RIAUIN.COM - Anggota DPR RI dapil Riau 1 Syahrul Aidi Maazat mengatakan, untuk tahun 2025 ini pihaknya sudah menganggarkan dana dari pokok pikiran (pokir) untuk melanjutkan pembangunan turap pemecah ombak di Desa Sei Upih, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan.
"Tahun 2023 lalu, saya sudah menganggarkan dana pokir untuk bangun turap di Desa Sei Upih sepanjang 200 meter dengan anggaran biaya sekitar Rp 20 miliar. Proyek ini dikerjakan Balai Wilayah Sungai (BWS) III, Kementerian Pekerjaan Umum. Insyaallah, tahun ini kembali dianggarkan dengan panjang yang sama tahun 2023 lalu," kata Syahrul menjawab Roauin.com, Rabu (22/1/2025).

Syahrul Aidi Maasat LC MA.
Legislator dari PKS ini mengakui, keinginan masyarakat Desa Sei Upih agar dibangun tanggul pemecah ombak sepanjang 4 kilometer yang berada di sepanjang bibir pantai, namun anggaran yang dibutuhkan untuk itu sangat besar.
Namun, dia berupaya untuk melobi pemerintah pusat agar keinginan masyarakat yang sebagian besar merupakan petani padi, dapat terwujud.
"Anggaran sangat besar kalau dibangun tanggul 4 km sesuai keinginan masyarakat di sana, tapi saya terus mencoba untuk melobi pemerintah pusat agar keinginan warga Sei Upih bisa diwujudkan agar air laut tak masuk ke pesawahan warga," jelasnya.
Ratusan petani padi di sejumlah desa di Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, mengeluhkan bencana air pasang yang melanda ribuan hektare lahan pesawahan. Akibat air pasang itu, mereka terancam gagal panen padi, karena lahan mereka terendam air asin.
Pantauan Riauin.com di lokasi, dari sembilan desa yang ada di Pulau Mendol (Penyalai), lahan terparah terdampak bencana air pasang adalah Desa Sei Upih, Sei Solok, Teluk Beringin dan Desa Teluk Bakau.
"Sekitar 1.200 hektar areal sawah di empat desa ini sudah digenangi air asin. Musim Utara berdampak buruk bagi petani padi di Pulau Mendol ini," kata Mantan Kades Sei Upih (2008-2020) Husaepa, Rabu (15/1/2025).
.jpg)
Dia menceritakan Pulau Mendol dulunya merupakan daerah penghasil beras terbesar di Provinsi Riau. Meski tidak berada di daratan seperti lahan sawah pada umumnya, namun tanaman padi begitu mudah tumbuh dan menghasilan beras berkualitas tinggi di Pulau Mendol ini.
"Namun, sejak 10 tahun terakhir sekitar 300 meter daratan sudah tergerus akibat abrasi. Kalau kondisi tetap dibiarkan pemerintah, tak akan ada lagi masyarakat yang mau menanam padi. Harus dibangun turap pemecah ombak, agar air pasang tak masuk ke lahan pesawahan, cuma itu solusinya," jelas Husaepa.
Dia mengaku sudah berkali-kali menyampaikan persoalan ini kepada Kades, Camat dan bahkan Bupati Pelalawan, namun belum ada solusi yang diberikan guna mengantisipasi persoalan air pasang ini.
"Kami begitu berharap Presiden Prabowo bisa mewujudkan keinginan petani untuk dibangunkan tanggul pemecah ombak sepanjang 4 kilometer di desa kami ini," jelasnya.
Ketua Kelompok Tani Beringin Indah 3 Desa Sei Upih Hary Wibowo juga mengeluhkan persoalan tersebut. Dia menjelaskan, di tahun 2023, Balai Wilayah Sungai (BWS) III, Kementerian Pekerjaan Umum, sudah membangun pengaman pantai berupa batu disusun sepanjang 200 meter atau pemecah ombak. Namun hal itu belum mampu menahan air pasang yang sangat kuat masuk ke daratan.
"Apalagi saat musim angin utara dari Selat Malaka saat ini, air pasang sudah masuk ke areal pesawahan. Ribuan tanaman padi mati, karena terendam air asin," ujar Hary diamini Ketua RT 5 RW 3 Desa Sei Upih, Muhammad Ali.
Dikatakannya, pengerjaan pemecah ombak yang dikerjakan BWS III sepanjang 200 meter itu merupakan dana pokir dari anggota DPR RI Syahrul Aidi Maasat.
"Kami berterima kasih kepada Pak Syahrul yang sudah memperjuangkan pembangunan turap ini. Namun, kita berharap pemerintah pusat kembali membangun turap pemecah ombak ini, karena turap yang ada tak mampu menahan bencana air pasang," jelasnya.(nal).