Sapi-sapi tersebut diterima oleh 59 kelompok tani dengan aksen dari program yang memiliki resiko kematian dan pencurian yang cukup tinggi. Dari 1.450 ekor sapi ternak tersebut puluhan ekor dinyatakan hilang dan ada pula yang mati.
"Program integrasi sapi dan sawit ini aksennya semi aksesif kematian dan pencurian, karena sapi-sapi tersebut dibiarkan lepas diperkebunan rakyat. Tapi dampaknya angka kelahiran sapi banyak, dari program ini sudah tumbuh pengelola-pengelola pupuk dan hasil perkebunan mereka meningkat," kata Kepala Dinas Peternakan Riau, Askardya Patrinov, Selasa (07/02/2017).
Program yang dianggarkan dalam APBN tersebut sudah berjalan selama 3 tahun dengan pola bergulir. Setiap kelompok tani terdiri dari 10 hingga 15 orang dengan jumlah sapi sebanyak 5 ekor per orang.
Sedangkan hibah dari APBD baru tahun ini kembali dialokasikan setelah dua tahun berturut-turut dihentikan. Tahun ini Pemprov Riau mengalokasikan sebanya 1.433 ekor sapi dengan penerima sebanyak 80 kelompok tani.
"Hanya saja kami masih akan membahas pola hibah ini, khawatirnya, ada petani yang nakal. Misalnya, setelah menerima bantuan dari kelompok tani A, kemudian tahun berikutnya pindah ke kelompok tani B. Ini yang harus kita antisipasi," tutur Novi, sapaan akrabnya. (oce)