RIAUIN.COM- Korban dugaan penganiayaan oleh selebgram Salsabila Alwani atau Cut Salsa (21), akhirnya hadir di persidangan di Pengadilan Negeri Pekanbaru, Rabu (22/1/2025). Kehadiran Alisya Hadya Mecca (18), sebagai saksi ini menjadi momen yang emosional, mengingat trauma berat yang dialaminya akibat kejadian tersebut.
Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Hendah Karmila Dewi ini menghadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Wirman Jhoni Laflie SH, yang memeriksa keterangan Alisya terkait insiden yang terjadi di sebuah kafe di Mal SKA, Pekanbaru pada 13 Desember 2023.
Diceritakan oleh Alisya, saat kejadian, usianya baru 16 tahun. “Tiba-tiba dia menyiramkan air putih ke arah saya sambil berkata, ‘Maaf ya, aku sengaja,’” ungkapnya. Alisya yang terkejut membalas dengan menyiramkan air dari botol yang dibawanya. Namun, respons dari Cut Salsa jauh lebih brutal.
“Dia mencakar saya hingga kukunya terlepas dan tertinggal di rambut saya. Dia juga menghina saya. Akibatnya, saya mengalami luka di pelipis, memar di pipi, lengan, dan paha,” tuturnya. Selain luka fisik, trauma psikologis mendalam membuat Alisya harus menjalani perawatan intensif.
Kuasa Hukum Alisya, Bayu Syahputra SH MH, menyebutkan kasus ini membutuhkan lebih dari satu tahun untuk sampai ke meja hijau. “Kami sangat berharap keadilan ditegakkan. Kami juga meminta dukungan rekan-rekan media untuk mengawal kasus ini,” ujarnya.
Di luar persidangan, ibu korban, Weni Mulyono, tak mampu menahan tangis saat menceritakan dampak insiden itu terhadap anaknya. “Anak saya mengalami trauma berat. Dia sempat takut keluar rumah, bahkan harus berhenti sekolah dan tertunda untuk kuliah. Hingga kini, mereka belum meminta maaf kepada kami. Tolong bantu kami mendapatkan keadilan,” pinta Weni dengan air mata yang terus mengalir.
Sementara itu, terdakwa Cut Salsa saat ditemui mengaku sudah mencoba bersikap kooperatif. “Saya pernah berniat meminta maaf, tapi pihak mereka tidak pernah hadir,” ungkapnya.
Namun, pernyataan ini dibantah oleh Weni, yang mengungkapkan bahwa keluarga terdakwa sebenarnya memiliki hubungan keluarga dengan mereka. “Kakak saya menikah dengan kakak terdakwa. Jadi, orang tua terdakwa itu besan saya. Saat kejadian, mereka ada di lokasi, tapi bahkan meminta maaf pun tidak. Kalau memang kami dianggap keluarga, mereka tahu rumah kami,” ujarnya sambil terisak.
Kasus ini terus berlanjut dengan harapan keadilan dapat terwujud bagi Alisya, yang kini berusaha bangkit dari trauma panjang akibat penganiayaan tersebut. -vie