Timses Jokowi: Orientasi Politik Kiai Pesantren Didengar Masyarakat


Senin, 15 Oktober 2018 - 07:00:14 WIB
Timses Jokowi: Orientasi Politik Kiai Pesantren Didengar Masyarakat
Jakarta, Riauin.com - Hampir semua peserta Pilpres 2019 sudah bersilaturahmi ke pondok pesantren. Kubu pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin berbicara soal daya tarik pondok pesantren di pilpres.

"Pesantren itu menjadi sangat penting ya sebagai institusi lembaga pendidikan yang tidak hanya menjadi institusi lembaga pendidikan semata, tetapi di situ ada kiainya yang memiliki pengaruh sosial politik yang cukup kuat di kalangan masyarakat," ujar juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) atau timses Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily saat dihubungi, Senin (15/10/2018).

Ace menyebut pesantren jangan hanya dilihat sebagai lembaga pendidikan, tetapi pesantren juga harus dilihat sebagai subkultur yang khas di Indonesia yang memiliki pengaruh cukup luas di kalangan masyarakat. Santri-santri sendiri sebagai subkultur itu, kata Ace, menjadi strata sosial tersendiri di dalam masyarakat, apalagi di masyarakat Jawa. Intinya, Ace memandang pesantren punya peran strategis untuk bangsa.

"Keberadaan pesantren menjadi sangat penting sebagai kelompok strategis yang bukan saja menjadi lembaga pendidikan, tetapi orientasi politiknya pun juga cukup didengarkan masyarakat, kiainya itu," jelas Ace.

KPU mengatur larangan berkampanye di lembaga pendidikan, tempat ibadah, dan fasilitas pemerintah. Namun jika capres-cawapres hanya datang ke lembaga pendidikan untuk memberikan kuliah umum tapi tidak kampanye, itu tidak jadi masalah. Bagi Ace, akan sangat aneh jika Ma'ruf Amin dilarang ke pesantren karena Ma'ruf disebutnya berasal dari pesantren.

"Ketokohan beliau sebagai seorang ulama itu karena memang berangkat dari NU. NU sendiri merupakan komunitas pesantren. Nah, bagi saya, saya sangat heran jika KPU melarang Kiai Ma'ruf sebagai orang pesantren untuk mendatangi pesantren. Memang kita harus bedakan mana pesantren sebagai komunitas Kiai Ma'ruf sendiri dan memang tujuannya untuk silaturahmi," katanya.

Ketua DPP Partai Golkar itu lalu bicara soal hal-hal yang bisa dikategorikan sebagai kampanye di pesantren. Dia menyebut unsur kampanye itu adalah menampilkan citra diri, mengajak memilih capres-cawapres dan yang ketiga adalah menyampaikan visi dan misi. Ace menegaskan kunjungan Ma'ruf ke pesantren untuk silaturahmi.

"Kalau ketiga hal tersebut dilakukan secara terbuka dan disampaikan di dalam pertemuan-pertemuan di pesantren memang itu bisa dikatakan sebagai kampanye. Kalau konteksnya silaturahmi bertemu kiai kemudian para santri minta didoakan Kiai Ma'ruf sebagai tokoh panutan di kalangan pesantren, itu jangan dianggap kampanye," kata Ace.

Baca juga: PAN ke Yenny Wahid: Vulgar atau Tidak, Tak Boleh Kampanye di Ponpes
"Harus kita bedakan. Kalau misalnya tak membolehkan Kiai Ma'ruf, itu artinya sama saja tidak membolehkan Kiai Ma'ruf pulang ke rumahnya sendiri karena Kiai Ma'ruf berasal dari pesantren," tutur Wakil Ketua Komisi VIII DPR itu.

Prabowo Subianto sudah mengunjungi Ponpes Asyafi'iyah Sukabumi, sementara itu Sandiaga Uno telah bertamu Ponpes Nurul Jadid Probolinggo. Cawapres nomor urut 01 Ma'ruf Amin tercatat pernah ke Ponpes Al-Munawwir Bantul.(int/nol)