Kanal

Pakar Ekonomi UPER: Hilirisasi Biodiesel Jadi Kunci Mengamankan Ekonomi Nasional Menuju B50

RIAUIN.COM– Ketidakpastian geopolitik global yang memicu fluktuasi harga minyak dunia mendorong Indonesia mempercepat transformasi energi melalui implementasi biodiesel B50, yaitu campuran 50 persen minyak kelapa sawit dan 50 persen bahan bakar fosil. Langkah strategis ini tidak hanya bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi domestik melalui percepatan hilirisasi industri sawit.

Untuk periode Mei 2026, pemerintah menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis Biodiesel sebesar Rp14.917 per liter. Kebijakan tersebut ditopang oleh posisi Indonesia sebagai produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia dengan produksi mencapai 46,7 juta metrik ton per tahun (USDA, 2026).

Ketersediaan bahan baku yang melimpah menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan industri biodiesel. Selain mengurangi ketergantungan terhadap energi impor, hilirisasi biodiesel dinilai mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi dalam negeri dan memperkuat daya tahan ekonomi nasional di tengah gejolak global.

Menanggapi perkembangan tersebut, pakar sekaligus dosen Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina (UPER), Eka Puspitawati PhD menerbitkan penelitian komprehensif mengenai dampak makroekonomi hilirisasi biodiesel. Penelitian berjudul Economic Effect of Biodiesel Downstream Industry: An Analysis Based on a Dynamic CGE Model tersebut dipublikasikan dalam International Journal of Energy Economics and Policy.

Dalam risetnya, Dr Eka menggunakan pendekatan Dynamic Computable General Equilibrium (CGE) untuk mensimulasikan peningkatan investasi hilirisasi biodiesel sebesar 9,66 persen per tahun. Angka tersebut merepresentasikan pertumbuhan kapasitas terpasang aktif industri biodiesel nasional yang meningkat dari 13,3 juta kiloliter (KL) pada 2020 menjadi 20,64 juta KL pada 2024 berdasarkan data Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hilirisasi biodiesel berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Tambahan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) riil diproyeksikan meningkat dari 0,67 persen pada awal implementasi menjadi 1,45 persen pada 2030. Pada saat yang sama, konsumsi rumah tangga diperkirakan naik dari 0,70 persen menjadi 1,04 persen.

“Kehadiran energi biodiesel meningkatkan efisiensi di berbagai sektor sehingga stabilitas ekonomi makro dan harga barang tetap terjaga. Saat daya beli masyarakat kuat, roda perekonomian industri hilir pun berputar semakin pesat,” jelas Dr Eka.

Lebih lanjut, dampak hilirisasi biodiesel tidak hanya dirasakan di sektor hilir, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) hingga ke sektor hulu. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan permintaan biodiesel akan mendorong produktivitas perkebunan kelapa sawit sekaligus memperkuat rantai pasok industri nasional.

Temuan ini juga menjawab kekhawatiran bahwa pengembangan biodiesel dapat mengganggu ketahanan pangan. Data pemerintah menunjukkan produksi CPO Indonesia mencapai 51,54 juta ton pada 2022. Sementara itu, berdasarkan Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1528 Tahun 2022, kebutuhan minyak goreng kemasan sederhana atau Minyakita untuk konsumsi domestik hanya sekitar 3,24 juta ton per tahun.

“Ketahanan pangan dan ketahanan energi dapat berjalan beriringan. Surplus produksi CPO yang dimiliki Indonesia masih memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung ambisi transisi energi nasional, asalkan diiringi peningkatan produktivitas sektor hulu dan hilir,” tegas Dr Eka.

Untuk mendukung target jangka panjang menuju implementasi biodiesel B100, penelitian ini juga menawarkan solusi strategis melalui pemanfaatan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah sebagai bahan baku alternatif. Optimalisasi UCO dinilai dapat menekan biaya produksi biodiesel, memberikan manfaat lingkungan melalui pengelolaan limbah yang lebih baik, serta mengurangi risiko kesehatan akibat penggunaan ulang minyak goreng bekas.

Sementara itu, Pjs Rektor Universitas Pertamina, Prof Dr techn Djoko Triyono MSi menegaskan,  penelitian tersebut mencerminkan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus kontribusi Universitas Pertamina dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

“Sebagai perguruan tinggi yang memiliki keterkaitan erat dengan sektor energi, Universitas Pertamina berkomitmen menghadirkan riset yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi kebutuhan industri dan masyarakat. Penelitian ini dikembangkan melalui peminatan Energy Economics and Sustainability di Program Studi Ekonomi sebagai bentuk kontribusi ilmu pengetahuan dalam menjawab tantangan transisi energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional,” pungkas Prof Djoko.

Melalui hilirisasi biodiesel, Indonesia tidak hanya memperkuat kemandirian energi, tetapi juga membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing di tengah dinamika global yang terus berkembang. -rls, inf

Ikuti Terus Riauin

Berita Terkait

Berita Terpopuler