Kanal

Asa Berujung Duka, Penambang Emas Ilegal Tewas Tertimbun Longsor di Kuansing

RIAUIN. COM- Mentari belum sepenuhnya memanggang bumi Kuantan Singingi ketika Dandi Mardoli (20) bersama rekannya bergegas menuju pinggiran Bendungan Danau Kebun Nopi. Bukan untuk memancing ikan atau sekadar menikmati sejuknya embun pagi, melainkan untuk menggali asa dari perut bumi.

Mereka adalah bagian dari ribuan orang yang memilih jalan sunyi sebagai penambang emas ilegal, sebuah pilihan antara perut lapar dan risiko maut, antara harapan rupiah dan kejaran hukum.

Di lahan bekas galian yang menganga seperti luka di hamparan hijau Bukit Pedusunan, Dandi dan rekannya menurunkan rakit mesin robin. Suara gemuruh mesin pengisap bercampur dengan debur air dan pekikan burung hutan menjadi orkestra harian mereka.

Tanah merah yang basah dan labil adalah ladang sekaligus ancaman. Setiap sedotan mesin, adalah pertaruhan nyawa. Tebing-tebing tanah yang menjulang tanpa penyangga bisa runtuh kapan saja, mengubur harapan dan mengakhiri perjuangan dalam sekejap.

Kamis sore kemarin, (8/5/2025) sekitar pukul 16.30 WIB, alam menunjukkan kuasanya. Tanah yang mereka injak, yang mereka harap memberikan rezeki, tiba-tiba bergerak ganas. Longsor! Tebing tanah bekas galian runtuh, menimpa Dandi tanpa ampun. Rekannya, yang selamat dari maut, seketika diliputi kepanikan dan ketidakberdayaan.

Namun, naluri untuk menyelamatkan sahabatnya mengalahkan rasa takut. Ia berlari mencari pertolongan ke perkampungan terdekat, membawa kabar buruk yang memecah sunyi sore itu. Warga Desa Bukit Pedusunan bergerak cepat. Bersama anggota Polsek Kuantan Mudik, Babinsa, dan aparat desa, mereka menyisir lokasi longsor.

Kegelapan mulai merayap, menambah sulitnya pencarian. Namun, semangat untuk menemukan Dandi tak surut. Dua jam berlalu dalam ketegangan dan doa. Hingga akhirnya, sekitar pukul 18.20 WIB, tubuh Dandi ditemukan. Bukan lagi sosok pemuda penuh harapan, melainkan jasad yang terbujur kaku. Tangis pecah.

Kepergian Dandi menambah panjang daftar nyawa yang melayang di lubang-lubang tambang ilegal Kuansing. Sebuah peristiwa menyedihkan, di mana emas yang diharapkan membawa kesejahteraan justru merenggut nyawa. Jenazah Dandi kemudian dibawa dengan ambulans menuju rumah duka di Desa Saik, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat.

Di balik duka ini, tersembunyi cerita pilu tentang himpitan ekonomi. Banyak warga di Kuansing terpaksa memilih jalan penambangan emas ilegal karena keterbatasan lapangan pekerjaan dan sulitnya mencari alternatif penghidupan yang layak. Mereka tahu risiko yang mengintai, bukan hanya bahaya longsor dan kecelakaan kerja, tetapi juga ancaman pidana dan kejaran aparat penegak hukum.

Aktivitas penambangan emas ilegal jelas melanggar hukum. Selain merusak lingkungan, juga berpotensi menimbulkan konflik sosial. Aparat kepolisian tak henti melakukan penertiban, namun kucing-kucingan dengan para penambang terus terjadi. Mereka bergerak sembunyi-sembunyi, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, menghindari jejak agar tak terendus petugas.

Bagi Dandi, perjuangan mencari rezeki di perut bumi telah berakhir tragis. Namun, kisah hidupnya menjadi catatan betapa beratnya tantangan yang dihadapi para penambang emas ilegal di Kuansing. Mereka mempertaruhkan segalanya demi sesuap nasi, menantang maut di bawah reruntuhan tanah dan menghindari kejaran hukum di belantara rimba.

Miris memang, di tengah kekayaan alam yang seharusnya bisa memberikan kesejahteraan bagi semua, bukan justru merenggut nyawa dan menimbulkan ketakutan. Peristiwa yang menimpa Dandi seharusnya membuka mata semua pihak akan kompleksitas permasalahan penambangan emas ilegal dan perlunya solusi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. (hen
 

Ikuti Terus Riauin

Berita Terkait

Berita Terpopuler