RIAUIN.COM- Calon Bupati Kuansing nomor urut 3, Halim - Sardiyono merubah strategi penggalangan massa dibandingkan pada Pilkada lampau. Hasilnya, arus dukungan kian mengalir.
"Saya merasakan sendiri, pilkada saat ini jauh berbeda ketimbang dua pilkada yang pernah saya ikuti," kata Halim saat berpidato acara pengukuhan tim pemenangan HS Kenegerian Taluk, Senin (30/9/2024) kemarin.
Perbedaan yang dirasakan Halim, pilkada 2015 dirinya bersama Mursini mengalami krisis pendanaan. Kendati demikian, pasangan yang dulunya disingkat MH itu ternyata bisa memenangi Pilkada.
Lalu pilkada 2019, Halim memilih pasangan dengan Komperensi dan hanya mampu meraih suara kedua dengan perolehan sekitar 50 ribu lebih suara.
"Pilkada tahun 2015 kita tak punya uang, pilkada 2019 kalah sedikit, dan pilkada tahun 2024 ini saya merasakan sendiri jauh sangat berbeda. Justru sekarang orang yang datang untuk bergabung dengan kita. Itu yang rasakan," kata Halim sembari terharu.
Dengan melihat animo dukungan masyarakat yang sangat tinggi saat ini, menandakan bahwa program yang diusung oleh pasangan HS benar-benar terasa dan masuk logika masyarakat.
"Program HS tidak muluk-muluk, kita manfaatkan uang daerah untuk kesejahteraan masyarakat. Buat kebun kita bantu, mulai dari steking, bibit sampai pemupukan. Sampai masyarakat benar-benar memiliki kebun sendiri. Paling tidak satu hektar per-KK," ujar Halim.
Dengan demikian kesejahteraan baru dirasakan oleh masyarakat. Sementara yang terjadi saat ini, kata Halim, pemerintah terkesan berfoya-foya menggunakan uang daerah untuk kepentingan politiknya.
"Sementara warganya masih ada yang tidak punya beras di dapur. Saya menemukan sendiri ada warga kita yang tidak punya beras di dapur. Kan kasihan kita, mestinya hal ini tidak terjadi, karena uang rakyat itu harus seutuhnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat," terang Halim.
Karena prihatin dengan kondisi ekonomi masyarakat Kuansing saat ini, oleh karena itu Halim bertekad maju kembali. "Saya maju kembali karena saya kasihan dengan kondisi ekonomi bapak-bapak dan ibu-ibu. Masih banyak kita yang miskin. Itu yang ingin kami perbaiki," seru Halim disambut tepuk tangan warga Kenegerian Taluk.
Sementara tokoh agama, Ustadz Mulkan dalam kesempatan itu menyampaikan pemerintahan sekarang ini adalah pemerintahan yang zolim. Memilih penguasa zolim, kata dia, sama halnya dengan kita berbuat zolim.
Penguasa zolim itu kata ustadz Mulkan, adalah penguasa yang menahan-nahan hak orang lain. "Contohnya, tidak membayar gaji honor, memotong hak pegawai, itu namanya penguasa zolim," ujarnya.
Menurut Mulkan, untuk menghentikan penguasa zolim itu hanya ada satu cara yakni dengan tidak memilihnya kembali. (hen)