RIAUIN.COM - Ancaman kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau mengalami eskalasi ekstrem pada awal tahun 2026. Dalam tiga bulan pertama, luas area yang terbakar telah menembus angka 8.555,4 hektare, sebuah lonjakan signifikan hingga sepuluh kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya mencapai 679,8 hektare.
Kondisi kerentanan lahan gambut yang mengering menjadi faktor utama cepatnya rambatan api di sejumlah wilayah. Berdasarkan data lintas lembaga yang dihimpun dari analisis citra satelit Kementerian Kehutanan, BRIN, dan Kementerian Lingkungan Hidup, dua kabupaten tercatat sebagai wilayah dengan kerusakan terparah. Kabupaten Pelalawan menjadi daerah terdampak terluas dengan 3.338,6 hektare, disusul Kabupaten Bengkalis seluas 3.298,4 hektare.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengungkapkan bahwa anomali kenaikan luas karhutla ini sudah terlihat sejak Januari. Sebagai perbandingan, pada periode Januari-Maret 2024 luas kebakaran tercatat 2.947,4 hektare dan pada 2023 hanya 507,7 hektare.
"Personel di lapangan sering harus bertahan berhari-hari di dalam hutan guna memastikan sisa api di bawah permukaan gambut benar-benar padam," kata Ferdian Krisnanto di Pekanbaru, Rabu (15/4/2026).
Selain dua wilayah utama tersebut, sebaran kebakaran juga meluas ke beberapa kabupaten/kota lain di Riau dengan rincian sebagai berikut:
Wilayah Luas Kebakaran (Hektare), Indragiri Hilir 744,0
Dumai 438,4, Siak 248,3, Kepulauan Meranti 197,9, Rokan Hilir 181,6, Kampar 52,7. Daerah lain seperti Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, Rokan Hulu, dan Pekanbaru juga melaporkan adanya titik api, meski dengan skala di bawah 30 hektare.
Ferdian Krisnanto menjelaskan, tim Manggala Agni menghadapi kendala berlapis di lapangan, mulai dari menyusutnya ketersediaan sumber air, paparan suhu panas yang ekstrem, hingga tiupan angin kencang yang memicu loncatan bara api. Padahal, menurut prakiraan BMKG, puncak musim kemarau yang paling berisiko diprediksi baru akan terjadi pada rentang Juni hingga September mendatang.
Situasi saat ini dinilai menjadi alarm keras bagi semua pihak terkait. Ferdian Krisnanto memaparkan dua kemungkinan perkembangan situasi ke depan. Di satu sisi, luas kebakaran bisa saja melambat karena sebagian zona rawan sudah hangus lebih awal. Namun di sisi lain, risiko meluasnya api tetap terbuka lebar jika cuaca ekstrem terus berlanjut tanpa intervensi pencegahan yang masif.
"Kondisi ini harus menjadi bahan evaluasi bersama. Penguatan upaya pencegahan dan patroli terpadu sangat mendesak agar dampak kebakaran tidak semakin tak terkendali saat memasuki puncak kemarau nanti," ujar Ferdian Krisnanto. (Bil)