PILIHAN
Bantuan APBN dan APBD
Disnak Sulit Awasi Bantuan Sapi ke Petani
Kepala Dinas Peternakan Riau Askardya Patrinov
Riauin.com, Pekanbaru - Pemerintah pusat melalui Dinas Peternakan Provinsi Riau sepanjang tahun 2016 mendapat bantuan sapi ternak sebanyak 1.450 ekor. Penerima sapi jenis brahman cros yang dialokasikan melalui APBN 2016 diterima tiga provinsi di Sumater, yakni Aceh, Sumut dan Riau.
Sapi-sapi tersebut diterima oleh 59 kelompok tani dengan aksen dari program yang memiliki resiko kematian dan pencurian yang cukup tinggi. Dari 1.450 ekor sapi ternak tersebut puluhan ekor dinyatakan hilang dan ada pula yang mati.
"Program integrasi sapi dan sawit ini aksennya semi aksesif kematian dan pencurian, karena sapi-sapi tersebut dibiarkan lepas diperkebunan rakyat. Tapi dampaknya angka kelahiran sapi banyak, dari program ini sudah tumbuh pengelola-pengelola pupuk dan hasil perkebunan mereka meningkat," kata Kepala Dinas Peternakan Riau, Askardya Patrinov, Selasa (07/02/2017).
Program yang dianggarkan dalam APBN tersebut sudah berjalan selama 3 tahun dengan pola bergulir. Setiap kelompok tani terdiri dari 10 hingga 15 orang dengan jumlah sapi sebanyak 5 ekor per orang.
Sedangkan hibah dari APBD baru tahun ini kembali dialokasikan setelah dua tahun berturut-turut dihentikan. Tahun ini Pemprov Riau mengalokasikan sebanya 1.433 ekor sapi dengan penerima sebanyak 80 kelompok tani.
"Hanya saja kami masih akan membahas pola hibah ini, khawatirnya, ada petani yang nakal. Misalnya, setelah menerima bantuan dari kelompok tani A, kemudian tahun berikutnya pindah ke kelompok tani B. Ini yang harus kita antisipasi," tutur Novi, sapaan akrabnya. (oce)
Sapi-sapi tersebut diterima oleh 59 kelompok tani dengan aksen dari program yang memiliki resiko kematian dan pencurian yang cukup tinggi. Dari 1.450 ekor sapi ternak tersebut puluhan ekor dinyatakan hilang dan ada pula yang mati.
"Program integrasi sapi dan sawit ini aksennya semi aksesif kematian dan pencurian, karena sapi-sapi tersebut dibiarkan lepas diperkebunan rakyat. Tapi dampaknya angka kelahiran sapi banyak, dari program ini sudah tumbuh pengelola-pengelola pupuk dan hasil perkebunan mereka meningkat," kata Kepala Dinas Peternakan Riau, Askardya Patrinov, Selasa (07/02/2017).
Program yang dianggarkan dalam APBN tersebut sudah berjalan selama 3 tahun dengan pola bergulir. Setiap kelompok tani terdiri dari 10 hingga 15 orang dengan jumlah sapi sebanyak 5 ekor per orang.
Sedangkan hibah dari APBD baru tahun ini kembali dialokasikan setelah dua tahun berturut-turut dihentikan. Tahun ini Pemprov Riau mengalokasikan sebanya 1.433 ekor sapi dengan penerima sebanyak 80 kelompok tani.
"Hanya saja kami masih akan membahas pola hibah ini, khawatirnya, ada petani yang nakal. Misalnya, setelah menerima bantuan dari kelompok tani A, kemudian tahun berikutnya pindah ke kelompok tani B. Ini yang harus kita antisipasi," tutur Novi, sapaan akrabnya. (oce)
Berita Lainnya
Uang Rp 122 Miliar Menanti di Tepian Narosa, Syaratnya Satu: Stempel PSN!
Bayang-Bayang Kasus Hukum Suhardiman Amby di Balik Penciutan Dana Sponsor Pacu Jalur
Tak Mempan Operasi Lokal, Pemulihan Sungai Kuantan Menunggu Perintah Langsung Presiden Prabowo
Dirut PLN Kawal Langsung Kelistrikan Nasional Jelang HUT Ke-81 Kemerdekaan RI dari Posko NTT
Geliat Pacu Jalur Tak Berbekas di Kas Daerah: Potensi Pajak Hotel Rp1,44 M Menguap
Realisasi Retribusi Perikanan Baru 5,16 Persen, Pajak Sarang Walet Kuansing Masih Nol
Uang Rp 122 Miliar Menanti di Tepian Narosa, Syaratnya Satu: Stempel PSN!
Bayang-Bayang Kasus Hukum Suhardiman Amby di Balik Penciutan Dana Sponsor Pacu Jalur
Tak Mempan Operasi Lokal, Pemulihan Sungai Kuantan Menunggu Perintah Langsung Presiden Prabowo
Dirut PLN Kawal Langsung Kelistrikan Nasional Jelang HUT Ke-81 Kemerdekaan RI dari Posko NTT
Geliat Pacu Jalur Tak Berbekas di Kas Daerah: Potensi Pajak Hotel Rp1,44 M Menguap
Realisasi Retribusi Perikanan Baru 5,16 Persen, Pajak Sarang Walet Kuansing Masih Nol