RIAUIN.COM - Bencana kebakaran hutan dan lahan yang memicu kabut asap tebal di Kota Pekanbaru mulai melumpuhkan sektor pendidikan hingga memukul telak iklim bisnis lokal. Selain memaksa aktivitas sekolah diliburkan akibat tingginya risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), krisis udara bersih ini memicu penurunan drastis pada tingkat keterisian kamar hotel di Ibu Kota Provinsi Riau tersebut.
Sebagai daerah yang mengandalkan arus mobilitas bisnis dan transit, penurunan jumlah pendatang ke Pekanbaru langsung berdampak pada anjloknya tingkat okupansi hingga puluhan persen. Hotel Khas Pekanbaru di Jalan Jenderal Sudirman menjadi salah satu lini usaha yang kena dampaknya.
"Kondisi ini mempengaruhi omzet usaha secara langsung karena terjadi penurunan okupansi yang signifikan hingga 30 persen sejak kabut asap melanda," kata Sekretaris Hotel Khas Pekanbaru, Susan Awriza, Jumat (18/9/2026).
Susan Awriza menambahkan, pada hari normal tanpa gangguan asap, okupansi kamar di tempatnya bekerja mampu menembus angka maksimal.
"Saat kondisi normal, tingkat keterisian kamar hotel kami bisa mencapai 100 persen, terutama saat memasuki akhir pekan atau hari libur nasional," tuturnya.
Kini para pelaku usaha perhotelan mendesak langkah cepat pemerintah dan instansi terkait untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Pemulihan kualitas udara dinilai menjadi kunci utama agar iklim pariwisata, kegiatan ruang terbuka, dan roda perekonomian masyarakat dapat kembali bergerak normal. (*)