Kanal

Lintasan Tour de Siak Diperluas ke Pekanbaru, Siapa Diuntungkan?

RIAUIN.COM - Iven tahunan balap sepeda bertaraf internasional Tour de Siak (TdSi) ke-8 tahun 2022, hari ini berakhir, Ahad (4/12/2022). 

Berbeda tahun-tahun sebelumnya, TdSi kali ini hanya 3 etape dan lintasan pebalap diperluas ke Kota Pekanbaru. Saat acara pembukaan, Kota Siak ramai dikunjungi warga dari 14 kecamatan. Sayangnya, cuma 2 hari. Usai pebalap start di etape II dengan rute Siak-Pekanbaru, Sabtu (3/12/2022) sekitar pukul 09.00 WIB, Kota Siak pun kembali sepi. 

Hari ini, Ahad (4/12/2022) sore, 62 pebalap dari 5 negara menyelesaikan etape III, rute Pekanbaru City Race, pesta TdSi pun berakhir. Malamnya, Pemprov Riau menggelar acara puncak, sekaligus penutupan TdSi 2022 di Kota Pekanbaru. Kota Siak tetap sepi.

Banyak cerita yang Riauin.com simak dari warga, serba serbi pelaksanaan TdSi tahun ini. Hingga muncul pertanyaan, dengan diperluasnya lintasan TdSi ke Kota Pekanbaru. Siapa pihak yang diuntungkan? 

Salah satu pusat kuliner di Tepian Sungai Siak yang terlihat sepi, saat Tour de Siak digelar.foto:nal.

Apakah kebijakan ini sesuai dengan tujuan awal diselenggarakannya TdSi. Yakni sebagai ajang promosi pariwisata daerah, usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan meningkatkan perekonomian masyarakat Siak?

Catatan Riauin.com, TdSi pertama kali digelar tahun 2013. Saat Syamsuar menjabat Bupati Siak dan Alfedri Wakil Bupati. Sampai sekarang, masuk tahun ke-8. Pernah vakum tahun 2020 dan 2021 dampak pandemi Covid-19. Tahun 2022 kembali digelar, dengan suasana yang sedikit berbeda. Kini, Syamsuar Gubernur Riau dan Alfedri Bupati Siak.

Milyaran rupiah APBD Siak dialokasikan setiap tahun guna menyukseskan iven kebanggaan masyarakat Siak ini. Menjelang TdSi digelar, warga pun menyambutnya dengan suka cita. Apalagi, pesta itu dilaksanakan selama 5 hari. Tak hanya olahraga dan pariwisata, ada geliat ekonomi di sana.

Setiap TdSi digelar, Pemkab Siak membuka stan bazar di Lapangan Siak Bermadah, di Tepian Bandar Sungai Jantan. Puluhan produk UMKM berjejer. Di sampingnya juga disiapkan lokasi untuk ratusan pedagang, termasuk arena bermain anak-anak. Semua tersusun rapi. Warga pun berbondong-bondong ke sana, apalagi di malam hari.

Salah satu sudut Kota Siak tempat dimana banyak berjejer kedai kopi, terlihat juga sepi di hari Sabtu, setelah etape II dilepas./foto:nal.

Kala itu, seminggu jelang pembukaan TdSi, Kota Siak mulai didatangi wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Hotel dan home stay penuh. Rumah makan membludak. Pusat kuliner di tepian Sungai Siak setiap hari didatangi pengunjung. Mobil-mobil pribadi banyak di jalanan, kadang menimbulkan macet. Pemandangan aneh bagi sebagian warga, karena jarang terjadi di ibukota Kabupaten Siak ini.

Ratusan bahkan ribuan orang tampak silih berganti masuk Istana Siak. Melihat peninggalan Kerajaan Siak. Kemudian, menikmati Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, Tangsi Belanda, 
Klenteng Hock Siu Kiong, hingga menunaikan sholat di Masjid Sultan Syahbudin. Sore hari, anak-anak bermain sepeda dan berlarian di sepanjang Turap Sungai Jantan, tampak begitu gembira. Si Ayah mencicipi secangkir kopi. Mentari pun perlahan-lahan berubah bewarna jingga, dan malam pun menyambut. 

Salah satu objek wisata Tepian Sungai Siak di belakang Klenteng Hock Siu Kiong yang juga sepi, pada Sabtu siang./foto:nal.

Sementara, di depan Istana Siak, panitia sibuk menyiapkan panggung ukuran besar untuk acara pembukaan. Baliho dan spanduk menyambut kemeriahan TdSi ada di setiap persimpangan jalan hingga ke desa-desa. Ukurannya sangat besar. Bahkan, bagian kaca belakang mobil dinas pejabat dipasang stiker TdSi. 

Kemudian, hampir seluruh jalan kabupaten yang menghubungi kecamatan-kecamatan di Siak, menjadi mulus. Kerena, akan dilewati pebalap. Dampak TdSi ini begitu nyata, langsung dirasakan warga.

Seminggu menjelang acara pembukaan, panitia pun super sibuk. Apalagi waktu TdSi ke-2 tahun 2014. Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo datang ke Siak membuka iven olahraga bertaraf internasional ini. Besoknya, rombongan Menteri menikmati sejumlah destinasi wisata di Kota Siak, sebelum kembali ke Jakarta.

Saat TdSi ke-4 tahun 2016, dimeriahkan penampilan 2.676 pelajar yang memainkan alat musik kompang. Sehingga, pergelaran ini tercatat sebagai rekor MURI. Selain itu juga ditampilkan parade gasing, salah satu permainan anak Melayu.

Setiap tahun hingga 2018, iven TdSi begitu ditunggu-tunggu. Sebab, dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Bagaimana TdSi tahun 2022 ini?

Pantauan Riauin.com, seminggu menjelang pembukaan TdSi, tidak begitu terasa antusias warga menyambut iven tahunan ini. Kendati demikian, saat acara pembukaan, ribuan warga terlihat memenuhi Lapangan Siak Bermadah. Ada Group Band Repvblik. Mereka yang sebagian besar kaum milenial, terhipnotis dengan tembang lagu yang dibawakan Ruri, sang vokalis. 

Ditambah aksi kocak dari Group Orkestra Lebah Bergantung. Lagu Udin yang dibawakan 3 pria berbadan tambun dari Kepulauan Riau ini berhasil menghibur masyarakat, di malam itu.

Ketua Umum PB ISSI Jendral Pol Listyo Sigit Prabowo diwakili Wakil Ketua Bidang Hukum PB ISSI Brigjen Pol Suyudi Aryo Seto secara resmi membuka iven balap sepeda bertaraf internasional Tour de Siak (TdS) ke-8 tahun 2022, Kamis (1/12/2022) malam.

Bersama Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar, Kapolda Riau Irjen M Iqbal, Bupati Siak Alfedri, Wakil Bupati Siak Husni Merza, dan Ketua DPRD Siak Indra Gunawan, Suyudi  menabuh gendang tanda dibukanya iven tahunan kebanggaan masyarakat Siak. Pesta kembang api mewarnai pembukaan TdS tersebut.

Besoknya, usai sholat Jumat, etape I dengan rute Siak City Race digelar. Puluhan pebalap berpacu menjadi yang terbaik, dengan jarak tempuh 85 km. 

Di hari kedua, setelah Wakil Bupati Siak Husni Merza melepas 62 pebalap etape II rute Siak-Pekanbaru di depan Istana Siak, perlahan-lahan wargapun mulai meninggal Kota Siak. Pejabat beserta keluarga mereka juga berbondong-bondong ke Pekanbaru, menghadiri acara penutupan, sekaligus berlibur di akhir pekan (weekend).

Sabtu siang sekira pukul 14.00 WIB, sudut jalanan di Kota Siak mulai sepi. Rumah makan dan pusat kuliner lainnya di tepian Sungai Siak, tak lagi ramai pengunjung.  

"Tak begitu terasa pengaruhnya, orang yang masuk ke kedai nasi Uni tak seperti Tour de Siak tahun-tahun sebelumnya. Jauh berkurang," kata salah seorang pemilik Rumah Makan Padang di Kota Siak.

"Boleh dibilang pelaku usaha dan kedai kopi tidak merasakan dampak positif Tour de Siak tahun ini. Gara-gara lintasan diubah, jadi orang lebih memilih ke Pekanbaru, daripada ke Siak," timpal pemilik kedai kopi di Siak.

Bahkan, akibat berubahnya lintasan TdSi, warga Kandis, Minas dan Perawang yang ingin menyaksikan TdSi, batal ke Siak.

"Ke Pekanbaru saja lihat Tour de Siak, ngak jadi ke Siak. Musim hujan begini, jalan ke Siak juga rusak, bagus ke Pekanbaru saja sambil jalan-jalan akhir pekan," kata Irfan, warga Perawang.

"Ngapain lagi ke Siak, kan balap sepeda sudah bisa dilihat di Pekanbaru. Awak rencana ngajak istri dan anak-anak ke Pekanbaru saja, bisa main-main ke mall," sebut Andi, warga Minas.

Tokoh Pemuda Siak Joko Susilo meminta Pemkab untuk mengevaluasi kembali kegiatan TdSi, di tahun-tahun berikutnya. Sebab, pelaksanaan TdSi tahun ini sudah bergeser jauh dari tujuan awal.

"Jika tak ada manfaatnya untuk rakyat, bagusnya uang Rp 1,2 miliar itu digunakan bangun jalan di desa-desa. Masih banyak jalan rusak di Siak ini. Atau memperbaiki sekolah dan tempat ibadah," kata Joko, yang juga Sekjen PDIP Siak ini.

Apalagi dengan berubahnya lintasan TdSi ke Pekanbaru, kata Joko, hal itu jelas merugikan masyarakat, sebab APBD Siak juga digunakan untuk iven balap sepeda.

"Tour de Siak ini kan marwah Siak. Tujuannya jelas untuk promosi pariwisata dan meningkatkan ekonomi masyarakat.
Buktinya, Siak tetap sepi, tak ada orang luar yang datang, selain pebalap dan official-nya. Ini cuma akal-akalan mereka untuk menghabiskan uang rakyat. Ke depan, ini jangan terulang lagi. Harus dievaluasi ulang," ujarnya.

Pemkab Siak, lanjut Joko, seharusnya bersikap tegas dan menolak lintasan TdSi ini diperluas ke Pekanbaru. Sebab, kalau lintasan diubah, tentu berdampak terhadap pelaksanaan TdSi tersebut untuk masyarakat Siak.

"Kalau cuma 2 hari, siapa yang mau ke Siak. Kalau tahun lalu TdSi ini 5 hari, masih tampak kita banyak orang luar ke Siak. Bahkan, sampai malam kedai makanan dan warung kopi masih buka. Sekarang mana ada," ujarnya.

"Kalau Pemprov Riau tetap ngotot, silahkan mereka buat balap sepeda sendiri. Uang APBD Riau kan banyak. Jangan pakai APBD Siak. Saya dengar pebalap BSP yang menang di etape I bukan orang Siak pula. Ini jelas membuang uang lagi, mubazir kan," tambahnya.

Saat konferensi pers di Gedung Mahratu, jelang pembukaan TdSi, Sekdakab Siak Arfan Usman menjelaskan, pelaksanaan TdSi tahun 2022 tidak menyiapkan stan dan bazar untuk pedagang dan UMKM. Pemkab Siak mengalokasikan dana Rp 1,2 miliar untuk pelaksanaan TdSi tahun ini.

"Karena pasca pandemi Covid-19, makanya kita tidak anggarkan dana untuk lokasi stan dan bazar. Tapi tujuan pelaksanaan TdSi tahun ini tak berubah, tetap sebagai sarana mempromosikan destinasi pariwisata Kabupaten Siak. Tapi tahun ini hanya 3 etape dan Pemkab Siak sharing budget dengan Pemprov Riau. Acara pembukaan di Siak dan penutupan di Pekanbaru," kata Arfan kepada sejumlah wartawan.

Usai menyaksikan pebalap tuan rumah dari Bumi Siak Pusako (BSP) Bernard Benjamin menjuarai etape I mengelilingi Kota Siak, 
Bupati Siak Alfedri mengaku pebalap itu bukan orang asli Siak. BSP menyewa pebalap luar untuk mengikuti TdSi tahun ini.

"Memang dia bukan orang Siak, tapi ke depan Pemkab Siak melalui pengurus ISSI akan melakukan pembinaan terhadap pebalap asli Siak, sehingga bisa ikut TdSi di tahun-tahun berikutnya," kata Alfedri ke sejumlah wartawan di depan garis finish, Jumat (2/12/2022) sore.(nal)

Ikuti Terus Riauin

Berita Terkait

Berita Terpopuler