MASALAH pengangguran di kalangan lulusan universitas disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor penting yang menjadi perdebatan hangat di kalangan pengusaha khususnya dan masyarakat umumnya, ialah sikap segelintir lulusan itu sendiri yang dikatakan terlalu memilih pekerjaan. Keadaan ini memunculkan pertanyaan apakah lulusan saat ini terlalu 'manja' dan 'menuntut' ataukah mereka sekadar mempertahankan nilai akademis yang telah mereka perjuangkan dengan susah payah selama ini?
Hasil survei dan tanggapan balik dari industri perekrutan tenaga kerja, salah satu alasan utama lulusan menolak tawaran pekerjaan adalah karena faktor gaji yang ditawarkan tidak sepadan dengan biaya hidup saat ini, lokasi kantor yang jauh, serta tidak adanya fasilitas bekerja dari rumah (WFH). Sebagai contoh, lulusan baru yang mengharapkan gaji awal yang tinggi untuk posisi tingkat pemula (entry-level) atau sebaliknya, meskipun mereka tidak memiliki pengalaman kerja. Ketika permintaan tidak dipenuhi, mereka memilih untuk menolak tawaran tersebut dan lebih memilih menganggur.
Terlihat jelas, ketergantungan pada ekonomi gig merupakan salah satu tren baru yang turut berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi berbasis teknologi dan penciptaan konten (content creation) yang menarik dan beragam. Banyak lulusan muda kini lebih nyaman menjadi pengemudi e-hailing, pengantar makanan, atau pedagang online secara fleksibel daripada terikat dengan pekerjaan kantoran delapan sampai lima yang menawarkan gaji pokok rendah. Meskipun ekonomi gig menawarkan pendapatan cepat, para pakar ekonomi memperingatkan bahwa tren ini dapat berdampak pada pengembangan karier jangka panjang lulusan sesuai dengan bidang studi mereka di universitas.
Pandangan Lulusan
Bagi lulusan, mereka memiliki alasan tersendiri yang kebanyakan berpendapat bahwa dengan biaya kuliah yang tinggi, biaya hidup yang semakin meningkat di kota-kota besar, tawaran gaji minimum atau terlalu rendah adalah sangat tidak masuk akal. Mereka berpendapat bahwa mereka bukan memilih pekerjaan karena malas atau terlalu 'menuntut', tetapi mereka hanya bersikap realistis. Karena, jika gaji yang ditawarkan habis hanya untuk ongkos transportasi dan sewa kamar, bagaimana mereka ingin melanjutkan kelangsungan hidup nantinya.
Sehubungan dengan itu, untuk mengatasi masalah ini, pihak berwenang perlu berdiskusi dan mencapai kata sepakat untuk menjembatani kesenjangan ekspektasi (expectation gap). Pada saat yang sama, pihak pengusaha juga perlu mengevaluasi kembali struktur gaji agar lebih kompetitif dan manusiawi, sesuai dengan kualifikasi akademis dan keterampilan yang dimiliki oleh tenaga kerja muda ini. Lulusan di sisi lain, disarankan untuk sedikit menurunkan ego dan menerima peluang pekerjaan yang ada untuk memperoleh pengalaman terlebih dahulu. Pengalaman kerja, meskipun di bidang yang berbeda, adalah aset berharga yang dicari oleh pengusaha di masa depan.
Sebagai kesimpulan, skenario ini mencerminkan kesenjangan ekspektasi antara lulusan dan realitas pasar. Lulusan menuntut gaji yang setimpal dengan biaya hidup yang tinggi, sementara pengusaha mengutamakan pengalaman praktis. Untuk menghindari masalah pengangguran yang berkepanjangan, lulusan disarankan untuk bertindak lebih bijak dengan merebut segala peluang yang ada demi memperoleh pengalaman, dan industri di sisi lain dapat mempertimbangkan penawaran gaji yang lebih setimpal, adil, dan masuk akal sesuai dengan kondisi pasar ekonomi global saat ini. **
Prof. Madya Dr. Yaty Sulaiman merupakan seorang dosen dari Pusat Pengajian Pengurusan Perniagaan, Universiti Utara Malaysia. Artikel ini merupakan pemahaman dan ideologi penulis dalam bidang manajemen.