RIAUIN. COM - SMA Negeri Pintar, sebuah sekolah menengah atas di Telukkuantan yang terkenal dengan fasilitas modern dan prestasi akademiknya, mendadak mengalami pemadaman listrik total pada hari Selasa pagi yang cerah. Kejadian ini tentu saja mengejutkan seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga staf administrasi.
Bukan hanya siswa yang murung, tetapi seluruh warga sekolah merasakan getirnya kenyataan: aliran listrik diputus oleh PLN. Penyebabnya? Tunggakan pembayaran yang menggunung, menumpuk seperti beban berat di pundak sekolah.
Suasana pagi yang biasanya riuh dengan canda tawa siswa, kini berubah sunyi. Ruang-ruang kelas yang biasanya terang benderang, kini remang-remang. Laboratorium komputer yang menjadi jantung pembelajaran digital, mati suri. Perpustakaan yang nyaman untuk belajar, gelap gulita. Bahkan, suara bel sekolah yang menjadi penanda waktu, tak terdengar lagi.
Itulah gambaran gelap gulitanya situasi di SMA Pintar saat ini. Para siswa terpaksa belajar dalam kondisi minim cahaya. Kipas angin yang biasanya berputar sejuk, kini diam membisu, membuat udara di dalam kelas terasa pengap dan panas. Keringat membasahi seragam, konsentrasi buyar, dan semangat belajar pun meredup.
" Sehubungan dengan kondisi ini, dan untuk meminimalisir risiko akibat ketiadaan penerangan, seluruh peserta didik akan dipulangkan lebih awal. Kami Informasikan kepada Bapak/Ibu sudah dapat menjemput putra/putrinya pada hari ini Selasa, 25 Februari 2025, mulai pukul 17.00 WIB hingga malam hari, " kata Humas SMA Pintar Telukkuantan Provinsi Riau melalui pesan WhatsApp kepada orang tua siswa.
Kata Humas, hingga saat ini listrik di lingkungan sekolah masih belum dapat diaktifkan akibat pemutusan sementara karena kendala pembayaran. " Permasalahan ini telah disampaikan kepada Dinas Pendidikan Provinsi Riau, namun hingga pengumuman ini disampaikan, belum ada kepastian mengenai waktu pemulihan listrik, " ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Riau Abdul Wahid ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat Whatsapp belum memberikan jawaban. Kendati pesan yang dikirim kepada orang nomor satu di Riau itu terlihat contreng dua. (hen)