PILIHAN
KLHK Sebut Karhutla di Riau Disengaja, Gubri Heran
PEKANBARU, Riauin.com - Direktur Pengendalan Karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Raffles B Panjaitan, mengatakan bahwa Karhutla yang selalu terjadi di Riau kebanyakan karena disengaja. Menanggapi hal ini Gubernur Riau, Syamsuar, mengatakan tim penegakan hukum (Gakkum) harus mendalami kasus tersebut.
Hal ini untuk memastikan apakah kebakaran lahan tersebut memang ada faktor disengaja atau tidak. Sebab lahan yang terbakar berada di kebun warga, bukan lahan kosong.
"Yang menjadi persoalan adalah kebakaran yang terjadi di Rupat bukan dilahan kosong, tapi di kebun. Kalau di kebun tak mungkin ini dibakar. Ini sedang didalami penegak hukum," kata Syamsuar saat pimpin rapat koordinasi pananganan darurat bencana Karhutla Riau, di Posko Penanganan Karhutla 2019 Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Rabu (27/2/2019).
Menurutnya, kebakaran lahan di Rupat bisa saja tidak disengaja. Mungkin ada ada orang sedang mancing membuang puntung rokok di lahan gambut.
"Kalau begitu selesai lah barang itu (kebakaran). Ini yang sering terjadi," cakap mantan Bupati Siak dua periode ini.
Disamping itu, Gubri mengakui meluasnya kebakaran karena sistem peringatan dini masih berdasarkan hotspot, sehingga sulit diidentifikasi lokasi kejadian.
"Belum lagi sumber air jauh dari akses, lalu alatnya juga terbatas, lahan kering dan angin kencang. Ini yang menyebabkan kebakaran meluas di Rupat," paparnya.
Syamsuar mengatakan, Karhutla jarang terjadi di Rupat. Kalaupun ada hanya sebentar, yang sering itu Dumai dan Bengkalis.
"Ini aneh Rupat pula terbakar. Tentu ini jadi pelajaran bagi dinas kehutanan tolong beri masukan soal data ini ambil dari LHK, supaya datanya sama," cakapnya.(int/nol)
Hal ini untuk memastikan apakah kebakaran lahan tersebut memang ada faktor disengaja atau tidak. Sebab lahan yang terbakar berada di kebun warga, bukan lahan kosong.
"Yang menjadi persoalan adalah kebakaran yang terjadi di Rupat bukan dilahan kosong, tapi di kebun. Kalau di kebun tak mungkin ini dibakar. Ini sedang didalami penegak hukum," kata Syamsuar saat pimpin rapat koordinasi pananganan darurat bencana Karhutla Riau, di Posko Penanganan Karhutla 2019 Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Rabu (27/2/2019).
Menurutnya, kebakaran lahan di Rupat bisa saja tidak disengaja. Mungkin ada ada orang sedang mancing membuang puntung rokok di lahan gambut.
"Kalau begitu selesai lah barang itu (kebakaran). Ini yang sering terjadi," cakap mantan Bupati Siak dua periode ini.
Disamping itu, Gubri mengakui meluasnya kebakaran karena sistem peringatan dini masih berdasarkan hotspot, sehingga sulit diidentifikasi lokasi kejadian.
"Belum lagi sumber air jauh dari akses, lalu alatnya juga terbatas, lahan kering dan angin kencang. Ini yang menyebabkan kebakaran meluas di Rupat," paparnya.
Syamsuar mengatakan, Karhutla jarang terjadi di Rupat. Kalaupun ada hanya sebentar, yang sering itu Dumai dan Bengkalis.
"Ini aneh Rupat pula terbakar. Tentu ini jadi pelajaran bagi dinas kehutanan tolong beri masukan soal data ini ambil dari LHK, supaya datanya sama," cakapnya.(int/nol)
Berita Lainnya
Puluhan Panel Lampu Jalan Raib, Dua Maling PJU Ditangkap Patroli Dishub Pekanbaru
Nilai Proyek Pasar Bawah Bengkak Jadi Rp76 Miliar, Pemko dan Pengelola Godok Adendum DED
Kualitas Udara Pekanbaru Masuk Level Merah, DLHK Tutup Taman Kota dan RTH
Antisipasi Titik Api Baru, BPBD Pekanbaru Gencarkan Patroli Lahan
Lampu Jalan Mati di 5 Kecamatan, PJU Pekanbaru Lumpuh Disatroni Maling
Konsentrasi PM2.5 Capai 149 µg/m³, BMKG Imbau Warga Pekanbaru Gunakan Masker
Puluhan Panel Lampu Jalan Raib, Dua Maling PJU Ditangkap Patroli Dishub Pekanbaru
Nilai Proyek Pasar Bawah Bengkak Jadi Rp76 Miliar, Pemko dan Pengelola Godok Adendum DED
Kualitas Udara Pekanbaru Masuk Level Merah, DLHK Tutup Taman Kota dan RTH
Antisipasi Titik Api Baru, BPBD Pekanbaru Gencarkan Patroli Lahan
Lampu Jalan Mati di 5 Kecamatan, PJU Pekanbaru Lumpuh Disatroni Maling
Konsentrasi PM2.5 Capai 149 µg/m³, BMKG Imbau Warga Pekanbaru Gunakan Masker