Kanal

Hotspot di Riau Naik Jadi 24 Titik, Potensi Hujan Petir Masih Mengintai

RIAUIN.COM - Lonjakan titik panas akibat kebakaran hutan dan lahan kembali membayangi Provinsi Riau. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika hingga Sabtu (11/7/2026) malam, wilayah Riau mendeteksi adanya 24 titik panas, dengan sebaran terbanyak berada di Kabupaten Siak dan Kabupaten Rokan Hilir.

Kemunculan puluhan titik panas ini menjadi alarm penting bagi penanggulangan bencana daerah, mengingat total titik panas di seluruh Pulau Sumatera telah mencapai 222 titik. Dari jumlah tersebut, Riau menempati posisi keempat setelah Provinsi Aceh, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru Yasir P memaparkan bahwa dari total 24 titik panas di Riau, Kabupaten Siak mendominasi dengan 8 titik, diikuti Rokan Hilir dengan 7 titik. Sementara itu, wilayah Rokan Hulu, Kampar, dan Pelalawan masing-masing memiliki 2 titik, serta Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, dan Dumai masing-masing menyumbang 1 titik.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran hutan maupun lahan agar dapat segera ditangani," kata Yasir di Pekanbaru.

Meski titik panas mulai bermunculan di delapan kabupaten dan kota, BMKG memprakirakan sejumlah wilayah Riau sebenarnya masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. Hujan yang dapat disertai petir dan angin kencang ini diprediksi melanda wilayah pesisir dan tengah Riau sejak pagi hingga dini hari.

Kondisi cuaca ekstrem berupa hujan badai tersebut diantisipasi terjadi di Dumai, Bengkalis, Siak, Pelalawan, hingga Indragiri Hilir. Suhu udara di Riau sendiri diprakirakan fluktuatif di angka 23 hingga 34 derajat Celcius dengan tingkat kelembapan mencapai 100 persen.

Untuk sektor keselamatan laut, BMKG menyatakan gelombang di perairan Riau masih dalam kategori rendah dengan ketinggian maksimal 1,25 meter. Jalur pelayaran dinilai masih cukup aman untuk aktivitas logistik maupun transportasi publik.

"Meski demikian, nelayan dan pengguna transportasi laut tetap diimbau memperhatikan perkembangan cuaca sebelum berlayar," tutur Yasir menjelaskan mitigasi keselamatan di laut. (Bil)

Ikuti Terus Riauin

Berita Terkait

Berita Terpopuler