PILIHAN
Mahasiswa KKN Edukasi Etika Bermedia Sosial bagi Siswa SD di Benai Kecil
08 September 2026
Mahasiswa KKN Kelompok 81 Edukasi Anak TK Pentingnya Menabung Sejak Dini
08 September 2026
Dua Srikandi ASN Kuansing Meraih Gelar Doktor
06 September 2026
Demokrat: Jokowi-Ma'ruf Bisa Jatuh Akibat 'Gol Bunuh Diri'
Jakarta, Riauin.com -- Sekretaris Jendral DPP Partai Demokrat Hinca Panjaitan menyebut pasangan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan mendapat hasil positif pada detik terakhir Pilpres 2019.
Keyakinan itu disampaikan Hinca merespons hasil survei Indikator Politik Indonesia yang baru saja dirilis hari ini, Rabu (3/4).
Menurut Hinca, meski lawan politiknya sudah unggul tapi tak menutup kemungkinan semua keunggulan itu justru akan terbalik, hal ini sama dengan yang diungkapkan dalam survei lantaran pemilih tetap pasangan Jokowi-Ma'ruf tak sampai 50 persen.
Hinca pun menyamakan hal itu dengan sepak bola, dimana gol bunuh diri kata dia bisa muncul pada detik-detik terakhir.
"Dalam sepak bola meski lawan sudah unggul di dua babak, jangan pernah anggap hasil akhir sebelum peluit akhir berbunyi. Pada detik akhir ada yang namanya gol bunuh diri," kata Hinca.
Menurut Hinca gol bunuh diri bisa terjadi pada detik akhir pilpres. Misalnya kata dia adanya anggota tim pemenangan yang bersentuhan dengan hukum, pernyataan yang terkoreksi, dan hal lain yang membuat pemilih mengalihkan dukungan.
"Gol bunuh diri ya macam-macam, apalagi ini kan bedanya pun tipis," kata dia.
Tak hanya itu, Hinca juga membanggakan Partai yang menaungi dirinya. Kata dia Partai Demokrat sendiri memiliki 22 ribu caleg yang saat ini bekerja keras untuk pemenangan partai dan pasangan calon di pilpres.
"Dari Demokrat, seluruhnya mendukung pasangan 02," klaimnya.
Hal berbeda justru diungkapkan oleh Juru Bicara TKN, Jhony G Plate. Menurut dia gol bunuh diri yang dia anggap sebagai isu-isu hoaks yang selama ini sering dilemparkan ke arah paslon 01 Jokowi-Ma'ruf justru tak bisa menjatuhkan elektabilitas paslon dukungannya.
"Segala usaha untuk membuat kami goal bunuh diri kan gagal. Apalagi kami partai koalisi kan mendukung Pak Jokowi dengan tulus, hasil survei signifikan selalu di atas," kata dia.
Sebelumnya, Lembaga survei Indikator Politik Indonesia merilis temuan terkait basis kuat pendukung kedua pasangan calon peserta Pilpres 2019.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanudin Muhtadi, mengatakan pihaknya menemukan meski paslon nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin masih unggul, namun basis kuatnya tak sampai angka 50 persen.
Burhanudin mengatakan dari survei itu pihaknya membagi ke dalam empat golongan yakni basis kuat pendukung paslon 01, basis kuat pendukung paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, swing voters, dan undecided voters.
"Diantara basis pendukung paslon 01 yang sudah relatif [pemilih] stabil sekitar 46,6 persen sementara basis kuat paslon 02 sekitar 29,2 persen," kata Burhan.
Kata Burhanudin, merujuk pada hasil survei itu meski Jokowi-Ma'ruf memiliki basis pendukung kuat lebih tinggi, ia menilai masih terbuka kemungkinan setelah hari pemungutan suara, 17 April 2019, keadaan bisa berbalik.
Hal ini terjadi lantaran jumlah swings voters dan undecided voters di antara kedua paslon ini masih tinggi yakni sekitar 16,9 persen untuk swing voters dan 7,2 persen untuk undecided voters.
Selain itu, jumlah basis kuat pendukung paslon 01 yang berada di bawah 50 persen pun bisa mengakibatkan terbaliknya keadaan. (int/nol)
Keyakinan itu disampaikan Hinca merespons hasil survei Indikator Politik Indonesia yang baru saja dirilis hari ini, Rabu (3/4).
Menurut Hinca, meski lawan politiknya sudah unggul tapi tak menutup kemungkinan semua keunggulan itu justru akan terbalik, hal ini sama dengan yang diungkapkan dalam survei lantaran pemilih tetap pasangan Jokowi-Ma'ruf tak sampai 50 persen.
Hinca pun menyamakan hal itu dengan sepak bola, dimana gol bunuh diri kata dia bisa muncul pada detik-detik terakhir.
"Dalam sepak bola meski lawan sudah unggul di dua babak, jangan pernah anggap hasil akhir sebelum peluit akhir berbunyi. Pada detik akhir ada yang namanya gol bunuh diri," kata Hinca.
Menurut Hinca gol bunuh diri bisa terjadi pada detik akhir pilpres. Misalnya kata dia adanya anggota tim pemenangan yang bersentuhan dengan hukum, pernyataan yang terkoreksi, dan hal lain yang membuat pemilih mengalihkan dukungan.
"Gol bunuh diri ya macam-macam, apalagi ini kan bedanya pun tipis," kata dia.
Tak hanya itu, Hinca juga membanggakan Partai yang menaungi dirinya. Kata dia Partai Demokrat sendiri memiliki 22 ribu caleg yang saat ini bekerja keras untuk pemenangan partai dan pasangan calon di pilpres.
"Dari Demokrat, seluruhnya mendukung pasangan 02," klaimnya.
Hal berbeda justru diungkapkan oleh Juru Bicara TKN, Jhony G Plate. Menurut dia gol bunuh diri yang dia anggap sebagai isu-isu hoaks yang selama ini sering dilemparkan ke arah paslon 01 Jokowi-Ma'ruf justru tak bisa menjatuhkan elektabilitas paslon dukungannya.
"Segala usaha untuk membuat kami goal bunuh diri kan gagal. Apalagi kami partai koalisi kan mendukung Pak Jokowi dengan tulus, hasil survei signifikan selalu di atas," kata dia.
Sebelumnya, Lembaga survei Indikator Politik Indonesia merilis temuan terkait basis kuat pendukung kedua pasangan calon peserta Pilpres 2019.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanudin Muhtadi, mengatakan pihaknya menemukan meski paslon nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin masih unggul, namun basis kuatnya tak sampai angka 50 persen.
Burhanudin mengatakan dari survei itu pihaknya membagi ke dalam empat golongan yakni basis kuat pendukung paslon 01, basis kuat pendukung paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, swing voters, dan undecided voters.
"Diantara basis pendukung paslon 01 yang sudah relatif [pemilih] stabil sekitar 46,6 persen sementara basis kuat paslon 02 sekitar 29,2 persen," kata Burhan.
Kata Burhanudin, merujuk pada hasil survei itu meski Jokowi-Ma'ruf memiliki basis pendukung kuat lebih tinggi, ia menilai masih terbuka kemungkinan setelah hari pemungutan suara, 17 April 2019, keadaan bisa berbalik.
Hal ini terjadi lantaran jumlah swings voters dan undecided voters di antara kedua paslon ini masih tinggi yakni sekitar 16,9 persen untuk swing voters dan 7,2 persen untuk undecided voters.
Selain itu, jumlah basis kuat pendukung paslon 01 yang berada di bawah 50 persen pun bisa mengakibatkan terbaliknya keadaan. (int/nol)
Berita Lainnya
Beredar Kabar Bupati Kuansing Nonaktif Bakal Bongkar Dugaan Pungutan PPPK Miliaran Rupiah ke KPK
Menyilangkan Faksi di Hari Merdeka: Rekonsiliasi Politik Kuansing di Lapangan Limuno
PLN UPT Pekanbaru Gelar Simulasi Tanggap Darurat Objek Vital Nasional Sambut Masa Siaga Kemerdekaan RI ke-81
Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja 13 Tahun yang Hanyut di Sungai Siak Depan Taman Singapura
Polisi Masuk Gedung Dewan: Jejak Gelap APBD Kuansing 2025 Mulai Diurai
Validasi Teriakan Aktivis dari Balik Sel: Skandal APBD Kuansing Akhirnya Diusut KPK
Beredar Kabar Bupati Kuansing Nonaktif Bakal Bongkar Dugaan Pungutan PPPK Miliaran Rupiah ke KPK
Menyilangkan Faksi di Hari Merdeka: Rekonsiliasi Politik Kuansing di Lapangan Limuno
PLN UPT Pekanbaru Gelar Simulasi Tanggap Darurat Objek Vital Nasional Sambut Masa Siaga Kemerdekaan RI ke-81
Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja 13 Tahun yang Hanyut di Sungai Siak Depan Taman Singapura
Polisi Masuk Gedung Dewan: Jejak Gelap APBD Kuansing 2025 Mulai Diurai
Validasi Teriakan Aktivis dari Balik Sel: Skandal APBD Kuansing Akhirnya Diusut KPK