Di Dapur Mangrove, Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir Kembali Hidup
Seorang peserta sedang mempersiapkan bumbu dapur pada kegiatan Lomba Memasak Lokan di aula Mangrove Sungai Bersejarah (MSB) Sei Apit, Sabtu (25/7/2026). | Foto : hrs
RIAUIN.COM- Aroma bawang merah yang ditumis bercampur dengan wangi serai dan lokan rebus memenuhi Aula
Kawasan Konservasi Mangrove Sungai Bersejarah (MSB), Desa Kayu Ara Permai, Kecamatan Sei Apit, Kabupaten Siak, Sabtu (25/7). Selama 60 menit, aula yang berada di tengah kawasan mangrove itu berubah menjadi dapur bersama ketika 10 tim mengolah lokan menjadi aneka hidangan khas pesisir.
Peserta berasal dari Kampung Parit I/II, Kampung Sungai Kayu Ara, Kelurahan Sungai Apit, Kampung Teluk Mesjid, Kampung Kayu Ara Permai, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Riau, hingga personel SPN Sungai Kayu Ara. Masing-masing tim beranggotakan tiga perempuan yang membawa resep dan cita rasa dari daerahnya.
Suasana yang tercipta lebih menyerupai kerja bersama daripada sebuah perlombaan. Di belakang para peserta, suami, anak-anak, kerabat, dan rekan sesama mahasiswa ikut menjadi tim pendukung. Mereka membersihkan lokan, memisahkan daging dari cangkang, mengupas bawang merah dan bawang putih, mengiris cabai, memetik daun kemangi, menggeprek serai, menyiapkan bumbu, mencuci peralatan, hingga menata hidangan.
Sementara peserta utama berkonsentrasi meracik resep dan mengolah masakan, para pendukung memastikan seluruh bahan siap digunakan tepat waktu.
Di atas tikar berjejer lokan hasil tangkapan sehari sebelumnya, ikan, udang, kepiting, serta aneka sayuran dan rempah. Ada yang menghaluskan bumbu di atas cobek batu, mengaduk kuah sempedas, menggoreng udang hingga berwarna keemasan, merebus lokan, dan menata hasil masakan di atas piring saji. Bunyi ulekan yang menghantam cobek berpadu dengan desis minyak dari atas wajan, sementara aroma rempah memenuhi ruangan yang terbuka ke arah hutan mangrove.
Ketua Panitia Hari Mangrove Sedunia Kabupaten Siak, Jumadi Afrizan, mengatakan lomba tersebut bertujuan menggali potensi kearifan lokal masyarakat pesisir Riau melalui pengolahan lokan sebagai salah satu pangan khas kawasan mangrove.
Menurutnya, seluruh lokan yang diolah berasal dari hasil Lomba Mencari Lokan yang digelar sehari sebelumnya. Sebelum dibagikan kepada peserta, panitia terlebih dahulu memilah hasil tangkapan agar hanya lokan berukuran besar yang dimanfaatkan.
"Hanya lokan berukuran besar yang dimasak. Lokan yang diameternya kurang dari tiga sentimeter kami kembalikan lagi ke habitatnya agar bisa tumbuh dan berkembang biak," ujar Jumadi.
Ia menambahkan, Kawasan Konservasi Mangrove Sungai Bersejarah tidak diperbolehkan menjadi lokasi perburuan lokan sehingga populasinya di habitat alami tetap terjaga sebagai bagian dari upaya konservasi mangrove.
Koordinator Lomba Memasak Lokan, Imel Lini Fitria, mengatakan penilaian dilakukan berdasarkan lima kriteria, yakni kelengkapan gizi dan cita rasa, kebersihan, penampilan, kerapian, serta ketepatan waktu. Setiap tim diberi waktu 60 menit untuk menyajikan menu utama berbahan lokan, dilengkapi hidangan pendamping berbahan hasil perairan pesisir, makanan ringan, dan minuman.
Salah satu peserta, Ismalia Siregar, mahasiswi Program Studi Fisika FMIPA Universitas Riau yang sedang menjalani KKN di Kecamatan Sei Apit, mengaku baru pertama kali mengikuti lomba memasak lokan bersama dua rekannya, Suci Agustin dan Yucci. "Kami modal percaya diri saja," katanya.
Tim Ismalia menyajikan Lokan Serai sebagai menu utama, dipadukan dengan Sempedas Ikan Lompong serta Udang Krispi dengan kuah berbahan cuka kedabu, salah satu tanaman khas mangrove.
Sementara itu, juara pertama Lomba Memasak Lokan 2022 dari Desa Kayu Ara Permai, yang diperkuat Ariyanti, Irawati, dan Firasandi, kembali mengikuti perlombaan tahun ini dengan kreasi menu baru setelah sebelumnya meraih juara melalui sajian Asam Manis Lokan, Nasi Jagung, Udang Rebus Bumbu Tomyam, dan Puding Kuah Setup Nenas.
EMP CSR & Communication Division Manager, Iman Soerjasantosa, mengatakan pelestarian kuliner berbasis mangrove merupakan salah satu cara menjaga potensi ekonomi masyarakat pesisir agar berkembang seiring dengan keberlanjutan industri energi di sekitar wilayah operasi.
"Industri energi tumbuh berdampingan dengan masyarakat. Karena itu kami memandang pelestarian kearifan lokal, penguatan ekonomi berbasis potensi pesisir, dan perlindungan lingkungan merupakan bagian yang saling melengkapi untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan," ujar Iman.
Sore itu, yang tersaji bukan hanya sepiring masakan lokan. Ada resep keluarga yang kembali dimasak, gotong royong yang masih bertahan, dan pengetahuan masyarakat pesisir tentang mangrove yang terus diwariskan. Di dapur sederhana itulah, tradisi kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. -rls, juh
Berita Lainnya
Apa Itu Katarak? Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
IPR Riau Turun ke 10,5, BNPT Ingatkan Ancaman Radikalisme Kini Bergeser ke Ruang Digital
CapCut Kini Hadir di MyTelkomsel, Bikin Kreasi Konten Makin Praktis
Jangan Lewatkan! Telkomsel Hadirkan Promo Menarik dan Tukar Poin Gratis di Riau Bhayangkara Run 2026
Telkomsel Luncurkan Halo Optima, Paket Pascabayar dengan Kuota hingga 300 GB dan Hiburan Premium
Euforia Nobar Piala Dunia 2026 Memuncak, Capella Honda Ingatkan Pengendara Tetap #Cari_Aman
Apa Itu Katarak? Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
IPR Riau Turun ke 10,5, BNPT Ingatkan Ancaman Radikalisme Kini Bergeser ke Ruang Digital
CapCut Kini Hadir di MyTelkomsel, Bikin Kreasi Konten Makin Praktis
Jangan Lewatkan! Telkomsel Hadirkan Promo Menarik dan Tukar Poin Gratis di Riau Bhayangkara Run 2026
Telkomsel Luncurkan Halo Optima, Paket Pascabayar dengan Kuota hingga 300 GB dan Hiburan Premium
Euforia Nobar Piala Dunia 2026 Memuncak, Capella Honda Ingatkan Pengendara Tetap #Cari_Aman