BANGSA ini terlahir dengan semangat gotong royong orang-orangnya. Semangat itu dijewantahkan dalam berbagai kearifan lokalnya masing-masing. Di Kabupaten Kampar misalnya, ada tradisi gotong royong dalam bertani yang dilakukan bergiliran.
"Hari ini semua kerja bakti di sawah saya, besok pindah ke sawah petani lain, lusanya ke sawah atau kebun yang lain lagi. Begitu seterusnya. Sampai seluruh kepala keluarga yang ikut Batobo mendapat giliran," kata Afrizal, putra Kampar yang masih menjalani tradisi Batobo.
Afrizal adalah sedikit dari masyarakat petani Kampar yang masih memelihara tradisi Batobo. Batobo adalah kegiatan gotong royong untuk mengerjakan ladang yang dilakukan bersama-sama. Biasanya mereka saling bantu membantu pada musim-musim tanam dan musim panen. Setiap kelompok Batobo terdiri dari 10 sampai 15 kepala keluarga. Namun kalau lahannya besar, jumlah warga yg ikut bisa lebih banyak lagi.
Mereka bekerja mulai dari pagi hingga tengah hari. Kemudian dilanjutkan setelah waktu dzuhur sampai masuk waktu ashar. Untuk makan siang biasanya setiap keluarga membawa makanan masing-masing dari rumah. Ada juga makanan yang disiapkan petani pemilik lahan. Kemudian disantap bersama-sama di pematang sawah atau di tepi kebun. Makan dengan tukar menukar lauk pauk, sambil bercengkerama. Benar-benar suasana kampung yang penuh kegembiraan. Semakin nikmat dengan bau khas sawah dan ladang.
Bagaimana dengan warga masyarakat yang tidak punya lahan?
"Dia tetap saja ikut Batobo," jelas Afrizal yang ditemui di Pekanbaru, Sabtu (26/10/2019).
Bagi yang tak memiliki tanah atau sawah, kata pria asal kampung Pulau Kecamatan Bangkinang, tetap diperbolehkan bergabung bersama para petani yang lain. Memang tidak semua masyarakat petani sekarang punya lahan sendiri. Kebanyakan mereka bekerja sebagai buruh tani yang dibayar oleh pemilik lahan. Bisa dibayar harian, bulanan atau setiap masa panen. Tergantung kesepakatan.
Dalam tradisi batobo pun begitu. Para petani yang tidak punya lahan tetap bergabung bersama para petani yang punya lahan. Mereka akan diberikan upah yang layak oleh si pemilik lahan. Namun jika aktivitas dilakukan pada masa panen, selalunya upah diberikan berupa hasil panen. Bisa beras, buah-buahan, dan sayur-sayuran.
"Tapi bukan soal upah yang membuat Batobo ini dipertahankan petani. Melainkan kekompakan dan persaudaraan," tukas Akhir Yani, tokoh masyarakat Desa Pulau Godang Kecamatan XIII Koto Kampar kepada Riauin.com, Minggu (27/10/2019) di Bangkinang.
Dikatakan Akhir, Kalau di tempatnya, masa bekerja bergiliran itu disebut ambiok aghi atau mengambil hari. Setiap petani bergantian mengerjakan lahan secara bersama-sama dengan petani lainnya. Ada tiga hal dalam ambiok aghi tersebut. Yakni manuge atau menanam padi, mambesiang atau membersihkan rumput liar pada tanaman padi, kemudian manuai atau memanen menggunakan ani-ani.
Dalam tradisi Batobo ada nilai-nilai lokal yang menjadi perekat masyarakat, yang kemudian menjadi karakteristik masyarakatnya. Misalnya hidup dalam kegembiraan, kekompakan, kedisiplinan, kerja keras, saling peduli satu dengan lainnya, saling terbuka karena terjalinnya komunikasi yang hangat, dan pandai berpantun.
Pandai berpantun, maksudnya? "Sebagai hiburan pengobat penat dan letih, maka para petani biasanya saling berpantun. Pantun inilah yang disebut dengan bandondang," jelas Rina Hasan, aktivis perempuan Kampar yang juga seorang pegiat budaya, Minggu (27/10/2019).
Badondang ini menurutnya sudah terkenal. Ia merupakan salah satu bentuk karya sastra lisan yang isinya seperti pantun. Dalam pantun ini terdapat metafor-metafor serta penggunaan tanda bahasa yang menarik. Sebagian membawakan pantun-pantun tersebut nada-nada yang indah, seperti irama syair. Oleh sebab itu tak heran kalau acara Batobo juga ditonton oleh anggota keluarga petani atau anggota masyarakat lainnya.
Keunikan bandondang terletak pada sambutan dari penonton ketika ada yang menyampaikan pantun. Pada setiap ujung kalimat pantun yang berupa nasihat, pemuda atau pemudi berteriak “Botue tuu...†(Betul itu), “Yolaaa.. tunggu apo lai.. (Iyalah, tunggu apa lagi).. Jalankanlah duu (Laksanakanlah).
"Ya. Batobo dulunya merupakan sarana hiburan sekaligus sarana komunikasi yang efektif di kampung-kampung. Di acara Batobo, orang-orang tua menasihati yang muda. Orang-orang muda bertanya kepada yang tua. Setiap masalah yang muncul dibincangkan dan dicarikan solusinya. Tak ada yang ditutup-tutupi, sepanjang itu menyangkut kepentingan masyarakat ramai," kata Rina.
Karena dalam Batobo ada sastra lisan maka secara karakteristik masyarakat Kampar, khususnya di kampung tersebut, orangnya pandai bicara. Orang yang suka berbincang selalunya berpikiran terbuka. Dengan masyarakat yang berpikiran terbuka maka berdampak pada kehidupan desa menjadi dinamis.
"Coba dengarkan bait badondang ini," ucap Rina. Dia pun membacakan sebait pantun yang selalu dibawakan petani saat Batobo.
"...Pandai-pandai bakain panjang/Buek sarupo bakain saruang/Pandai-pandai bainduak somang/Buek sarupo jo ibu kanduang..."
Pantun diatas adalah nasihat yang selalu disampaikan orang-orang tua kepada anak-anak muda. Artinya "Pandai-pandai berkain panjang/Buat seperti berkain sarung/Pandai-pandai berinduk semang/Buat seperti dengan ibu kandung". Pantun tersebut menjadi lebih menyentuh ketika ia disampaikan dalam bentuk syair yang berirama. Selalunya kaum ibu yang membawakannya.
Atau juga bait pantun yang mengingatkan perilaku baik dan buruk yang harus dipahami anak-anak muda.
"...Intan-intan pulau anggoda/Toluak siantan solo aghu. Acu santan adiok simpola/Manokan omua bacampu bawu..."
Artinya "Intan-intan Pulau Anggoda/Teluk Siantan Solok Aru/Abang santan adik ampasnya/Tidaklah mungkin akan bersatu."
Pantun jenis nasihat itu dan juga bait-bait pantun lainnya kadang dibawa dengan irama yang mendayu-dayu. Sehingga bagi siapa saja mendengarnya menjadi tersentuh.
Pantun Batobo atau badondang sendiri merupakan salah satu tradisi masyarakat Riau yang saat ini sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kemdikbud pada tahun 2017. Tradisi Batobo tidak hanya kuat pada nilai ekonominya, tetapi juga sangat kuat pada sosial budayanya.
***
“Musim tanam pertama itu biasanya dimulai setelah Lebaran Haji atau Hari Raya Idul Adha," kata Mawardi ketika dihubungi Riauin.com, Senin (28/10/2019). Mawardi juga seorang tokoh pemuda Kampar yang sering mengikuti tradisi Batobo.
Menurutnya, secara umum tradisi Batobo masih wujud dan oleh beberapa daerah di Kabupaten Kampar berlangsung sampai sekarang. Walaupun sudah cenderung memudar namun bagi sebagian petani tradisi Batobo tetap mereka pertahankan. Hal ini disebabkan manfaat Batobo sangat terasa baik dari sisi ekonomis maupun non-ekonomis.
"Dengan Batobo petani tidak harus membayar upah menanam dan memanen. Kalau diuangkan jumlahnya cukup besar juga. Manfaat lainnya tentunya menjaga nilai-nilai moral di tengah masyarakat, khususnya generasi muda," sebut Mawardi.
Di Kampar terdapat beberapa jenis Batobo. Pertama, Batobo yang hanya dilakukan oleh kaum perempuan. Ini merupakan awal pertama Batobo dikenal dalam masyarakat. Pada zaman itu, kaum lelaki umumnya hidup tidak menetap di kampung atau pergi merantau, sehingga untuk kegiatan atau urusan pertanian sepenuhnya dilaksanakan oleh kaum perempuan. Tobo jenis ini disebut dengan tobo induok-induok atau tobo ibu-ibu.
Kedua, setelah anak-anak mereka tumbuh menjadi dewasa maka para pemuda mulai membantu mengelola lahan. Kemudian muncullah Tobo Bujang yang beranggotakan laki-laki, baik yang belum menikah maupun yang sudah menikah. Ketiga, Batobo jenis campuran. Jenis ini merupakan perkembangan yang lebih maju karena adanya Tobo Bujang Gadih atau tobo pemuda-pemudi yang anggotanya terdiri dari lelaki dan perempuan, baik yang sudah menikah ataupun belum.
Setiap Tobo atau kelompok petani yang melaksanakan Batobo umumnya dipimpin oleh tuo tobo (ketua kelompok) dengan anak tobo (anggota) berkisar antara 15-20 kepala keluarga, atau 20-40 orang. Kegiatan Batobo dibagi dalam beberapa bagian. Pertama kegiatan menyemulo yaitu ketika para petani mencangkul lahan untuk pertama kali. Kemudian dilanjutkan dengan mambaliok tanah atau mencangkul lahan untuk kedua kalinya. Lalu diteruskan dengan malunyah atau menginjak-injak lahan dengan kaki, dimana kegiatan ini khusus untuk sawah. Setelah itu mananam bonih atau menanam benih. Dan terakhir kegiatan mamanen atau memetik hasil.
"Aktivitas ini dilakukan pada setiap kali musim tanam. Ada yang dilakukan sekali dalam setahun. Namun seiring dengan perkembangan teknologi setahun bisa dua sampai tiga kali masa tanam dan panen. Ini artinya frekuensi pertemuan masyakarat dalam Batobo cukup sering dalam setahun," jelas Mawardi lagi.
Dia mencontohkan di sekitar Desa Pulau Rambai, Kecamatan Kampar Timur, ada dua jenis sawah yang mereka tanami. Yakni sawah tanah basah yang hasilnya dikenal dengan padi sawah, musim panennya dilakukan dua tahun sekali. Dan sawah tanah kering yang biasa hasil panennya dikenal dengan padi kering dengan musim panen setahun sekali.
***
Batobo atau bertani arisan merupakan bahasa lain dari hidup bergotong-royong. Filosofi bergotong-royong sudah menjadi akar budaya masyarakat Indonesia sejak beratus tahun lalu lamanya. Gotong royong bukan sebatas kerja bersama, namun lebih dari itu. Gotong royong menguatkan persaudaraan semua anggota masyarakat, peduli, terbuka karena terjalin komunikasi yang hangat.
Seperti itulah Batobo. Pada masyarakat yang masih menjalankan tradisi Batobo boleh dikatakan tidak akan mudah diserang berita fitnah, info adu domba, dan juga hoax. Sesama anggota Batobo akan langsung bertanya atau mendiskusikan hal-hal yang berpotensi menjadi masalah bagi masyarakat.
"Setiap ada hal yang mencurigakan baik datang dari dalam maupun yang datang dari luar, masyarakat membincangkannya saat pelaksanaan Batobo. Di sana suasananya sangat cair dan akrab. Boleh dikatakan tidak ada celah bagi pihak tertentu yang hendak bikin resah apalagi rusuh dengan menghembuskan informasi bohong atau hoax. Di acara Batobo, atau melalui tuo tobo, informasi tersebut langsung diklarifikasi kepada pihak terkait," jelas Akhir Yani.
Senada dengan Akhir Yani, Rina Hasan menambahkan, "Masyarakat yang biasa Batobo selalunya pintar bicara. Pastilah mereka tidak akan tinggal diam ketika ada isu-isu yang merugikan masyarakat. Apalagi isu itu hoax yang bisa memecah-belah masyarakat."
Kerabatan yang terjalin melalui Batobo boleh dikatakan lebih daripada kegiatan masyarakat lainnya. Batobo itu mempererat persaudaraan. Yang tua diayah-ibukan, yang muda dianak-kemenakankan. Yang sebaya seperti saudara kandung, adik-beradik.
"... Tuai anak padi dituai/Oi sipulut anak… Dibuat pekantuai/Anak sayang emak sayang padi dituai/Emak mengais anak sayang/Mencari makan..."
Sayup-sayup masih terdengar syair Batobo yang mendayu-dayu, yang menyentuh perasaan, dari handphone milik Rina. Lirik syair Batobo memiliki makna yang dalam. Ia didapat dari orang-orang tua dulu, kemudian disampaikan berulang-ulang kepada generasi penerus.
"...Kain sasugi nak oi sayang/Pemagar benih/Ayo bersama pergi ke ladang/Menanam padi sayang menanam benih..." ***