Kerahkan Helikopter BNPB, Satgas Udara Riau Incar Titik Api Kerumutan


Jumat, 28 Agustus 2026 - 14:59:03 WIB
Kerahkan Helikopter BNPB, Satgas Udara Riau Incar Titik Api Kerumutan

RIAUIN.COM - Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau kini difokuskan melalui jalur udara karena pasukan darat menghadapi kendala besar di lapangan. Area yang terbakar umumnya berada di kawasan gambut dengan akses jalan dan sumber air yang sangat terbatas.

Kondisi tersebut membuat pengerahan pemadaman dari udara menjadi krusial untuk menjangkau titik api yang terisolasi. Salah satu lokasi yang kini menjadi fokus penanganan utama terletak di kawasan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan. Sebelum menyasar Kerumutan, armada pemadam udara telah menggempur titik api di Pematang Pudu, Samsam Kandis, serta Dayun di Kabupaten Siak.

Kepala Dinas Operasi Lanud Roesmin Nurjadin, Kolonel Andri Setiawan, menjelaskan bahwa empat helikopter bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diturunkan meliputi dua unit MI-8, satu unit Black Hawk, dan satu unit Sikorsky.

"Water bombing ini objektifnya adalah memadamkan api, di mana pasukan darat itu cukup sulit untuk mendapatkan sumber air," kata Kolonel Andri, Jumat (28/8/2026) pagi.

Keterbatasan akses air di darat tertutupi oleh intensitas penerbangan helikopter tersebut. Sejak Riau menetapkan status darurat karhutla pada Februari 2026, armada udara telah merampungkan hampir 163 sorti penerbangan. Durasi satu kali penerbangan mencapai empat hingga empat setengah jam dengan frekuensi pengisian air berkisar antara 30 hingga 100 kali.

"Kalau kita ukur, itu hampir 54.400.000 liter air yang kita deploy ke titik-titik api untuk memadamkan api melalui water bombing ini," ujar Kolonel Andri.

Dengan rata-rata 50 kali pengisian air per sorti, setiap penerbangan mampu menyiramkan hingga 200 ribu liter air langsung ke pusat api. Mengingat efektivitas operasi udara sangat bergantung pada kondisi ketersediaan air terdekat, pihak Satuan Tugas (Satgas) Udara terus berkoordinasi dengan BNPB untuk menambah unit armada, sembari memperhitungkan kebutuhan penanganan di kawasan Kalimantan.

"Kita akan koordinasi terus dengan BNPB agar kita bisa mendapatkan tambahan aset, dengan tetap memperhatikan keadaan-keadaan di Kalimantan," tuturnya.

Operasi pemadaman direncanakan berlangsung hingga akhir November 2026 sesuai dengan proyeksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Di samping upaya penanggulangan, masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun membuang puntung rokok dan sampah sembarangan.

"Jangan ada yang membakar lahan. Membakar sampah pun tolong juga ditahan-tahan, jangan sampai niatnya membakar sampah malah merambat sehingga terjadi kebakaran lahan maupun kebakaran hutan," tegas Kolonel Andri. (*)