalam bursa calon ketua menghadirkan dinamika baru. Figur muda seperti Romi dinilai memberi energi segar untuk meraup suara pemilih masa kini, sekaligus melanjutkan legasi politik sang ayah.
Musda bulan ini menjadi panggung penting yang patut disimak bersama.
Estafet kepemimpinan dari Dr. Adam ke Romi Alfisah Putra siap membuktikan sejauh mana taktik pembagian panggung ini mampu menjaga kejayaan Beringin Kuansing di masa depan. (***)
(Penulis merupakan jurnalis di riauin.com dan hoby mengamati politik lokal)