Bedah Buku "Cara Gila Menjadi PR", Dodi Sarjana Beberkan Rahasia Humas Bertahan di Era Scroll 3 Detik


Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:42:13 WIB
Bedah Buku

Penulis Dodi Sarjana (tengah) membahas buku “Cara Gila Menjadi PR” dalam acara bedah buku didampingi narasumber Assoc Prof Eka Putra PhD (kanan) dan moderator Satria Utama Batubaru. F: Perhumas Pekanbaru

RIAUIN.COM – Puluhan mahasiswa ilmu komunikasi dari berbagai universitas di Riau, pengurus dan anggota Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Kota Pekanbaru, serta masyarakat umum memadati aula Institut Kesehatan dan Teknologi Al-Insyirah Pekanbaru, Sabtu (10/10/2026). Mereka menghadiri bedah buku berjudul "Cara Gila Menjadi PR: Bertahan & Menang di Era Scroll 3 Detik" karya RHR Dodi Sarjana.

Acara tersebut digelar bersempena Musyawarah Cabang (Muscab) IV Perhumas Kota Pekanbaru. Bedah buku menghadirkan langsung penulisnya, RHR Dodi Sarjana, dengan pendamping Assoc Prof Eka Putra ST MSc PhD, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau. Diskusi dipandu Satria Utama Batubara.

Ketua Perhumas Kota Pekanbaru terpilih, H Ian Machyar, menyampaikan rasa bangganya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, buku karya Dodi Sarjana menawarkan perspektif baru tentang kerja humas di era digitalisasi.

"Buku yang ditulis Mas Dodi Sarjana ini sangat menarik. Sebagai orang PR saya merasa bahagia atas kehadiran buku yang menawarkan cara kerja humas di era digitalisasi. Cara gila yang disampaikan Mas Dodi penuh inspirasi dan dapat menjadi petunjuk bagi praktisi humas, mahasiswa komunikasi dan masyarakat umum yang ingin mengetahui cara kerja humas selama ini," kata Ian Machyar kepada wartawan, Selasa (13/10/2026) di Pekanbaru.

Ia berharap bedah buku serupa dapat dilanjutkan ke kampus-kampus di Riau. "Selamat selanjutnya bedah buku ini bisa kita lanjutkan ke kampus-kampus yang ada di Riau," ujarnya.

Dalam paparannya, Dodi Sarjana menegaskan buku tersebut tidak lahir dari satu teori semata, melainkan dari perjalanan panjang mengamati bagaimana komunikasi bekerja di dunia nyata. Ia mengaku pernah berada di sisi yang membuat berita, sisi yang membutuhkan berita, ruang redaksi, hingga tengah masyarakat.

"Semakin jauh perjalanan itu, semakin jelas satu hal: dunia komunikasi telah berubah sangat cepat," kata Dodi.

Ia menjelaskan, dulu seorang humas bisa merasa pekerjaannya selesai setelah rilis dikirim kepada wartawan. Namun kini, sebuah isu dapat muncul dari satu unggahan, berkembang melalui komentar, berpindah ke grup percakapan, masuk ke platform video pendek, lalu menjadi perhatian media. Sebaliknya, berita media dapat dipotong menjadi video, meme, bahan perdebatan, dan kembali memengaruhi pemberitaan.

"Batas antara media, publik, konsumen, komunitas, kreator, dan organisasi menjadi semakin tipis," ujarnya.

Karena itu, menurut Dodi, humas tidak boleh hanya belajar menjadi humas. Ia harus memahami jurnalistik, cerita, data, perilaku publik, media sosial, krisis, dan bisnis. Hal inilah yang melandasi judul bukunya.

"Gila di sini bukan berarti ceroboh, nekat, manipulatif, apalagi mengabaikan etika. Sebaliknya. Gila berarti berani keluar dari kebiasaan ketika kebiasaan lama sudah tidak lagi cukup," tegasnya.

Dodi memaparkan, humas "gila" yang dimaksud adalah sosok yang berani bertanya mengapa harus selalu melakukan cara yang sama, berani mengubah cara memandang wartawan sebagai bagian dari ekosistem informasi, serta berani menggabungkan cara berpikir jurnalistik dengan kemampuan strategis PR.

"Berani menggunakan data tanpa kehilangan sisi manusia. Berani bergerak cepat tanpa mengorbankan kebenaran. Dan yang paling penting: berani bertanggung jawab atas apa yang dikomunikasikan," pungkasnya.

Sementara itu, Assoc Prof Eka Putra PhD menilai buku tersebut membuka mata para praktisi humas dan akademisi bahwa telah ada cara efektif untuk menguasai dunia humas dengan pendekatan tak biasa.

"Buku ini bicara tentang perang: perang perhatian, perang krisis, dan perang kepercayaan. Tapi yang paling saya hargai adalah pesannya bahwa narasi yang kuat selalu membutuhkan fakta yang kuat. Mas Dodi tidak mengajarkan cara memanipulasi media—ia mengajarkan cara membuat cerita yang benar-benar layak diberitakan," kata Eka Putra.

Sebagai pengajar komunikasi, Eka Putra mengaku sering kesulitan menemukan buku yang menghubungkan teori PR dengan kenyataan lapangan secara seimbang. Namun, menurutnya, Cara Gila Menjadi PR berhasil melakukan itu.

"Konsep seperti Narrative Hacking, PR Stunting, dan empat otak humas gila adalah kerangka praktis yang layak masuk ke ruang kelas," ungkapnya.

Acara bedah buku berlangsung semarak dan diakhiri dengan diskusi interaktif antara penulis, pembahas, dan peserta yang hadir. - rum