RIAUIN.COM - Pemerintah Daerah Kabupaten Kuantan Singingi, menuai badai kritik dari masyarakat atas rencana kontroversial pembelian mobil mewah bernilai miliaran rupiah untuk kendaraan dinas wakil bupati beserta istrinya. Langkah ini semakin memperburuk citra Pemda di tengah kondisi keuangan daerah yang sedang dilanda krisis parah dan infrastruktur pendidikan yang memprihatinkan.
Informasi yang dihimpun RIAUIN.COM menyebutkan bahwa Bagian Umum Sekretariat Daerah (Setda) Kuansing juga dijadwalkan menerima mobil dinas baru dengan total nilai mencapai Rp 1,5 miliar. Rencana pengadaan kendaraan mewah ini mencuat bagai petir di siang bolong, mengingat defisit anggaran Pemda Kuansing yang dilaporkan mencapai angka fantastis, yakni Rp 500 miliar. Dampaknya, sejumlah proyek pembangunan strategis terpaksa ditunda pembayarannya.
Ironisnya, di saat Pemda Kuansing berencana menggelontorkan dana besar untuk kemewahan, kondisi infrastruktur pendidikan di wilayah tersebut justru memprihatinkan. Sekolah Dasar Negeri (SDN 016) di Air Buluh menjadi potret buram ketidakpedulian pemerintah. Atap sekolah bocor parah dan plafon runtuh, menciptakan kondisi belajar mengajar yang tidak kondusif dan mengancam keselamatan siswa serta guru. Mirisnya, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda perbaikan yang dilakukan oleh pihak terkait.
Kontrasnya prioritas anggaran ini sontak memicu gelombang kekecewaan dan kemarahan di kalangan masyarakat Kuansing. Mereka menilai bahwa Pemda telah mengabaikan kebutuhan mendasar publik, seperti perbaikan infrastruktur pendidikan yang jelas-jelas dalam kondisi darurat.
"Kami sangat kecewa dengan rencana ini. Di satu sisi, anak-anak kita belajar di sekolah yang atapnya bocor dan hampir roboh, tapi di sisi lain, Pemda malah mau beli mobil mewah. Ini sangat tidak adil dan tidak punya empati," ungkap salah seorang warga Air Buluh dengan nada geram, Selasa (15/4/2025).
Menanggapi polemik yang berkembang, Wakil Bupati Kuansing, H Mukhlisin, dengan tegas membantah keterlibatannya dalam permintaan pengadaan mobil dinas baru tersebut. Ia menjelaskan bahwa meskipun regulasi memperbolehkan fasilitas penunjang kinerja kepala daerah, dirinya sejak awal tidak pernah mengajukan permintaan tersebut.
"Sejak awal saya tidak pernah meminta, Bang. Meski itu regulasinya jelas, tentang fasilitas penunjang kinerja kepala daerah. Namun itu kayaknya sudah Pemda anggarkan sebelum saya dilantik. Alhamdulillah sampai sekarang saya masih beraktivitas dengan kendaraan saya pribadi," jelas Mukhlisin saat dikonfirmasi RIAUIN.COM.
Lebih lanjut, Mukhlisin mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam terhadap kondisi keuangan daerah yang sedang sulit. Bahkan, ia mengaku telah menggunakan anggaran pribadinya untuk menjalankan tugas pengabdiannya selama dua bulan terakhir. "Dan masih pakai anggaran pribadi selama 2 bulan ini," cetusnya.
Sorotan tajam juga tertuju pada alokasi anggaran di Dinas Pendidikan (Disdik) Kuansing. Merujuk pada postur belanja modal tahun lalu, anggaran untuk kegiatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bahkan mencapai Rp 7 miliar, yang sebagian besar digunakan untuk pengadaan laptop.
Hal ini semakin memperkuat anggapan masyarakat bahwa Disdik seharusnya lebih memprioritaskan perbaikan gedung sekolah yang kondisinya sudah lama rusak, seperti yang terjadi di SDN 016 Air Buluh, dibandingkan belanja kebutuhan yang dinilai kurang mendesak.
Ketua LSM Permata Kuansing, Junaidi Afandi, turut angkat bicara. Ia mendesak Pemda Kuansing untuk segera meninjau kembali rencana pembelian mobil mewah tersebut. Junaidi menekankan pentingnya mengalihkan anggaran untuk perbaikan infrastruktur pendidikan serta kebutuhan mendesak lainnya yang memiliki prioritas lebih tinggi dan manfaat langsung bagi kepentingan publik.
"Kami berharap Pemda memiliki kepekaan terhadap kondisi riil masyarakat. Anggaran yang ada seharusnya diprioritaskan untuk hal-hal yang lebih krusial, seperti perbaikan sekolah yang rusak parah. Jangan sampai citra Pemda semakin buruk di mata masyarakat akibat kebijakan yang tidak pro-rakyat ini," tegas Junaidi. (hen)