Kanal

Ekspor Nonmigas Riau Tumbuh di Tengah Kemerosotan Sektor Lain

RIAUIN.COM - Struktur ekspor Provinsi Riau kian bergantung pada kinerja industri pengolahan, terutama hilirisasi kelapa sawit. Sepanjang lima bulan pertama tahun ini, sektor industri pengolahan mampu menopang perdagangan luar negeri bumi lancang kuning di saat sektor minyak dan gas bumi serta pertanian konvensional mengalami penurunan performa yang cukup tajam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Riau periode Januari hingga Mei 2026, sektor industri pengolahan menyumbang hingga 94,55 persen dari total nilai ekspor daerah. Kinerja sektor ini tumbuh 9,78 persen. Sebaliknya, pada periode yang sama, performa ekspor dari sektor pertambangan migas merosot hingga 42,83 persen dan sektor pertanian melorot 11,08 persen.

Kepala BPS Provinsi Riau Asep Riyadi menjelaskan bahwa pertumbuhan total ekspor Riau yang mencapai 5,58 persen dengan nilai total 8,60 miliar dollar AS pada rentang lima bulan tersebut murni diselamatkan oleh pergerakan positif ekspor nonmigas. Komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati, yang menjadi produk turunan utama kelapa sawit, masih menjadi motor penggerak paling dominan.

"Komoditas yang mengalami peningkatan terbesar adalah lemak dan minyak hewan atau nabati dengan kenaikan mencapai 559,66 juta dollar AS atau tumbuh 13,54 persen dibandingkan Januari hingga Mei tahun lalu. Komoditas ini masih menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas Riau," kata Asep Riyadi di Pekanbaru, Rabu (15/7/2026).

Asep Riyadi menambahkan, dari keseluruhan total ekspor nonmigas Riau yang bernilai 8,26 miliar dollar AS, kelompok lemak dan minyak nabati ini menguasai pangsa pasar sebesar 56,82 persen. Kondisi tersebut menegaskan bahwa lebih dari separuh devisa nonmigas daerah ini sangat bertumpu pada komoditas turunan sawit.

Selain produk sawit, lonjakan permintaan luar negeri juga terjadi pada komoditas bahan kimia organik sebesar 74,68 persen menjadi 452,71 juta dollar AS. Kenaikan juga diikuti oleh produk makanan olahan sebesar 20,20 persen serta ampas industri makanan yang naik 25,04 persen. Namun, komoditas andalan Riau lainnya, seperti bubur kayu atau pulp, justru terkoreksi turun 13,67 persen dan sektor buah-buahan anjlok hingga 48,05 persen.

Dari sisi geopolitik dagang, pasar global terbukti masih sangat meminati produk manufaktur dari Riau. Tiongkok memperkokoh posisinya sebagai mitra dagang utama dengan menyerap produk ekspor senilai 1,55 miliar dollar AS atau setara 18,72 persen dari total pangsa nonmigas Riau, disusul India dengan nilai 694,01 juta dollar AS dan Malaysia sebesar 626,08 juta dollar AS.

“Terjadi ekspansi pasar yang cukup kuat ke beberapa negara tujuan utama. Pengiriman ke Tiongkok tercatat naik 22,22 persen, Amerika Serikat tumbuh 16,59 persen, Vietnam naik 17,89 persen, dan Italia melonjak hingga 26,46 persen. Meskipun demikian, penurunan permintaan ekspor juga terjadi di beberapa negara mitra, seperti Bangladesh yang menyusut 16,93 persen dan Belanda yang turun 5,16 persen,” paparnya. (Bil)

Ikuti Terus Riauin

Berita Terkait

Berita Terpopuler