"Untuk mengantisipasi Karhutla dan memudahkan dalam penanggulangan bencana asap maka lima provinsi langganan Karhutla telah menetapkan status siaga darurat," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.
Kelima provinsi tersebut yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan. "Penetapan status siaga darurat ini diambil setelah beberapa kabupaten/kota di masing-masing provinsi menetapkan siaga darurat," terang Sutopo.
Selain itu, pantauan satelit Aqua, Terra, SNNP pada catalog modis LAPAN menunjukkan jumlah dan sebaran titik panas (hotspot) akibat Karhutla terus meningkat. Terpantau 150 titik panas sejak 23 Juli 2017 dan terus meningkat menjadi 179 titik panas pada 25 Juli 2017. Peningkatan jumlah titik panas terjadi karena cuaca kering yang terus meningkat setiap harinya.
"Sehingga hutan dan lahan mudah dibakar. Jumlah hotspot ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2015," sebut Sutopo.
BNPB langsung membentuk satuan tugas (Satgas) di masing-masing provinsi setelah melihat titik panas yang terus meningkat. Satgas tersebut meliputi Satgas darat, udara, pelayanan kesehatan, penegakan hukum, dan sosialisasi.
"Upaya preventif sudah banyak dilakukan. Namun luasnya wilayah yang harus dijaga dan terbatasnya sarana prasarana menyebabkan Karhutla masih terjadi di beberapa daerah. Sebagian besar penyebab Karhutla adalah kesengajaan untuk membuka lahan," katanya.
Sebanyak 18 heli pembom air yang disiapkan tersebut tersebar di Riau sebanyak lima unit, Sumatera Selatan lima unit, Kalimantan Barat empat unit, Jambi dua unit, dan Aceh dua unit. Dua heli langsung dioperasikan menyusul Karhutla yang terjadi di Aceh Barat.
"Selain itu, operasi hujan buatan juga digelar oleh BNPB dan BPPT di Riau dan Sumatera Selatan. Total 68,4 ton bahan semai Natrium Chloride disebarkan ke dalam awan-awan potensial dengan menggunakan pesawat Casa-212 untuk memicu hujan. Sedangkan Satgas darat dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Damkar, MPA, dunia usaha dan masyarakat terus melakukan pemadaman di darat," katanya. (src)