Laporan: Hendrianto
RIAUIN.COM- Peristiwa pelantikan pejabat biasanya dipenuhi dengan formalitas kaku, namun di Kecamatan Kuantan Tengah, atmosfernya terasa hangat dan penuh dukungan. Jejeran papan bunga terlihat sangat mencolok, menghiasi jalanan sepanjang areal Sungai Jering.
Papan-papan bunga itu datang dari berbagai kalangan—mulai dari tokoh masyarakat, akademisi terkemuka, hingga masyarakat awam. Ini adalah pertanda betapa besarnya simpati dan dukungan warga kepada sosok Eka Putra, mantan Lurah Sungai Jering, yang pada hari itu resmi dilantik menjadi Camat Kuantan Tengah.
Menjabat Camat Kuantan Tengah bukanlah tugas ringan. Kecamatan ini merupakan ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi, yang artinya beban yang dipikul Camat tentu lumayan berat, berhadapan dengan beragam persoalan kompleks layaknya sebuah pusat pemerintahan dan ekonomi.
Bagi Eka Putra, putra asli kelahiran Kuantan Tengah, ia berkomitmen tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh Bupati Kuansing kepadanya.
Kekuatan utama Eka terletak pada rekam jejaknya. Ia memulai karir dari bawah, dari seorang Lurah. Pengalaman inilah yang menjadi modal berharga. Ia sedikit banyak telah memahami beragam persoalan yang sehari-hari dihadapi di tingkat Lurah dan Desa.
Kini, sebagai Camat, ia membawahi tiga lurah dan 20 desa. Kecamatan Kuantan Tengah dikenal sebagai kecamatan yang paling padat penduduk, dan kepadatan ini pula yang memicu beragam persoalan menantang.
Eka berbagi cerita tentang masa-masa ia menjabat sebagai Lurah Sungai Jering. Mengingat populasi Sungai Jering merupakan salah satu yang terpadat, tak heran jika di sana pelayanan publik berjalan tiada henti.
"Tempo hari, sehari setidaknya dari 0 sampai 150 pelayanan terhadap masyarakat," kenangnya. Angka ini mencerminkan tingginya intensitas interaksi dan pelayanan yang telah ia jalani di garis depan pemerintahan.
Setelah mengemban jabatan baru sebagai Camat, Eka Putra memilih pendekatan yang lebih proaktif. Ia tidak lantas terkurung di balik meja kantor.
"Kami telah membuat schedule," cerita Eka, "beberapa hari dalam seminggu itu saya langsung turun ke desa-desa untuk menyerap keluhan dan aspirasi warga."
Pendekatan langsung ini menunjukkan komitmennya untuk memahami dan menyelesaikan masalah dari sumbernya. Selain fokus pada desa, Eka juga memberikan perhatian serius pada sektor pendidikan. Ia kerap turun langsung ke sekolah-sekolah, baik SD, MIN, maupun SMP.
Tujuannya ganda: guna memastikan pelayanan terhadap dunia pendidikan berjalan optimal, dan yang tak kalah penting, memastikan tidak ada pungli dalam bentuk apapun yang memberatkan masyarakat.
Bagi Eka, tingginya jabatan tentu berarti tingginya pula beban kerja. Namun, hal itu disambutnya dengan niat yang tulus untuk mengabdi kepada masyarakat. Ia rela mengorbankan waktu pribadinya, bahkan sampai pulang larut malam.
"Kadang pulang jam 8 sampai 9 malam. Tak nentu bang, yang namanya pelayan masyarakat ya seperti inilah," ujarnya sambil tersenyum. Kutipan ini bukan hanya menunjukkan dedikasi, tetapi juga filosofi pelayanannya.
Eka Putra adalah bukti bahwa komitmen tulus, didukung oleh pemahaman akar rumput yang diperoleh dari karir sebagai Lurah, adalah modal utama untuk memimpin ibu kota kabupaten.
Ia adalah pelayan masyarakat sejati yang siap menanggung beban berat demi kemajuan Kuantan Tengah. (***)