PILIHAN
Mahasiswa KKN Edukasi Etika Bermedia Sosial bagi Siswa SD di Benai Kecil
08 September 2026
Mahasiswa KKN Kelompok 81 Edukasi Anak TK Pentingnya Menabung Sejak Dini
08 September 2026
Dua Srikandi ASN Kuansing Meraih Gelar Doktor
06 September 2026
Fakta soal Freeport Untung 81 Persen ala Prabowo
Jakarta, Riauin.com -- Calon Presiden Prabowo Subianto menyebut bahwa Freeport McMoran melaporkan untung sebesar 81 persen dari kepemilikan sahamnya di PT Freeport Indonesia kepada The New York Stock Exchange (NYSE). Pernyataan itu disampaikan saat mengomentari pengambilalihan 51 persen saham Freeport Indonesia oleh Pemerintahan Jokowi.
Menurut Prabowo, langkah pemerintah tersebut etok-etok alias pura-pura. "Freeport ya memang sesuai kontrak jatuh ke kita. Tapi, sadar tidak Freeport melaporkan di NYSE keuntungannya 81 persen ke mereka. Jadi, 51 persen saham itu agak etok-etok," ujarnya dalam debat capres tadi malam, Sabtu (30/3).
Benarkah demikian?
Mengutip investors.fcx.com, Freeport McMoran meraup laba bersih yang diatribusikan dengan saham sebesar US$140 juta pada kuartal keempat tahun lalu. Kendati mencatat laba, jumlahnya justru rontok 86 persen dibanding perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya, yakni US$1,04 miliar.
Perlambatan pertumbuhan laba karena total pendapatan Freeport McMoran juga melorot 26 persen pada kuartal keempat tahun lalu menjadi US$3,68 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu US$5,04 miliar.
Freeport McMoran sendiri telah menyelesaikan transaksi dilusi saham Freeport Indonesia dengan Pemerintah Indonesia pada 21 Desember 2018 lalu. Indonesia melalui PT Inalum resmi menggenggam 51 persen saham Freeport Indonesia dengan membayar US$3,85 miliar.
Sayangnya, proyeksi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan laba Freeport Indonesia pada tahun ini akan merosot lebih dari 50 persen dikarenakan transisi operasional dari tambang terbuka Grasberg ke tambang bawah tanah yang dilakukan perusahaan.
"Dari prognosa Inalum, laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) turun dari tahun lalu US$4 miliar menjadi satu koma (miliar dolar AS)," jelas Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono, awal Januari 2019 lalu.
Menurut Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak, laba Freeport Indonesia turun sejalan dengan melemahnya produksi perusahaan. Pada tahun lalu, produksi konsentrat tembaga hanya 2,1 juta ton. Sebanyak 1,3 juta ton di antaranya untuk ekspor dan 800 ribu ton sisanya dimurnikan di dalam negeri.
Akibat proyeksi laba yang melempem, Inalum selaku induk usaha menuturkan bahwa Freeport Indonesia tidak akan membayar dividen pada 2019 dan 2020. "Kami tidak akan bagi dividen dua tahun. 2021 mulai ada sedikit (dividen) dan 2022 besar, 2023 anteng (stabil)," kata Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin.
Richard C Adkerson dalam rilis mengatakan selama tahun lalu, timnya mencapai hasil operasi yang kuat. "Kami berhasil membangun kemitraan baru dengan Pemerintah Indonesia, yang melindungi nilai jangka panjang kami di Grasberg," imbuh dia.
Namun, memasuki tahun ini, Freeport McMoran, lanjut Adkerson, akan memprioritaskan peningkatan produksi dari aset bawah tanah di Grasberg, melanjutkan produktivitas dan biaya manajemen, memajukan proyek Lone Star, termasuk menentukan pertumbuhan di masa depan.
"Meskipun, ketidakpastian pasar baru-baru ini, kami tetap percaya diri pada fundamental dan prospek jangka panjang," tandasnya.(int/nol)
Menurut Prabowo, langkah pemerintah tersebut etok-etok alias pura-pura. "Freeport ya memang sesuai kontrak jatuh ke kita. Tapi, sadar tidak Freeport melaporkan di NYSE keuntungannya 81 persen ke mereka. Jadi, 51 persen saham itu agak etok-etok," ujarnya dalam debat capres tadi malam, Sabtu (30/3).
Benarkah demikian?
Mengutip investors.fcx.com, Freeport McMoran meraup laba bersih yang diatribusikan dengan saham sebesar US$140 juta pada kuartal keempat tahun lalu. Kendati mencatat laba, jumlahnya justru rontok 86 persen dibanding perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya, yakni US$1,04 miliar.
Perlambatan pertumbuhan laba karena total pendapatan Freeport McMoran juga melorot 26 persen pada kuartal keempat tahun lalu menjadi US$3,68 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu US$5,04 miliar.
Freeport McMoran sendiri telah menyelesaikan transaksi dilusi saham Freeport Indonesia dengan Pemerintah Indonesia pada 21 Desember 2018 lalu. Indonesia melalui PT Inalum resmi menggenggam 51 persen saham Freeport Indonesia dengan membayar US$3,85 miliar.
Sayangnya, proyeksi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan laba Freeport Indonesia pada tahun ini akan merosot lebih dari 50 persen dikarenakan transisi operasional dari tambang terbuka Grasberg ke tambang bawah tanah yang dilakukan perusahaan.
"Dari prognosa Inalum, laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) turun dari tahun lalu US$4 miliar menjadi satu koma (miliar dolar AS)," jelas Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono, awal Januari 2019 lalu.
Menurut Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak, laba Freeport Indonesia turun sejalan dengan melemahnya produksi perusahaan. Pada tahun lalu, produksi konsentrat tembaga hanya 2,1 juta ton. Sebanyak 1,3 juta ton di antaranya untuk ekspor dan 800 ribu ton sisanya dimurnikan di dalam negeri.
Akibat proyeksi laba yang melempem, Inalum selaku induk usaha menuturkan bahwa Freeport Indonesia tidak akan membayar dividen pada 2019 dan 2020. "Kami tidak akan bagi dividen dua tahun. 2021 mulai ada sedikit (dividen) dan 2022 besar, 2023 anteng (stabil)," kata Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin.
Richard C Adkerson dalam rilis mengatakan selama tahun lalu, timnya mencapai hasil operasi yang kuat. "Kami berhasil membangun kemitraan baru dengan Pemerintah Indonesia, yang melindungi nilai jangka panjang kami di Grasberg," imbuh dia.
Namun, memasuki tahun ini, Freeport McMoran, lanjut Adkerson, akan memprioritaskan peningkatan produksi dari aset bawah tanah di Grasberg, melanjutkan produktivitas dan biaya manajemen, memajukan proyek Lone Star, termasuk menentukan pertumbuhan di masa depan.
"Meskipun, ketidakpastian pasar baru-baru ini, kami tetap percaya diri pada fundamental dan prospek jangka panjang," tandasnya.(int/nol)
Berita Lainnya
Beredar Kabar Bupati Kuansing Nonaktif Bakal Bongkar Dugaan Pungutan PPPK Miliaran Rupiah ke KPK
Menyilangkan Faksi di Hari Merdeka: Rekonsiliasi Politik Kuansing di Lapangan Limuno
PLN UPT Pekanbaru Gelar Simulasi Tanggap Darurat Objek Vital Nasional Sambut Masa Siaga Kemerdekaan RI ke-81
Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja 13 Tahun yang Hanyut di Sungai Siak Depan Taman Singapura
Polisi Masuk Gedung Dewan: Jejak Gelap APBD Kuansing 2025 Mulai Diurai
Validasi Teriakan Aktivis dari Balik Sel: Skandal APBD Kuansing Akhirnya Diusut KPK
Beredar Kabar Bupati Kuansing Nonaktif Bakal Bongkar Dugaan Pungutan PPPK Miliaran Rupiah ke KPK
Menyilangkan Faksi di Hari Merdeka: Rekonsiliasi Politik Kuansing di Lapangan Limuno
PLN UPT Pekanbaru Gelar Simulasi Tanggap Darurat Objek Vital Nasional Sambut Masa Siaga Kemerdekaan RI ke-81
Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja 13 Tahun yang Hanyut di Sungai Siak Depan Taman Singapura
Polisi Masuk Gedung Dewan: Jejak Gelap APBD Kuansing 2025 Mulai Diurai
Validasi Teriakan Aktivis dari Balik Sel: Skandal APBD Kuansing Akhirnya Diusut KPK