Oleh: Hendrianto.
DI TENGAH ketidakpastian transfer dana dari pemerintah pusat, daerah kini dipaksa untuk tidak lagi "manja". Kemandirian fiskal bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan.
Bagi Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), salah satu jawaban atas tantangan ini sebenarnya sudah ada di depan mata, tepatnya di jantung Kota Pekanbaru: Wisma Jalur.
Selama ini, aset daerah seringkali terjebak dalam stigma klasik—fasilitas yang "ada hidup segan mati tak mau", sekadar tempat singgah birokrat dengan fasilitas yang mulai dimakan usia.
Namun, pernyataan Kabag Umum Setda Kuansing, Deswan Antoni baru-baru ini, membawa angin segar sekaligus tantangan logis. Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 1,6 Miliar per tahun bukanlah angka khayalan jika kita berani membedah strateginya secara radikal.
Secara hitung-hitungan, target tersebut cukup masuk akal. Dengan asumsi 30 kamar yang tersedia, tingkat hunian (okupansi) sebesar 50 persen saja sudah mampu menghasilkan angka Rp 135 juta per bulan.
Jika ini konsisten, angka Rp 1,6 Miliar per tahun berada dalam jangkauan. Namun, pertanyaannya: Siapa yang mau menginap jika fasilitasnya masih berstandar 15 tahun yang lalu?
Langkah awal yang direncanakan pemerintah daerah untuk melakukan renovasi total pada interior dan utilitas air adalah langkah mutlak. Di era digital saat ini, visual adalah segalanya.
Pengunjung tidak hanya mencari tempat tidur, mereka mencari kenyamanan dan estetika—atau yang akrab disebut "instagramable". Memperbarui fasilitas air bersih bukan lagi pilihan, itu adalah kebutuhan dasar jika tidak ingin ditinggalkan pelanggan. Namun, renovasi fisik hanyalah separuh jalan.
Strategi untuk mewajibkan pejabat dan staf Pemkab menginap di sana adalah langkah awal untuk menjamin cashflow. Tapi, jika kita hanya mengandalkan perjalanan dinas, kita hanya memindahkan uang dari saku kanan ke saku kiri APBD.
Agar benar-benar menjadi mesin uang bagi PAD, Wisma Jalur harus bertransformasi menjadi unit bisnis yang kompetitif. Wisma Jalur harus hadir di platform pemesanan hotel daring. Bersainglah secara terbuka dengan hotel-hotel budget di Pekanbaru.
Jadikan wisma ini bukan sekadar penginapan, tapi "Kedutaan Budaya" Kuansing. Lobi yang memamerkan Batik Kuansing dan kuliner lokal akan memberi nilai tambah yang tidak dimiliki hotel jaringan internasional.
Selanjutnya, profesionalisme adalah kunci. Pelayanan harus setara hotel berbintang meski dengan harga wisma.
Kita mengapresiasi keberanian Pemkab Kuansing untuk mengoptimalkan aset ini. Namun, perlu diingat bahwa dalam bisnis jasa, "kepuasan pelanggan adalah promosi terbaik".
Jangan sampai setelah renovasi besar-besaran dilakukan, kita kembali terjebak dalam manajemen yang lamban. Wisma Jalur bukan hanya tentang kamar dan kasur. Ia adalah simbol harga diri daerah di ibu kota provinsi.
Jika dikelola dengan sentuhan bisnis yang tepat, ia bukan lagi beban biaya perawatan, melainkan keran pendapatan yang deras bagi pembangunan di Negeri Pacu Jalur. (***)