RIAUIN.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD) Riau mencatat akumulasi luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Riau telah menembus 18.582,90 hektare sejak awal tahun 2026. Angka tersebut bersumber dari sebaran 12.677 titik panas (hotspot) dan 618 titik api (fire spot) yang terdeteksi di 12 kabupaten dan kota.
Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah terdampak terluas dengan kerusakan mencapai 8.454,40 hektare. Disusul Pelalawan seluas 6.640,99 hektare, Indragiri Hilir seluas 1.034,02 hektare, serta Indragiri Hulu seluas 605,02 hektare.
Sementara itu, wilayah Dumai mencatat area terbakar seluas 556,01 hektare, Rokan Hilir 452,53 hektare, Siak 373,06 Ha, Kepulauan Meranti 217,45 hektare, Kampar 141,66 hektare, Pekanbaru 103,33 hektare, Kuantan Singingi 69,87 hektare, dan Rokan Hulu seluas 33,96 hektare.
Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengungkapkan bahwa untuk skala regional Sumatera, jumlah titik panas bahkan telah menyentuh angka puluhan ribu.
"Untuk wilayah Sumatera, total hotspot mencapai 45.775 titik," ujar M Edy Afrizal.
Meski angka akumulasi luasan lahan terbakar tergolong tinggi, kondisi terkini di lapangan menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Kebakaran aktif kini hanya tersisa di tiga kabupaten, yaitu Bengkalis, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir dengan skala api yang relatif kecil.
"Untuk titik karhutla hanya tinggal di tiga daerah saja, yakni Bengkalis, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir. Saat ini juga masih terus dilakukan pemadaman," lanjutnya.
Tim Satgas Karhutla terus memfokuskan tindakan pada proses pendinginan, terutama pada area lahan gambut yang rentan menyimpan bara di bawah permukaan.
"Jadi kita tetap waspada karena upaya penanganan tentu memastikan seluruh sumber api benar-benar padam sehingga tidak menimbulkan kebakaran kembali. Begitu juga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), tetap kami lakukan setiap hari," tegas M Edy Afrizal. (Bil)