Kanal

Atasi Krisis Air Bersih Pasca-Bencana, YIPN Segera Buatkan Sumur Bor dan Tower Air di Padang Laweh Sumbar

RIAUIN.COM – Puluhan kepala keluarga (KK) di Jorong Padang Laweh, Kenagarian Tigo Koto Silungkang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, masih bergelut dengan krisis air bersih pascabencana longsor yang merusak sumber air utama mereka. Keterbatasan air saat ini hanya mengandalkan kiriman mobil tangki dari relawan, yang jumlahnya jauh dari mencukupi. Bahkan, dalam keputusasaan, warga terpaksa menggunakan air yang tidak layak untuk kebutuhan harian.

"Ini adalah air yang kami gunakan sejak bencana galodo atau longsor melanda daerah kami. Ini bukan air bersih tetapi untuk mandi cuci piring, air datang dari sawah kadang dari ternak atau rumah-rumah yang berada di atas. Kalau malam kami ambil untuk minum karena lebih bersih," tutur Nita (45), salah satu warga Padang Laweh, sambil menunjuk aliran air keruh yang mereka andalkan. Pengakuan ini menggambarkan betapa kritis dan kurang higienisnya sumber air yang menjadi tumpuan hidup puluhan keluarga.

Hasil survei Tim Bantuan Bencana Sumatera Yayasan IKAL Peduli Nusantara (YIPN) yang dipimpin Koordinator Sumatera Barat, Muslim Amir SE SH MH, melihat langsung situasi yang memprihatinkan ini. "Penampungan air bersih yang didapat dari kiriman mobil tangki relawan hanya cukup untuk air minum saja, itu pun sangat terbatas. Apalagi untuk kebutuhan masak, berwudhu, mandi, cuci, dan kakus, jelas tidak cukup. Kondisi ini diperparah dengan praktik warga yang terpaksa memanfaatkan air dari aliran sawah yang sangat berisiko bagi kesehatan," papar Muslim Amir saat memaparkan temuan lapangan, Rabu (26/10/2023).

Sementara itu Kepala Jorong Padang Laweh, Nofril, yang mengonfirmasi kesulitan yang dihadapi warganya. "Sudah lama kami alami krisis ini. Sumber air kami rusak parah. Mendengar warga harus minum air dari sawah, hati saya sebagai kepala jorong sangat prihatin. Kiriman air dari relawan sangat kami syukuri, tetapi memang volumenya sangat kurang untuk 40 KK di sini. Kami sangat berharap ada solusi permanen," ujarnya.

Kondisi tempat pengambilan air aliran sawah untuk digunakan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. F: Dok. YIPN.

Staf Kantor Camat Palembayan, Setiawati Ana, menyatakan bahwa pemerintah daerah menyadari permasalahan ini dan mengapresiasi setiap bantuan yang dapat meringankan beban warga. "Penggunaan air tidak layak seperti yang diungkapkan warga adalah kondisi darurat yang tidak boleh dibiarkan. Kami mendukung penuh inisiatif dari lembaga mana pun yang bisa membantu memulihkan akses air bersih bagi masyarakat Padang Laweh. Ini kebutuhan yang sangat mendesak," tegasnya.

Solusi permanen yang diinisiasi datang YIPN. Berdasarkan rekomendasi survei tim, yayasan berencana menyalurkan bantuan donatur untuk membangun fasilitas air bersih baru. Rencananya, akan dilakukan pengeboran sumur dalam hingga kedalaman minimal 35 meter untuk mencari sumber air yang layak dan berkelanjutan.

Ketua YIPN Eka Putra PhD mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan masyarakat terdampak bencana dan aparatur pemerintahan setempat. "Kisah pilu warga yang harus bergantung pada air dari sawah mendorong kami untuk segera bertindak. Rencananya donasi yang sudah terkumpul sebagian akan diarahkan untuk membangun fasilitas air bersih lengkap untuk meringankan beban masyarakat," ujar Eka Putra.

"Tidak hanya pengeboran, kami juga akan membangun tower air dari besi dengan kapasitas tampung 3.000 liter. Tower ini nantinya akan menjadi pusat distribusi air bersih bagi warga dan mengakhiri ketergantungan pada sumber air yang tidak aman," jelasnya.

Proyek pembangunan fasilitas air bersih ini ditargetkan dapat segera dimulai dan menjadi pengganti sumber air yang rusak. Sebanyak 40 KK atau sekitar 200 jiwa di Padang Laweh diproyeksikan sebagai penerima manfaat utama.

Lokasi pengeboran dan pembangunan tower telah mendapatkan izin dari pemilik lahan setempat, Syamsir Dt Panduko. "Saya dengan ikhlas mengizinkan penggunaan lahan untuk kepentingan umum ini. Ini untuk kebaikan bersama warga Padang Laweh. Semoga dengan adanya sumber air baru yang bersih, kehidupan warga bisa kembali normal dan sehat," kata Syamsir.

"Harapan kami, dengan adanya bantuan ini, beban warga bisa berkurang dan ancaman penyakit berbasis air dapat dicegah. Air bersih adalah hak dasar. Kami berkomitmen untuk memastikan bantuan ini tepat sasaran dan tepat guna," pungkas Eka Putra.

Bantuan kemanusiaan ini diharapkan tidak hanya memulihkan akses air, tetapi juga mengakhiri penderitaan warga yang selama ini terpaksa mengonsumsi air tidak layak, sehingga kualitas hidup masyarakat Padang Laweh pascabencana dapat meningkat.

Yayasan berbasis alumni IKAL Lemhannas ini masih membuka donasi untuk membantu masyarakat terdampak bencana di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Donasi dapat disalurkan melalui rekening Yayasan IKAL PEDULI NUSANTARA, yakni BRI – 0596-01-000607-56-6. - rum

Ikuti Terus Riauin

Berita Terkait

Berita Terpopuler