Sebagai Guest of Country, Indonesia tidak hanya memamerkan produk kopi, namun juga menyelenggarakan seminar tentang kopi. Selain itu, diadakan pula coffee cupping alias sesi khusus yang disediakan bagi pengunjung pameran untuk merasakan beragam kopi khas Indonesia.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan, Arlinda mengatakan, ekspor kopi Indonesia tumbuh positif dalam lima tahun terakhir. “Pada 2012-2016 pertumbuhan ekspor kopi meningkat sebesar 14,39 persen," ujarnya, lewat keterangan resmi yang diterima wartawan, Jumat (14/4).
Pemerintah mencatat nilai impor kopi Korsel dari dunia pada 2016 sebesar 562,77 juta dolar AS. Arlinda menyebut, peluang pasar produk kopi asal Indonesia di Korsel masih cukup besar. Apalagi, kebiasaan minum kopi juga telah menjadi tren di kalangan generasi muda Korea sehingga banyak kedai kopi baru yang bermunculan. Ini menjadi peluang yang harus dimanfaatkan oleh Indonesia.
"Kita perlu lebih meningkatkan citra rasa kopi dan keunikan khas yang tidak dimiliki negara lain kepada masyarakat Korsel," kata Arlinda.
Seoul Coffee Expo merupakan pameran internasional yang dimulai sejak tahun 2012 dengan menampilkan produk kopi premium, bahan baku kopi, peralatan pembuat kopi hingga mesin hingga usaha franchise kedai kopi. Tahun ini, pameran tersebut dikuti oleh 250 perusahaan dari berbagai negara, antara lain Brasil, Kolombia, AS, Italia, Ghana, Kenya, India, dan Korsel.
Paviliun Indonesia pada pameran tahun ini terlaksana atas kerja sama Indonesia Trade Promotion Centre (ITPC) Busan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul dan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) Kementerian Perdagangan. Selama pameran tercatat transaksi potensial sebesar 270.000 dolar AS.(rol)