Laporan: Hendrianto.
RIAUIN.COM– Jumat pagi, 16 Januari 2026, suasana di Mapolres Kuantan Singingi (Kuansing) tampak berbeda. Di bawah langit Kota Jalur, tabuhan musik Tari Persembahan menyambut langkah tegap AKBP Hidayat Perdana.
Ini bukan prosesi Serah Terima Jabatan (Sertijab) biasa. Di balik tradisi pedang pora, tersimpan harapan besar masyarakat akan pembersihan praktik korupsi di "Negeri Bermarwah".
Nama AKBP Hidayat Perdana menjadi magnet perhatian publik karena rekam jejaknya sebagai mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Penempatannya di Kuansing dianggap sebagai "jawaban" atas rapor merah integritas daerah ini.
Keahliannya dalam mengendus aroma penyelewengan anggaran diharapkan mampu membangkitkan taji Unit Tipikor Polres Kuansing.
Dalam upacara tersebut, AKBP Raden Ricky Pratidiningrat, Kapolres lama, menyampaikan pesan perpisahan yang menyentuh.
"Saya memohon maaf atas segala kekurangan. Saya titipkan tongkat komando ini; berikan dukungan penuh kepada Kapolres yang baru," ucapnya di hadapan barisan personel yang tampak emosional.
Saat menginjakkan kaki di podium, AKBP Hidayat Perdana membawa pesan yang tegas namun merangkul. Ia menekankan profesionalisme dan pelayanan masyarakat sesuai nilai-nilai Presisi.
Namun, tantangan nyata sudah menanti di depan mata. Berdasarkan Survei Penilaian Integritas (SPI) 2025 dari KPK, Kuansing terpuruk di zona merah dengan skor hanya 63,58 poin.
Angka ini menjadikan Kuansing sebagai juru kunci atau daerah dengan tingkat kerentanan korupsi tertinggi dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau.
Bagi masyarakat Kuansing, kehadiran Hidayat bukan sekadar pergantian pimpinan, melainkan sinyal peringatan bagi para "pemain" uang rakyat.
Pola pikir preventif dan represif yang ia bawa dari Gedung Merah Putih kini akan diuji di tengah kearifan lokal masyarakat adat Kuansing.
Pertanyaannya kini: seberapa jauh "Sang Penyidik" akan melangkah untuk membersihkan sisa-sisa praktik korupsi yang masih berakar?
Selamat bertugas, AKBP Hidayat Perdana. Publik kini menanti gebrakan nyata di Kota Jalur. (***)