PILIHAN
Mahasiswa KKN Edukasi Etika Bermedia Sosial bagi Siswa SD di Benai Kecil
08 September 2026
Mahasiswa KKN Kelompok 81 Edukasi Anak TK Pentingnya Menabung Sejak Dini
08 September 2026
Dua Srikandi ASN Kuansing Meraih Gelar Doktor
06 September 2026
Pengamat: Butuh Kejujuran Polisi dalam Kasus Novel Baswedan
JAKARTA, Riauin.com -- Pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar, mempertanyakan cara kerja polisi yang terkesan mengandalkan sketsa wajah pelaku penyerangan untuk mengungkap kasus Novel Baswedan. Padahal menurut dia, yang terpenting adalah niat polisi untuk mengungkapnya.
"Yang penting adalah kejujuran polisi dalam usaha mengungkap kasus Novel ini, yang dinilai publik terkesan bertele-tele," ujar Bambang kepada wartawan, Kamis (3/7).
Menurut Bambang, tidak ada larangan dengan cara yang digunakan polisi untuk menangkap pelaku penyerangan terhadap Novel. Namun, kata dia, terkait efektifitasnya belum bisa dipastikan. Bambang menilai, cara tersebut mempunyai kaitan dengan analisis kriminal, yang menurutnya suatu mata kuliah sendiri.
Terkait sketsa wajah pelaku, dia menyebut dalam institusi Polri belum ada pelajaran khusus tentang cara-cara membuat atau penyebaran sketsa wajah tersangka. Model seperti itu berlaku di sistem kepolisian Anglo Saxon. Polri sejak kelahirannya menganut sistem kepolisian eropa kontinental. Apalagi, kata dia, ketika polisi seperti bertahan tidak mau dicampuri oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang independen. "Harapan masyarakat kan tidak sekedar tertangkap pelaku lapangannya seperti contoh yang sudah ada pada kasus Hermansyah tapi juga aktor intelektualnya," ujarnya. Sikap Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang menolak TGPF ini, menurut Bambang, akan menjadi pertanyaan di saat Novel menduga ada keterlibatan petinggi polisi.(rol)
"Yang penting adalah kejujuran polisi dalam usaha mengungkap kasus Novel ini, yang dinilai publik terkesan bertele-tele," ujar Bambang kepada wartawan, Kamis (3/7).
Menurut Bambang, tidak ada larangan dengan cara yang digunakan polisi untuk menangkap pelaku penyerangan terhadap Novel. Namun, kata dia, terkait efektifitasnya belum bisa dipastikan. Bambang menilai, cara tersebut mempunyai kaitan dengan analisis kriminal, yang menurutnya suatu mata kuliah sendiri.
Terkait sketsa wajah pelaku, dia menyebut dalam institusi Polri belum ada pelajaran khusus tentang cara-cara membuat atau penyebaran sketsa wajah tersangka. Model seperti itu berlaku di sistem kepolisian Anglo Saxon. Polri sejak kelahirannya menganut sistem kepolisian eropa kontinental. Apalagi, kata dia, ketika polisi seperti bertahan tidak mau dicampuri oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang independen. "Harapan masyarakat kan tidak sekedar tertangkap pelaku lapangannya seperti contoh yang sudah ada pada kasus Hermansyah tapi juga aktor intelektualnya," ujarnya. Sikap Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang menolak TGPF ini, menurut Bambang, akan menjadi pertanyaan di saat Novel menduga ada keterlibatan petinggi polisi.(rol)
Berita Lainnya
Mesin PETI Depan Rumah Warga Dibakar Polisi Kuansing, Operator Lolos Lewat Sungai
Usut 45 Kasus Karhutla, Ditreskrimsus Polda Riau Serahkan 17 Perkara ke JPU
Polres Rohil Cokok Otak Pembakaran Perahu dan Jaring Ikan di Tanjung Balai
Polisi Tangkap Empat Pembakar Lahan dan Kawasan Hutan di Siak
Usut Izin Hutan Kuansing, KPK Dalami Aliran Uang Koperasi ke Kemenhut
Polres Rohul Tangkap Penggarap Kawasan Hutan Terkait Karhutla Empat Hektar
Mesin PETI Depan Rumah Warga Dibakar Polisi Kuansing, Operator Lolos Lewat Sungai
Usut 45 Kasus Karhutla, Ditreskrimsus Polda Riau Serahkan 17 Perkara ke JPU
Polres Rohil Cokok Otak Pembakaran Perahu dan Jaring Ikan di Tanjung Balai
Polisi Tangkap Empat Pembakar Lahan dan Kawasan Hutan di Siak
Usut Izin Hutan Kuansing, KPK Dalami Aliran Uang Koperasi ke Kemenhut
Polres Rohul Tangkap Penggarap Kawasan Hutan Terkait Karhutla Empat Hektar