PILIHAN
Berakhir 31 Oktober, Kepala BPBD Riau Sebut Siaga Pencemaran Udara Tak Diperpanjang
PEKANBARU, Riauin.com - Status siaga pencemaran udara yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Riau akan berakhir tanggal 31 Oktober 2019.
Hal itu dikatakan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edwar Sanger saat acara Lokakarya Nasional Pencegahan Karhutla & Restorasi Gambut berbasi Masyarakat di Hotel Novotel, Pekanbaru Kamis (24/10/2019).
"Karena cuacanya dan suasana yang sudah kondusif di Provinsi Riau, insyallah Riau tidak akan memperpanjang Status Siaga Pencemaran Udara yang akan berakhir 31 Oktober 2019 nanti," kata Edwar.
Namun, Edwar mengungkapkan bahwa Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Jambi masih berjibaku untuk mengatasi hotspot yang masih ada akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
"Jambi masih ada sekitar 153 hotspot. Kemarin saya berkomunikasi dengan BPBD Sumsel dan BPBD Jambi, mereka kemungkinan memperpanjang siaga darurat ini sampai tahun depan," jelasnya.
Edwar bersyukur, semenjak bulan Oktober ini, titik api dan kabut asap yang terjadi akibat Karhutla di Provinsi Riau sudah menurun frekuensinya.
"Kalau kita bandingkan 2019 dengan 2015, sebenarnya lebih parah 2015. Soalnya 2019 ini sudah terekspos dan terfollowup dengan adanya alat yang sudah canggih di tahun ini," ungkapnya.
"Riau insyallah pada 31 Oktober nanti sudah akan berahir status siaga pencemaran udaranya, dan tidak akan kita perpanjang. Dan mudah mudahan cuaca tetap kondusif. Semoga nantinya tidak terjadi lagi Karhutla di Provinsi Riau ini," tutupnya.(int/nol)
Hal itu dikatakan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edwar Sanger saat acara Lokakarya Nasional Pencegahan Karhutla & Restorasi Gambut berbasi Masyarakat di Hotel Novotel, Pekanbaru Kamis (24/10/2019).
"Karena cuacanya dan suasana yang sudah kondusif di Provinsi Riau, insyallah Riau tidak akan memperpanjang Status Siaga Pencemaran Udara yang akan berakhir 31 Oktober 2019 nanti," kata Edwar.
Namun, Edwar mengungkapkan bahwa Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Jambi masih berjibaku untuk mengatasi hotspot yang masih ada akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
"Jambi masih ada sekitar 153 hotspot. Kemarin saya berkomunikasi dengan BPBD Sumsel dan BPBD Jambi, mereka kemungkinan memperpanjang siaga darurat ini sampai tahun depan," jelasnya.
Edwar bersyukur, semenjak bulan Oktober ini, titik api dan kabut asap yang terjadi akibat Karhutla di Provinsi Riau sudah menurun frekuensinya.
"Kalau kita bandingkan 2019 dengan 2015, sebenarnya lebih parah 2015. Soalnya 2019 ini sudah terekspos dan terfollowup dengan adanya alat yang sudah canggih di tahun ini," ungkapnya.
"Riau insyallah pada 31 Oktober nanti sudah akan berahir status siaga pencemaran udaranya, dan tidak akan kita perpanjang. Dan mudah mudahan cuaca tetap kondusif. Semoga nantinya tidak terjadi lagi Karhutla di Provinsi Riau ini," tutupnya.(int/nol)
Berita Lainnya
Dongkrak Indeks Akademis, Pekanbaru Raih Nilai Kompetensi Siswa Tertinggi di Sumatera
Gunakan Alat Berat, Satpol PP Pekanbaru Robohkan Puluhan Lapak di Atas Trotoar Jalan HR Soebrantas
Pemko Pekanbaru Sebar 15 Armada Operasional demi Percepat Penanganan Drainase dan Sampah
Pemko Pekanbaru Siapkan Sanksi Tahan TPP bagi ASN Penunggak Pajak
Kepala Sekolah di Pekanbaru Terancam Sanksi Pidana jika Curang dalam SPMB 2026
Akurasi Data Bansos Pekanbaru Rendah, Pemko Andalkan PIC Tingkat RW
Dongkrak Indeks Akademis, Pekanbaru Raih Nilai Kompetensi Siswa Tertinggi di Sumatera
Gunakan Alat Berat, Satpol PP Pekanbaru Robohkan Puluhan Lapak di Atas Trotoar Jalan HR Soebrantas
Pemko Pekanbaru Sebar 15 Armada Operasional demi Percepat Penanganan Drainase dan Sampah
Pemko Pekanbaru Siapkan Sanksi Tahan TPP bagi ASN Penunggak Pajak
Kepala Sekolah di Pekanbaru Terancam Sanksi Pidana jika Curang dalam SPMB 2026
Akurasi Data Bansos Pekanbaru Rendah, Pemko Andalkan PIC Tingkat RW