RIAUIN.COM- Film dokumenter "Yang Tak Pernah Hilang" hari ini, Sabtu (22/6/2024) mulai diputar di bioskop Epicentrum 2, Jakarta. Film yang digagas sebagai bentuk memorialisasi dan perjuangan #MelawanLupa jejak sejarah kelam peristiwa pelanggaran HAM tahun 1998.
Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) dan #KawanHeramBimo di sekretariat Kontras di Jakarta, Jumat (21/6/2024) kemarin menggelar jumpa pers terkait peluncuran film dokumenter ini.
Film ini mengisahkan sejarah dua orang aktivis mahasiswa Universitas Airlangga, Herman Hendrawan dan Petrus Bima Anugerah hilang saat peristiwa kelam pelanggaran HAM masa lalu. Sebelumnya film Yang Tak Pernah Hilang telah diluncurkan pertama kali di Surabaya pada Maret 2024.
Produser film yang juga Ketua Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Jawa Timur, Dandik Katjasungkana, mengatakan pembuatan film ini merupakan bagian dari upaya untuk mendesak pemerintah serta elit politik agar menyelesaikan kasus ini dan sebagai perjuangan #MelawanLupa.
“Film ini sebagai upaya menghidupkan kembali ingatan tentang kawan yang hilang dan tidak adanya upaya untuk mengungkap keberadaan mereka hingga kini,” ujarnya.
Menurut Dandik, ide film telah digagas pada 2019 dan selesai Februari 2024. Dandik melihat isu kemanusiaan yang menjadi benang merah dalam film ini.
“Jangan sampai isu besar kemanusiaan soal penghilangan paksa yang kami angkat dalam film ini akhirnya dianggap recehan,” ujarnya.
Utomo Rahardjo, ayah dari Bimo Petrus mengaku penuh haru atas kehadiran film ini. “Seperti energi baru untuk berjuang bagi anak saya yang masih hilang. Upaya mengingat Bimo dan Herman melalui film ini menjadi kekuatan tersendiri bagi saya,” ujarnya.
Keluarga Herman Hendrawan di Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menyebut film ini membuat sosok Herman seolah selalu hidup. Hera Haslinda, kakak Herman ngatakan, film ini menegaskan bahwa Herman tidak pernah hilang dari ingatan.
"Film ini menegaskan bahwa Herman tidak pernah hilang dari ingatan dan hati semua orang terdekatnya. Meski secara fisik Herman tidak berada di antara kami," ujarnya.
Dosen FISIP Universitas Jember yang juga kawan dua aktivis tersebut, Muhammad Iqbal menyebut, hilangnya Herman dan Bimo adalah tragedi kemanusiaan.
“Film Yang (Tak Pernah) Hilang ini harus dilihat dalam konteks sejarah masa depan, bagaimana peradaban dibangun dengan sebuah tanggung jawab, kejujuran, keterbukaan, yang sampai hari ini absen. Problem besarnya adalah bagaimana mengungkap peristiwa kemanusiaan ini,” katanya.
Sementara itu, Airlangga Pribadi, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga menyebutkan dari jejak sejarah film bisa dilihat di sini bahwa mereka yang berjuang ternyata adalah orang-orang yang mencintai negaranya.
"Mereka memiliki wawasan serta visi mendalam tentang demokrasi. Mereka mengorbankan semuanya untuk perubahan keadilan di Republik ini,” ujarujarnya.
Menurut Zaenal Mutaqien, Sekjen IKOHI, film ini akan membantu generasi muda untuk mengetahui luka-luka sejarah di balik kisah heroisme gerakan reformasi 1998.
“Kisah kelam kekuasaan yang menggunakan militer untuk menculik para ativis reformasi penting untuk kaum muda agar tidak terulang di masa depan. Film ini adalah alat perjuangan melawan lupa,” tandas Zaenal.
Pada akhirnya film ini juga bisa dianggap sebagai juru bicara harapan keluarga korban penculikan aktivis 1997 dan 1998.
Hera kakak Herman meminta kesungguhan pemerintah untuk menuntaskan kasus penghilangan paksa 13 orang mahasiswa era 1997-1998. “Untuk pemerintah, minta tolong diselesaikan, dituntaskan masalah ini supaya terungkap. Kalau memang tahu makam, kuburannya, ya diberi tahu agar kami bisa ke sana, ziarah. Kalau memang tidak ketemu, pemerintah memberikan statemen,” tandasnya.
Utomo Raharjo juga telah lebih dari 26 tahun berjuang untuk mendapatkan kepastian anaknya mengungkapkan, ”Yang menjadi kegelisahan keluarga korban sekarang ini tidak tahu keberadaan anak-anak kami. Jadi, yang pertama kami ingin agar pemerintah mencari keberadaan para aktivis tersebut," sebutnya.
Dia berharap film ini menjadi pemicu agar pemerintah menuntaskan kasus penghilangan paksa aktivis 1997/ 1998 serta mendorong masyarakat agar terus berjuang #MelawanLupa atas semua kasus pelanggaran HAM di masa lalu. -vie, rls