RIAUIN.COM - Dinas Kesehatan Provinsi Riau hingga kini belum mendeteksi adanya penularan Hantavirus di seluruh wilayah kabupaten dan kota. Kendati demikian, otoritas kesehatan daerah mulai bersiap dan menunggu instruksi teknis dari pemerintah pusat untuk mengantisipasi potensi penyebaran virus yang dibawa oleh tikus tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Riau Zulkifli menjelaskan bahwa sistem surveilans lokal belum menerima laporan mengenai warga yang terjangkit. Penanganan penyakit menular ini memerlukan panduan resmi dari Kementerian Kesehatan guna menentukan langkah pencegahan, pengobatan, hingga pemulihan di lapangan.
Sebagai langkah awal di tingkat tapak, masyarakat Riau diminta memperketat penerapan pola hidup bersih dan sehat. Mengingat tikus merupakan vektor utama penularan, kebersihan lingkungan rumah dan penyimpanan makanan yang aman menjadi kunci utama menghindari kontak dengan kotoran hewan pengerat tersebut. Warga yang mengalami gejala demam, nyeri tubuh, hingga sesak napas diimbau segera melapor ke fasilitas kesehatan terdekat.
Secara nasional, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa jenis Hantavirus yang mematikan, yaitu Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) seperti yang sempat geger di Kapal Pesiar MV Hondius, belum memasuki Indonesia. Strain yang sejauh ini menginfeksi pasien di dalam negeri adalah tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan jenis virus Seoul.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes dr Andi Saguni mengungkapkan, pemantauan ketat terus dilakukan melalui jejaring surveilans nasional. Berdasarkan data epidemiologi pusat, akumulasi kasus suspek Hantavirus di Indonesia sepanjang periode 2024 hingga Mei 2026 mencapai 256 kasus.
Dari jumlah suspek tersebut, terdapat 23 kasus yang terkonfirmasi positif HFRS. Sebaran pasien positif terdeteksi di enam provinsi, meliputi DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Tren temuan kasus menunjukkan lonjakan signifikan pada tahun lalu. Pada 2024 hanya ditemukan 1 kasus konfirmasi, kemudian melonjak drastis menjadi 17 kasus sepanjang 2025. Sementara untuk tahun 2026 berjalan, otoritas kesehatan mencatat telah ditemukan 5 kasus konfirmasi positif hingga bulan Mei. (Bil)