RIAUIN.COM - Angin segar kembali berembus bagi ratusan ribu petani kelapa sawit mandiri di Provinsi Riau. Harga pembelian tandan buah segar atau TBS untuk kemitraan swadaya di daerah ini kembali bergerak naik, dengan harga tertinggi kini menyentuh angka Rp 3.832,75 per kilogram untuk periode sepekan ke depan. Tren positif ini diharapkan mampu memperkuat daya beli sekaligus mendongkrak perekonomian perdesaan berbasis perkebunan rakyat.
Ketetapan harga baru tersebut diputuskan dalam rapat mingguan yang digelar oleh Tim Penetapan Harga TBS Dinas Perkebunan Provinsi Riau di Pekanbaru pada Selasa (14/7/2026). Kenaikan paling signifikan dialami oleh kelompok kelapa sawit berumur sembilan tahun, yakni bertambah Rp 36,70 per kilogram atau tumbuh sekitar 0,97 persen dibandingkan dengan pekan lalu. Harga baru ini akan mulai berlaku efektif untuk periode transaksi 15-21 Juli 2026.
Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Riau Dr Defris Hatmaja menjelaskan bahwa formulasi harga ini sepenuhnya merujuk pada regulasi terbaru demi menjamin asas keadilan transaksi di tingkat tapak. Landasan hukum yang digunakan adalah Peraturan Menteri Pertanian Nomor 13 Tahun 2024 tentang Pembelian TBS Kelapa Sawit Produksi Pekebun Mitra.
"Sesuai kesepakatan bersama, tim menetapkan harga untuk periode minggu ke-25 tahun ini dengan mengacu pada regulasi Permentan terbaru. Berdasarkan hasil validasi dan kajian rendemen dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan, lonjakan harga tertinggi ada di kelompok umur tanam sembilan tahun yang sekarang dipatok Rp 3.832,75 per kilogram," ujar Dr Defris Hatmaja di Pekanbaru, Selasa.
Menurut Dr Defris Hatmaja, kenaikan harga TBS kelapa sawit swadaya pekan ini didorong oleh membaiknya performa perdagangan minyak sawit mentah (CPO) dan inti sawit (kernel). Selama sepekan terakhir, harga jual CPO mengalami kenaikan sebesar Rp 160,19 per kilogram, sementara harga kernel terangkat Rp 96,00 per kilogram. Adapun persentase indeks K ditetapkan sebesar 92,45 persen, dengan harga jual cangkang kelapa sawit berada di angka Rp 23,11 per kilogram.
"Faktor utama di balik kenaikan harga TBS pada periode pertengahan Juli ini adalah pergerakan naik harga CPO dan kernel di pasar perdagangan," kata Dr Defris Hatmaja menambahkan.
Bagi sejumlah pabrik kelapa sawit yang tidak melaporkan transaksi penjualan pada pekan ini, Dinas Perkebunan Provinsi Riau menggunakan harga rata-rata dari Kantor Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) sebagai basis penghitungan cadangan sesuai regulasi. Untuk periode ini, rata-rata harga CPO KPBN berada di angka Rp 15.600,00 per kilogram, sedangkan harga rata-rata kernel KPBN tercatat sebesar Rp 13.765,00 per kilogram.
Secara terperinci, harga TBS kelapa sawit swadaya di Riau berdasarkan kelompok umur tanaman untuk sepekan ke depan telah diatur secara berjenjang tanpa menggunakan tabel data. Untuk kelapa sawit berumur tiga tahun ditetapkan sebesar Rp 2.966,50 per kilogram, umur empat tahun Rp 3.309,23 per kilogram, dan umur lima tahun Rp 3.552,03 per kilogram. Selanjutnya, tanaman berumur enam tahun dihargai Rp 3.689,13 per kilogram, umur tujuh tahun Rp 3.772,31 per kilogram, serta umur delapan tahun senilai Rp 3.818,05 per kilogram.
Sementara itu, kelapa sawit berumur 10 hingga 20 tahun dipatok pada harga Rp 3.792,70 per kilogram. Untuk tanaman berumur 21 tahun harganya adalah Rp 3.728,69 per kilogram, umur 22 tahun Rp 3.654,99 per kilogram, umur 23 tahun Rp 3.571,19 per kilogram, serta umur 24 tahun sebesar Rp 3.507,73 per kilogram. Pada kelompok umur tua, harga untuk tanaman berumur 25 tahun ditetapkan Rp 3.455,66 per kilogram, umur 26 tahun Rp 3.436,91 per kilogram, umur 27 tahun Rp 3.407,93 per kilogram, umur 28 tahun Rp 3.352,98 per kilogram, umur 29 tahun Rp 3.312,59 per kilogram, dan umur 30 tahun sebesar Rp 3.220,28 per kilogram.
Pemerintah Provinsi Riau bersama Kejaksaan Tinggi Riau terus berkomitmen untuk mengawal rantai niaga ini agar berjalan transparan. Pengawasan ketat dilakukan guna mencegah adanya pemotongan harga sepihak yang merugikan para pekebun swadaya, sekaligus menjaga iklim investasi kemitraan tetap kondusif di Bumi Lancang Kuning. (Bil)