RIAUIN.COM - Pemerintah Provinsi Riau menggencarkan langkah intervensi pasar guna menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan harian bagi masyarakat. Melalui kolaborasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah Riau dan BUMD PT Riau Pangan Bertuah, program pengawasan rantai pasok ini diwujudkan lewat gelaran pasar murah secara bergantian di berbagai wilayah.
Pada pekan pertama Agustus 2026, agenda penyaluran komoditas pangan terjangkau tersebut dipusatkan pada lima lokasi strategis di dua wilayah bertetangga, yakni Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar.
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindagkop UKM Riau Tetty Nurdianti mengungkapkan, langkah intensif ini diambil sebagai upaya nyata memotong rantai distribusi barang kebutuhan pokok agar masyarakat memperoleh harga serba terjangkau.
"Melalui gelaran ini, kami berupaya memastikan barang kebutuhan harian tetap aman terkendali, jalur distribusi lancar, serta harga di tingkat konsumen tidak melonjak," ujar Tetty, Senin (3/8/2026).
Rangkaian kegiatan diawali pada Senin (3/8/2026) di Halaman Kantor Lurah Pebatuan, Kecamatan Kulim, Pekanbaru. Penyaluran berlanjut pada Selasa (4/8/2026) di Halaman Kantor Camat Rumbai Barat.
Masyarakat Kabupaten Kampar akan mendapatkan giliran pada Rabu (5/8/2026) yang dipusatkan di Halaman Kantor Desa Sei Liti, Kecamatan Kampar Kiri.
Selanjutnya, lokasi pasar murah kembali bergeser ke Pekanbaru pada Kamis (6/8/2026) di Halaman Stadion Utama Riau, Jalan Naga Sakti. Rangkaian pekan ini ditutup pada Jumat (7/8/2026) di Halaman Kantor Lurah Tangkerang Labuai, Kecamatan Bukitraya.
Sejumlah bahan pangan ditawarkan dengan patokan harga berada di bawah rata-rata pasar. Beras SPHP kemasan 5 kilogram dijual senilai Rp 60.000. Sementara itu, beras kualitas premium jenis Anak Daro dan Sokan dilepas dengan harga Rp 83.000 untuk ukuran 5 kilogram serta Rp 165.000 per 10 kilogram.
Komoditas penting lainnya mencakup gula pasir seharga Rp 18.000 per kilogram dan minyak goreng Minyakita yang dipatok Rp 15.500 per bungkus. Kebutuhan harian seperti telur ayam ras dilepas Rp 49.000 per papan, disusul garam dapur kemasan yang dibanderol Rp 2.000 per bungkus.
Melihat tingginya antusiasme warga, pihak dinas meminta masyarakat untuk tetap disiplin serta mendukung gerakan ramah lingkungan saat bertransaksi di lokasi.
"Kami mengimbau warga agar mengantre secara tertib saat berbelanja. Selain itu, usahakan membawa kantong belanja mandiri dari rumah demi meminimalkan penggunaan sampah plastik," tutur Tetty. (Bil)