Ditulis: Hendrianto
RIAUIN. COM – Pekikan "Kayuaaahh!" menggema di sepanjang Sungai Batang Kuantan, mengiringi derap perahu-perahu panjang yang melaju lincah. Di atasnya, puluhan pendayung bergerak serempak, mengayunkan dayung bersama rival di sampingnya.
Inilah Pacu Jalur, warisan budaya takbenda kebanggaan Riau, yang kini tengah mengupayakan pengakuan dunia melalui penetapan UNESCO.
Meskipun tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Kuantan Singingi selama berabad-abad dan resmi berstatus Warisan Budaya Takbenda Nasional sejak 2014, Pacu Jalur masih menanti gilirannya untuk masuk dalam daftar UNESCO.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kuantan Singingi, Drs Azhar Ali, membenarkan bahwa Pacu Jalur belum terdaftar di UNESCO.
"Saat ini sedang dalam proses untuk didaftarkan ke UNESCO melalui Kementerian Kebudayaan. Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi sudah bersurat ke kementerian agar Pacu Jalur Tradisional didaftarkan sebagai Warisan Budaya Dunia," kata Azhar kepada riauin.com kemarin.
Menurut Azhar, ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia di UNESCO. Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi bersama Dinas Kebudayaan Provinsi Riau dan Kementerian Kebudayaan tengah melengkapi persyaratan tersebut.
Senada dengan itu, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menyatakan bahwa kini adalah momen yang tepat bagi Pacu Jalur untuk mendapatkan pengakuan dunia.
Nilai-nilai luhur seperti gotong royong, keberanian, dan semangat kebersamaan yang terkandung dalam Pacu Jalur sangat relevan untuk dikenal oleh masyarakat internasional.
Perjalanan menuju pengakuan UNESCO bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan ketekunan dan persiapan matang. Tim dari Kementerian Kebudayaan saat ini tengah sibuk menyusun naskah akademik yang komprehensif, merinci setiap jengkal filosofi dan praktik Pacu Jalur.
Ini mencakup proses pembuatan jalur (perahu) yang sarat makna, ritual adat yang menyertainya, hingga dampaknya terhadap perekonomian dan sosial budaya masyarakat setempat.
Dukungan penuh dari komunitas lokal menjadi kunci utama, sebab esensi warisan budaya takbenda adalah keberlanjutan pelaksanaan oleh para pemiliknya.
Masyarakat Kuantan Singingi, dari generasi ke generasi, telah menjaga dan melestarikan Pacu Jalur dengan gigih. Mereka adalah penjaga utama tradisi tak lekang dimakan zaman ini.
Selain itu, setiap usulan harus lolos saringan ketat UNESCO yang memastikan bahwa budaya tersebut menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia dan selaras dengan hukum internasional.
Dengan terbatasnya kuota usulan per negara setiap tahunnya, persaingan untuk masuk daftar antrean pun cukup sengit.
Setakar ini, ndonesia terus memperkuat posisinya di kancah global dengan menyumbangkan total 26 warisan budaya ke daftar bergengsi UNESCO.
Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah warisan budaya terbanyak yang terdaftar di UNESCO di kawasan Asia Tenggara, mencerminkan kekayaan dan keberagaman budaya yang luar biasa.
Dari jumlah tersebut, 10 situs telah diakui sebagai Warisan Dunia (World Heritage Sites). Beberapa di antaranya adalah kompleks candi bersejarah seperti Borobudur dan Prambanan, keajaiban alam seperti Taman Nasional Ujung Kulon dan Komodo, hingga lanskap budaya unik seperti Subak di Bali dan yang terbaru, Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Pengakuan ini menegaskan nilai universal dari situs-situs tersebut bagi kemanusiaan.
Sementara itu, 16 elemen budaya takbenda dari Indonesia juga berhasil masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) UNESCO.
Kategori ini mencakup, tradisi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sebut saja Wayang, Keris, Batik, Angklung, Tari Saman, Pinisi, hingga Gamelan. Pengakuan terbaru pada tahun 2024 juga menambahkan Reog Ponorogo, Kebaya, dan Kolintang ke dalam daftar ini.
.
Pencapaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan nasional tetapi juga merupakan upaya berkelanjutan pemerintah dan masyarakat Indonesia dalam melindungi serta mempromosikan warisan berharga ini kepada dunia.
Pengunjung Kedua Terbanyak di Dunia.
Selama Festival Pacu Jalur yang diadakan setiap tahun, ratusan ribu pasang mata tumpah ruah di tepian sungai, menyaksikan drama ketegangan dan euforia kemenangan.
Bahkan, Pacu Jalur sempat dianalogikan sebagai acara dengan pengunjung terbanyak kedua di dunia setelah pelaksanaan Ibadah Haji di Tanah Suci.
Pengakuan UNESCO akan menjadi kado terindah bagi masyarakat Kuantan Singingi dan seluruh rakyat Indonesia. Ini akan menjadi bukti nyata bahwa kekayaan budaya Nusantara tak ada habisnya, siap untuk dibagikan dan dirayakan oleh seluruh umat manusia. (***)