HUT ke ke 27: Saatnya Kuansing Menentukan Arah


Sabtu, 03 Oktober 2026 - 12:35:32 WIB
HUT ke ke 27: Saatnya Kuansing Menentukan Arah

 

Oleh: Hendrianto

UMUR 27 tahun itu unik. Dalam umur manusia, itu masa paling gagah. Masa paling produktif. Masa mudanya sudah selesai. Galau-galau tak jelasnya sudah lewat. Jerawat masa remajanya sudah bersih. Kuliah sudah tamat. Pengalaman kerja sudah ada sedikit-sedikit. Fisik lagi kuat-kuatnya. Otak lagi encer-encernya.

Di umur 27 tahun, ada satu hal penting yang harus dipegang: kejelasan jalan hidup. Mau jadi pengusaha, ayo serius. Mau jadi PNS, silakan fokus. Mau jadi seniman, tekuni betul-betul.

Yang tidak boleh lagi dilakukan di umur 27 tahun cuma satu: bingung. Masih suka coba-coba tanpa arah. Pagi ingin jadi penyanyi, siang ingin jadi petani, malam mau jadi pemain bola. Kalau begitu terus, umur 30 nanti cuma dapat capeknya saja. Hidup habis di jalan, tujuan tak sampai.

Tanggal 12 Oktober 2026 mendatang, Kabupaten Kuantan Singingi tepat berumur 27 tahun. Pas sekali. Lahir tahun 1999 lalu. Lewat Undang-Undang Nomor 53. Waktu itu ibarat bayi, Kuansing disambut tangis bahagia. Semua orang menaruh harapan besar pada negeri ini.

Sekarang bayinya sudah dewasa. Sudah 27 tahun. Hal yang sama berlaku untuk Kuansing saat ini: arah pembangunan harus dikunci tegas.

Ini bukan soal mengobrol biasa di warung kopi. Ini urusan nyata yang menentukan nasib ratusan ribu orang di sepanjang aliran Sungai Kuantan.
Perencanaan daerah harus lugas dan langsung pada pokoknya. Jangan mutar-mutar. Jangan pakai bahasa dinas yang rumit-rumit.

Pilihannya: Menjadi Daerah Tujuan Wisata, atau Menjadi Pusat Perkebunan dan Industri. Pilih salah satu. Harus fokus. Kunci dari atas sampai bawah. Agar semua program selaras. Agar jalannya terarah, tak habis energi di tengah jalan.

Sebab begini. Dua pilihan itu jalan jalurnya berbeda. Tabiatnya beda. Kebutuhannya bertolak belakang. Kalau Kuansing memilih jadi daerah wisata, caranya harus anggun. Lingkungannya wajib dijaga betul. Hutan ditata, sungai dibersihkan. Budaya ditimang-timang.

Pacu Jalur bukan cuma pesta setahun sekali, tapi ruh yang hidup sepanjang hari. Penataan kotanya dibuat rapi, orang luar datang merasa nyaman dan ingin kembali.

Tapi kalau memilih jadi pusat perkebunan dan industri, beda lagi cerita dan syaratnya. Tidak bisa industri itu berjalan liar tanpa aturan. Pemerintah daerah wajib menyiapkan Kawasan Industri terpadu yang jelas batas-batasnya.

Perda Tata Ruang dan Perda Kawasan Industri harus disahkan dan dikunci rapat. Jangan sampai pabrik-pabrik pengolahan kelapa sawit atau industri berat berdiri sporadis, bercampur baur di tengah pemukiman warga.

Para akademisi dari berbagai perguruan tinggi kerap mengingatkan bahaya pembangunan tanpa zonasi yang jelas. Ketika industri dibiarkan tumbuh tanpa tata ruang daerah yang tegas, biaya sosial dan kerusakan lingkungan yang ditanggung masyarakat jauh lebih besar dibanding nilai investasi yang masuk.

Kalau pabrik bercampur dengan rumah warga, yang lahir cuma penderitaan. Cerobong asap mencemari udara dapur warga, limbah cair mengancam sumur-sumur desa, dan truk tonase berat meremukkan jalan raya tempat anak-anak bermain. Investor pun bingung karena tidak ada kepastian hukum dan fasilitas pendukung seperti jaringan listrik atau pengolahan limbah terpadu.

Jalan-jalan menuju kawasan industri harus diperkuat untuk kendaraan tonase berat. Pelayanan izin dibuat cepat kilat. Pabrik pengolahan didirikan di zonanya sendiri. Hilirisasi diutamakan. Nilai tambah ekonomi dikejar setinggi-tingginya tanpa mengorbankan kenyamanan tempat tinggal rakyat.

Dua-duanya bagus. Dua-duanya bisa bikin rakyat sejahtera.

Hal yang merugikan itu kalau mau dua-duanya sekaligus tanpa prioritas dan tanpa aturan tata ruang yang jelas. Pagi ingin ramah wisatawan, tapi truk kebun lalu lalang di jalan kota bikin debu tebal. Siang bicara kelestarian budaya, sorenya pabrik berdiri asal-asalan di samping rumah warga.

Dampaknya langsung terasa. Program dinas berjalan sendiri-sendiri. Dinas Pariwisata bikin acara, Dinas Perhubungan kewalahan, Dinas PUPR kebingungan menambal jalan, Dinas Lingkungan Hidup pusing mengurusi konflik limbah.

Anggaran yang terbatas itu diiris tipis-tipis. Dibagi rata ke semua tempat. Hasilnya, tidak ada yang benar-benar jadi.

Padahal kalau bicara modal dasar pariwisata, Kuansing ini sebenarnya kaya luar biasa. Punya modal banyak tapi hidup pas-pasan itu menyakitkan. Ibarat orang punya warisan perhiasan di dalam lemari, tapi tiap hari bingung mau makan apa karena kunci lemarinya lupa ditaruh di mana.
Kira-kira begitulah potret Kuansing kalau bicara pariwisata.

Modal dasarnya padahal melimpah. Alam tidak pelit memberi berkah ke tanah ini. Air terjun ada, pemandian air panas ada, danau-danau indah bertebaran di mana-mana.

Lalu, ada satu aset maha dahsyat yang namanya sudah terbang tinggi ke mana-mana: Pacu Jalur. Ini mahakarya kebudayaan yang tiada duanya di muka bumi. Ratusan ribu orang tumpah ruah di gelanggang Tepian Narosa Teluk Kuantan tiap kali dentum meriam karbit berbunyi.Getaran kebanggaannya luar biasa, sorak-sorainya mampu menyatukan hati warga seluruh negeri.

Orang luar kalau melihat daftar aset itu pasti iri. Pikir mereka, Kuansing ini tinggal petik hasilnya saja. Tinggal poles sedikit, orang bakal berbondong-bondong datang membawa uang.

Tapi kenyataan di lapangan beda cerita. Aset-aset hebat itu lebih sering dibiarkan merana begitu pesta usai. Bahkan saat pesta berlangsung pun, tata kelolanya masih terasa semrawut.

Biaya parkir mendadak melambung selangit tanpa kendali. Sewa lapak pedagang dipatok mahal tapi fasilitas tak sepadan. Pengunjung kapok karena merasa diperas, pelaku usaha dan UMKM menjerit karena sepi pembeli akibat harga sewa yang mencekik.

Niat hati ingin memanen rezeki, yang tersisa justru umpatan kekecewaan dari orang-orang yang datang jauh-jauh ke Kuansing.

Coba tengok Bali. Padahal modal utamanya pantai. Tapi ribuan wisatawan asing dari seluruh penjuru dunia tiap hari memadati tanah Dewata. Dan uniknya, tarif parkir di sana tetap ramah di kantong, Rp2.000 saja. Karena orang Bali tahu betul: pariwisata itu bukan tentang memeras wisatawan di pintu masuk, melainkan tentang membuat mereka merasa nyaman, betah, belanja banyak, dan ingin balik lagi bulan depan.

Para pengamat pariwisata menyentil kondisi Kuansing ini dengan lugas. Pariwisata yang cuma mengandalkan festival tahunan tanpa pembenahan tata kelola dan pelayanan publik di lapangan ibarat menggelar karpet merah di atas tanah berlumpur. Orang datang karena penasaran, lalu pulang membawa kekecewaan dan berjanji tak akan kembali.

Di Kuansing, Pacu Jalur yang begitu dahsyat kerap cuma diperlakukan sebagai ajang "mungut uang mendadak" setahun sekali. Begitu dayung terakhir diangkat dan juara diumumkan, gemuruhnya langsung reda. Usai pesta, Teluk Kuantan kembali sepi, UMKM kembali gigit jari, dan ekonomi warga seperti kembali ke titik nol.

Lihat juga Danau Kebun Nopi. Aset di sana bernilai fantastis, hampir triliunan rupiah. Bangunan-bangunan megah sudah berdiri gagah di tepi danau. Tapi apa yang terjadi setelahnya? Bangunan megah itu tetap saja dingin, sepi, dan gagal bernapas sebagai pusat perekonomian baru.

Air terjun dibiarkan tersembunyi tanpa akses jalan yang layak. Pemandian air panas dibiarkan kumuh tanpa fasilitas pendukung yang bersih. Danau-danau cantik cuma jadi tempat penampungan air biasa, padahal kalau dikelola dengan sentuhan profesional bisa jadi pusat rekreasi keluarga yang luar biasa.

Penyebab utamanya balik lagi ke soal fokus dan tata kelola. Pemerintah daerah selama ini terbiasa bekerja secara rutinitas. Anggaran pariwisata habis untuk acara seremonial tahunan tanpa menata regulasi pendukung. Tarif parkir dibiarkan liar, retribusi lapak dipatok tanpa aturan yang jelas, dan kenyamanan pengunjung diabaikan.

Para akademisi dan pengamat ekonomi daerah sependapat. Membangun gedung megah atau menggelar festival besar itu gampang, asal ada uangnya. Tapi menghidupkan roh industri yang teratur dan ramah lingkungan atau industri pariwisata yang berkelanjutan di luar hari H itu yang butuh keahlian.

Tanpa ekosistem yang terintegrasi dan regulasi Perda yang ketat, Pacu Jalur cuma jadi pesta sepekan yang menyisakan kekecewaan, dan bangunan bernilai ratusan miliar cuma berakhir jadi monumen beton penyimpan debu.

Tidak ada desain besar. Tidak ada keberanian untuk menertibkan oknum-oknum yang merusak nama baik daerah. Pembangunan daerah itu bukan cuma soal mengobral izin atau memajang pesta budaya lima hari. Ini soal kepastian aturan. Isinya tentang kenyamanan warga, kepastian hukum investor, tata ruang yang rapi, akses jalan, hingga kepastian harga yang dinikmati masyarakat luas dari Januari sampai Desember.

Masyarakat dan pelaku usaha butuh kejelasan. Kalau mau industri, siapkan kawasannya dengan Perda yang kuat agar warga tidak jadi korban asap dan limbah. Kalau mau pariwisata, benahi fasilitas dan tertibkan oknum parkir serta sewa lapak yang ugal-ugalan.

Kalau semuanya dibiarkan semrawut, potensi ekonomi Kuansing cuma akan menguap begitu saja. Orang luar kapok datang, investor ragu menanam modal, dan warga cuma bisa mengurut dada.

Pimpinan daerah ke depan tidak bisa lagi tutup mata. Keputusan tegas dan penertiban regulasi harus diambil. Garis utamanya harus ditetapkan. Arahnya dikunci dalam dokumen perencanaan dan Payung Hukum Perda. Lalu dari tingkat dinas sampai ke kantor desa, semua program berkiblat ke titik fokus yang sama: pembangunan yang tertib, terarah, dan profesional.

Menjadikan Kuansing maju itu bukan mimpi muluk. Bahan bakunya sudah komplet di depan mata. Tinggal mau digarap sungguh-sungguh lewat aturan yang jelas atau dibiarkan merana dimakan pembiaran.

Kuncinya cuma dua: fokus dan ketertiban eksekusi. Kalau pariwisata yang dipilih, pilih tiga atau empat destinasi unggulan. Kunci anggarannya di situ. Tetapkan batas atas tarif parkir secara tegas, satukan pengelolaan lapak UMKM agar terjangkau, dan tindak oknum nakal di lapangan. Kemas nilai budaya Pacu Jalur jadi atraksi wisata rutin.

Hidupkan kawasan seperti Danau Kebun Nopi dengan kegiatan berkala. Tapi jika industri yang dipilih, sahkan Perda Kawasan Industri, lokalisir pabrik di satu zona terpadu, dan lindungi pemukiman warga dari pencemaran.

Anak muda umur 27 tahun yang berhasil adalah mereka yang tahu apa kelebihannya, berani membenahi kelemahannya, dan punya aturan hidup yang jelas tanpa plin-plan.

Jangan lagi membiarkan modal berharga ini cuma berakhir jadi ajang keluhan di warung kopi. Umur Kuansing sudah 27 tahun. Saatnya makin matang, makin fokus, makin tertib, dan makin tegas menentukan arah!. (***)