Kanal

Pasar Lubuk Jambi Darurat Sampah, Armada DLH Kuansing Macet hingga Siswa Turun Tangan

Laporan: Hendrianto. 

RIAUIN.COM– Persoalan sampah di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) seolah menjadi benang kusut yang tak kunjung terurai. Kondisi terparah saat ini terpantau di Pasar Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik, di mana tumpukan sampah meluber hingga menggunung dan menimbulkan bau tak sedap, Kamis (2/4/2026).

Camat Kuantan Mudik, Januarisman, mengonfirmasi bahwa wilayah pasar saat ini berada dalam status darurat sampah. Dua Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Pasar Lama dan Pasar Baru sudah tidak sanggup menampung volume sampah yang terus meningkat.

"Daya tampung TPS kita sebenarnya cukup jika hanya untuk warga pasar, namun kenyataannya warga dari luar lingkungan pasar juga membuang sampah ke sana," ujar Januarisman.

Ia juga menyayangkan kinerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang dinilai menurun, di mana jadwal pengangkutan yang biasanya dua kali seminggu kini menyusut menjadi hanya satu kali seminggu.

Pihak kecamatan mengaku telah berupaya menyewa truk dan ekskavator secara mandiri, namun langkah ini terhenti karena ketiadaan anggaran operasional.

Seluruh dana retribusi pasar sebesar Rp26 juta yang dipungut tahun lalu telah disetorkan sepenuhnya ke kas Pemda Kuansing. "Retribusi pasar target kami Rp35 juta, tahun lalu hanya terealisasi Rp26 juta. Sudah kami setor langsung ke Pemda, " ucapnya.

Kondisi ini memicu aksi gotong royong (goro) pada Kamis pagi yang melibatkan siswa sekolah di sekitar pasar. Meski menuai polemik di media sosial karena dianggap mengganggu jam pelajaran, Januarisman berkilah bahwa keterlibatan siswa adalah bagian dari edukasi kebersihan.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala DLH Kabupaten Kuansing, Delismartoni, menjelaskan bahwa keterlambatan pengangkutan dipicu oleh sisa volume sampah libur lebaran dan masalah internal dinas.

"Kemarin itu kan masih suasana libur lebaran, ditambah lagi faktor efisiensi anggaran, kami terpaksa memangkas jumlah Pekerja Harian Lepas (PHL) dari 300 orang menjadi 200 orang. Selain itu, dari delapan armada yang kami miliki, dua unit sedang rusak," ungkap Delis.

Saat ini, Pasar Lubuk Jambi menyumbang sekitar 7,5 ton sampah per hari. Sebagai solusi jangka pendek, Delis berjanji akan mengembalikan frekuensi pengangkutan menjadi tiga kali seminggu. Sementara untuk jangka panjang, ia tengah mencari pihak ketiga agar sampah bisa dikelola menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Keinginan Pemda Kuansing untuk mengubah sampah menjadi PAD sebenarnya bukan hal mustahil jika merujuk pada Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Banyumas saat ini dianggap sebagai salah satu daerah tersukses di Indonesia dalam pengelolaan sampah tanpa TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Melalui pusat daur ulang yang dikelola kelompok swadaya masyarakat, Banyumas berhasil memisahkan sampah organik untuk pakan maggot dan pupuk, sementara sampah anorganik diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar pengganti batubara yang dijual ke pabrik semen.

Strategi ini tidak hanya menghilangkan tumpukan sampah di pasar-pasar, tetapi juga menghasilkan PAD miliaran rupiah sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi warga lokal. Jika Kuansing mampu mereplikasi model kemitraan serupa, "benang kusut" sampah di Lubuk Jambi dan Kuansing pada umumnya bisa berubah menjadi peluang ekonomi baru bagi daerah.(***) 
 

Ikuti Terus Riauin

Berita Terkait

Berita Terpopuler