PASIR PANGARAIAN, Riauin.com - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Rokan Hulu menggelar Riau Islamic Art Festival 2018, di dataran tinggi Pematang baih,Kecamatan Rambah.
Kegiatan tersebut dilaksankan selama dua Hari,dimana pembukaan oleh Bupati Rokan Hulu (Rohul), H. Sukiman, diwakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Rohul Drs. Yusmar M.Si, Jumat (4/5/2018), malam.ditutup Sabtu Malam (5/4/2018).
Dimana, Penampilan group band Islami asal Jakarta, DEBU,‎ menutup even Riau Islamic Art Festival 2018 di lapangan dataran tinggi Pematang Baih, Pasirpangaraian, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul).
Malam penutupan Riau Islamic Art Festival 2018 dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai kecamatan ini juga dihadiri sejumlah pejabat dari Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Riau, dan Disparbud Rohul.
‎Malam penutupan even tahunan diprakarsai Dispar Riau dimulai penampilan Ratik Togak dari Kecamatan Rambah Hilir, dilanjutkan penampilan group rebana dari Kecamatan Rambah yang pernah meraih juara di tingkat Provinsi Riau pada tahun 2016.
Bukan hanya itu saja, malam penutupan semakin meriah setelah Selasih Dulang Band, merupakan kumpulan pelaku seni asal Kabupaten Rohul menyumbangkan sedikitnya 4 lagu gambus dan melayu.
‎Selanjutnya, penampilan DEBU mengakhiri even Riau Islamic Art Festival yang baru pertama kalinya digelar di Kabupaten Rohul. Even ini akan menjadi agenda rutin Dispar Provinsi Riau di Kabupaten Rohul.
Kepala Disparbud Rohul Drs. Yusmar M.Si, ‎ atas nama Pemkab Rohul berterima kasih kepada Dispar Riau, karena Rohul sudah ditunjuk sebagai tuan rumah, dan even ini akan menjadi agenda rutin di tahun-tahun akan datang di daerah berjuluk Negeri Seribu Suluk.
"Semoga kegiatan tidak hanya memberikan pengalaman pribadi, namun bermanfaat bagi kita semua," sampainya.
Yusmar juga mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat karena telah ikut meramaikan Riau Islamic Art Festival hingga even ditutup.
Melalaui Even Riau Islamic Art Festival 2018 di Kabupaten Rohul, diharapkan bisa kembali membangkitkan budaya Islami yang mulai dilupakan masyarakat. Menurutnya, budaya Islami merupakan budaya peninggalan nenek moyang yang punya pesan moral.
Yusmar juga menyambut baik ditunjuknya Kabupaten Rohul sebagai tuan rumah untuk even Riau Islamic Art Festival setiap tahun. Diakuinya, bila Dispar Riau komitmen, Disparbud‎ Rohul akan menyokong kegiatan Islami ini melalui sharing budget.
"Namun semua itu harus dengan persetujuan bapak Bupati Rokan Hulu, H. Sukiman," imbuhnya.
Diakuinya, Pada Riau Islamic Art Festival, yang dilaksanakan, sedikitnya ada 5 seni budaya Islami asal Rohul yang dicoba dibangkitkan kembali, seperti Ratik Tolak Balo, Ratik Togak, Barzanji Berudah, Rebana.
Lebih lanjut diterangkanya, dengan ditutupnya Riau Islamic Art Festival maka Riau Food Festival juga resmi ditutup.
Diakui, Riau Food merupakan upaya bagus dilakukan Dispar Riau dalam mengangkat kuliner khas daerah. Seperti kuliner di Kabupaten Rohul cukup banyak jumlahnya.
Namun, ungkap Yusmar, sejauh ini baru kokek asam durian yang dikenal masyarakat. Padahal, dari inventarisir dilakukan Disparbud Rohul, ada sekira 37 kuliner khas Rohul yang bisa dikembangkan dan bisa dijadikan untuk oleh-oleh wisatawan.
Seperti gula enau atau gula aren, sambung mantan Kabag Humas Setdakab Rohul, meski banyak dihasilkan dari Rohul, namun sejauh‎ ini gula enau hanya dijual dalam bentuk gula saja, padahal gula enau bisa diolah berbagai penganan, seperti dijadikan permen.
Berdasarkan catatan, tambahnya, kunjungan wisatawan ke Masjid Agung Islamic Center Pasirpangaraian pada tahun 2016 sekira 1 juta orang.
"Tentunya dengan banyaknya wisatawan, kuliner khas Rokan Hulu sudah sepantasnya kita kenalkan. Ini harus kita gunakan, dan kesempatan harus kita ambil," pungkasnya.(yus)