RIAUIN.COM - Pembangkit Listrik Tenaga Uap Tenayan Raya di Pekanbaru, Riau, mengoptimalkan pengolahan limbah abu pembakaran batu bara menjadi produk tepat guna berupa batako pres (paving block) dan pupuk organik. Seluruh hasil produksi dari pemanfaatan limbah tersebut dialokasikan secara gratis untuk menyokong program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) bagi warga lokal.
Operator pengolahan limbah PLTU Tenayan Raya Reza menjelaskan bahwa material sisa pembakaran yang berbentuk abu terbang (fly ash) kini tidak lagi dibuang tanpa manfaat. Melalui instalasi terpadu di dalam kawasan pembangkit, bahan tersebut dikonversi menjadi material infrastruktur dan penyubur tanah yang disalurkan untuk perbaikan fasilitas umum serta rumah ibadah.
Dalam memproduksi pupuk, pihak pembangkit memadukan residu batu bara dengan material organik berupa kotoran ternak yang didatangkan dari Kebun Binatang Kasang Kulim serta cacahan sampah dedaunan. Kombinasi tersebut diklaim mampu memperbaiki tingkat keasaman (pH) lahan dan memasok unsur kalium yang dibutuhkan oleh komoditas pertanian masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Untuk produk batako pres, tempat produksi khusus di dalam area pembangkit mampu mencetak beberapa spesifikasi teknis berdasarkan daya tekan beban, dengan standar kekuatan tekan K-225 hingga K-300. Proses manufaktur batako dan pematangan pupuk seluruhnya berjalan secara mandiri di fasilitas bengkel kerja serta rumah kaca yang terintegrasi.
Langkah pemanfaatan sisa industri ini mendapat apresiasi dari Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto saat memantau pameran lingkungan di kawasan Stadion Utama Riau, Pekanbaru. Pemerintah daerah mendorong agar kapasitas produksi dan jangkauan pemanfaatan material ramah lingkungan berbasis ekonomi sirkular ini terus diperluas demi mendukung kelestarian ekosistem.
Meskipun unit pembangkitan energi ini baru mulai beroperasi penuh pada kurun waktu 2017, program pengelolaan limbah berbasis pemberdayaan komunitas lewat skema tanggung jawab sosial tersebut tercatat sudah diinisiasi sejak 2004. Hingga kini, manajemen berkomitmen untuk mempertahankan status nonkomersial dari kedua produk hilir tersebut agar tetap fokus pada pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat di sekitar ring satu perusahaan. (Bil)