Kanal

Cuaca Ekstrem di Riau Terjang Perahu Nelayan di Rokan Hilir hingga Hancur

RIAUIN.COM - Cuaca ekstrem yang melanda wilayah pesisir Provinsi Riau kembali memicu bencana bagi nelayan tradisional. Dua unit perahu motor (boat) jenis sondong hancur dan karam setelah dihantam angin puting beliung serta gelombang tinggi di perairan Suak Nipah, Pulau Halang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, Minggu (5/7/2026). Peristiwa ini mengakibatkan kerugian materi hingga ratusan juta rupiah dan memutus total sumber penghasilan korban.

Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB ketika para nelayan tengah beroperasi di tengah laut. Perubahan cuaca yang berlangsung sangat cepat membuat para pekerja laut tidak sempat menyelamatkan armada mereka ke daratan sebelum ombak besar datang menerjang.

Penghulu Sungai Kubu Bulkrim saat dikonfirmasi membenarkan adanya musibah yang menimpa warganya tersebut. Kendati seluruh awak kapal dipastikan selamat, dampak kerusakan alat tangkap dan kapal yang ditimbulkan sangat masif sehingga korban tidak bisa bekerja.

"Alhamdulillah seluruh nelayan selamat. Namun kerugian yang dialami sangat besar karena ada boat yang terbelah dua dan ada yang karam. Kami juga mengimbau seluruh nelayan agar selalu mengutamakan keselamatan serta memperhatikan kondisi cuaca sebelum melaut," ujar Bulkrim, Rabu (8/7/2026).

Berdasarkan data yang dihimpun, dua nelayan yang menjadi korban dalam peristiwa ini adalah Suroso (53), warga Kepenghuluan Sungai Kubu Hulu, dan Bukhori (53), warga Kepenghuluan Sungai Kubu. Perahu berukuran 3 gross tonnage (GT) milik Suroso mengalami kerusakan paling parah hingga terbelah menjadi dua bagian, sedangkan perahu berukuran 4 GT milik Bukhori tenggelam di lokasi kejadian.

Bukhori menceritakan, sebelum peristiwa itu terjadi, kondisi langit di sekitar perairan Pulau Halang sebenarnya terpantau cukup cerah. Namun, dalam hitungan menit, gumpalan awan hitam pekat mendadak menutupi cakrawala yang diikuti angin kencang berputar.

"Angin datang begitu cepat tanpa ada tanda-tanda. Dalam hitungan menit cuaca berubah gelap seperti malam dan ombak besar langsung menghantam boat kami. Kami berusaha menyelamatkan diri dengan mengarahkan boat ke tepi pantai, tetapi tetap terseret angin hingga akhirnya terdampar," kata Bukhori mengenang kepanikan di tengah laut.

Selama kurang lebih 15 menit, kedua perahu tradisional itu terombang-ambing dihempas gelombang. Meskipun mereka berupaya keras mengemudikan kapal menuju garis pantai terdekat, kuatnya hantaman arus memaksa armada mereka terseret hingga menabrak area dangkal.

"Boat milik pak Suroso hancur terbelah dua dan tidak bisa diselamatkan lagi. Boat saya memang karam, tetapi masih ada harapan untuk diperbaiki. Kerugian yang kami alami diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah," ucap Bukhori.

Kehilangan perahu motor ini menjadi pukulan telak bagi ekonomi keluarga nelayan di Rokan Hilir, mengingat sarana tersebut merupakan satu-satunya modal untuk mencari nafkah. Saat ini, para korban sangat mengharapkan uluran tangan dari Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir, khususnya Dinas Perikanan dan Kelautan, agar mendapatkan bantuan perbaikan atau armada baru.

"Boat adalah satu-satunya alat kami mencari rezeki. Kami berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah supaya bisa kembali bekerja dan menghidupi keluarga," tutur Bukhori.

Fenomena perubahan cuaca yang mendadak di pesisir Riau ini menjadi peringatan nyata akan tingginya risiko keselamatan yang dihadapi oleh para nelayan kecil di tengah ketidakpastian iklim. (*)

Ikuti Terus Riauin

Berita Terkait

Berita Terpopuler